Chef Jawara

9th May 2008



Serbuk-serbuk kasar beterbangan dari botol-botol kecil berisi beragam bumbu ke dalam wadah stainless di atas kompor. Oregano, rosemary, biji-biji cabe merah kering dan bumbu-bumbu lainnya. Wangi harum masakan menyeruak ke seluruh ruangan. Topi putih tinggi khas koki bertengger mantap di atas kepalanya, celemek putih besar melindungi bagian depan celana bermotif kotak kotak kecil hitam putih.

Dikibas-kibaskannya satu tangannya di atas asap yang keluar dari cairan kental menggelegak, mengarahkan asap ke hidung lalu dihirupnya dalam-dalam, dahinya sedikit berkenyit. Ah, belum sempurna rupanya. Serbuk-serbuk kasar dari botol sekali lagi menari-menari sebelum jatuh berpadu di atas wadah besar di atas kompor. Diambilnya satu ujung sendok makan cairan kental yang menggelegak itu, sllrrppp, tersenyum puas.    

Tangannya seperti konduktor orkestra yang sedang memainkan lagu-lagu rumit dari patiturnya. Meraih potongan-potongan bahan yang sudah disiapkan oleh salah satu dari 40 orang bawahan di kerajaan kecilnya itu, memasukkan bumbu-bumbu dengan wangi aneka rupa, berkernyit, memasukkan bahan-bahan lain dan senyum selalu terkembang pada akhirnya.. Entah berapa komposisi yang dia hasilkan hari itu.

***

“Kreasi-kreasi terbaru dari Chef Jawara seperti biasa selalu penuh kejutan. Paduan rasa yang beradu lembut dipastikan memanjakan lidah anda” . Begitu ulasan yang tertulis di koran ternama ibu kota pagi ini, untuk yang kesekian kalinya.

Orang-orang pun berdatangan ke restoran besar di ujung jalan itu, ingin menjadi yang pertama merasakan kreasi dari Chef  Jawara. Indra nama aslinya, dari Jawa asalnya. Pemilik restoran di ujung jalan itu memberikan nama Jawara padanya. Biar lebih menjual katanya. Artinya toh  bagus juga, imbuhnya. 

***

Hampir 12 jam setiap harinya chef Jawara berkutat dengan buku-buku resep dan bumbu-bumbu rahasianya. Tiap minggu hasil-hasil kreasi chef Jawara selalu ditunggu para penikmat kuliner ibu kota. Tak jarang pula yang datang dari seberang pulau bahkan negara tetangga. Sang pemilik restoran mengirim chef Jawara berlaga di berbagai kompetisi regional maupun dunia. Kepiawaian chef Jawara berkumandang sampai ke manca negara. Bahan-bahan langsung didatangkan dari negara-negara di Asia, bahkan Eropa. Untuk menghasilkan rasa yang sempurna diperlukan bahan yang juga sempurna, begitu selalu kata chef Jawara. Restoran di ujung jalan itu memperbesar lahannya. Semua karena chef Jawara.

***

“Bisa saya angkat piringnya pak?” kata pelayan restoran itu dengan sopan kepada seorang bapak paruh baya yang masih menyisakan separuh makanan di hadapannya. “O ya ya silakan”. Pelayan itu terheran-heran memperhatikan hidangan yang tidak dihabiskan. Belum pernah ada tamu di restoran itu yang tidak menghabiskan makanan yang dipesan, apalagi lebih dari separuh yang masih tersisa.

“Ada masalah dengan makanan Bapak?” pelayan bertanya menyelidik. “Ah tidak” jawabnya. Tanda tanya besar masih tampak di raut muka pelayan. Dengan segan bapak itu menjawab, “Saya pikir nasi goreng di sini lebih enak daripada restoran kecil di seberang sana, ternyata. …”.

“Maksud bapak? “pelayan itu bertambah bingung. “Ah sudahlah, mungkin saya saja yang sedang tidak enak badan” kata bapak itu mengalihkan pembicaraan. Tidak lama kemudian bapak itu membayar dan  keluar restoran.

***

Sungguh Chef Jawara tak percaya dengan cerita yang disampaikan oleh pelayan mengenai bapak paruh baya dan komentar nasi goreng kreasinya. Pada pukul 3 sore, saat pengunjung tak terlalu memadati restoran, chef Jawara mencari restoran kecil yang diceritakan oleh bapak paruh baya.

Aha, itu dia. Dilihatnya satu restoran kecil yang tidak sebanding dengan bangunan-bangunan megah di sebelahnya. Memasuki pintunya, chef Jawara terkesan dengan suasana yang seketika menyergap dirinya. Orang-orang berdiskusi ringan, tertawa, wajah-wajah penuh senyum dan sukacita. Dipilihnya satu tempat duduk kosong di sudut, dimana ia bisa memperhatikan dengan leluasa.

Tidak lama seorang lelaki muda datang menanyakan pesanannya. Satu piring nasi goreng dan satu gelas es teh, dengan irisan jeruk nipis. Meja, kursi dan interior restoran ini jauh lebih sederhana dari restoran tempatnya bekerja. Bahkan chef Jawara melihat beberapa bagian yang sudah termakan usia. Tapi kenapa, ah, dirinya merasa begitu nyaman dan tenang? Tidak ada ketergesaan, tidak ada kegelisahan, Semua begitu menyenangkan.

Satu piring nasi goreng hadir di hadapannya. “Silakan mas. Kalau perlu tambahan yang lain, panggil saja saya. Nama saya Minta. Suminta tepatnya”. Chef Jawara mengucap terima kasih kepada mas Minta, memandang piring di hadapannya, siap menyendokkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya.

O la la. Lidahnya berdansa. Belum pernah dia makan nasi goreng dengan kombinasi racikan yang tepat seperti ini. “C’est magnifique” mungkin akan begitu komentar gurunya semasa ia menimba ilmu dulu, di suatu sekolah kuliner ternama di Perancis. Chef Jawara menganalisa satu persatu rasa yang menyentuh di sudut-sudut lidahnya. Tidak ditemukan bahan yang tidak dikenalinya. Tapi, ah, kenapa semua terasa begitu sempurna?

Kembali diperhatikannya orang-orang yang sedang menikmati hidangannya. Wajah-wajah mereka begitu bahagia. Pertanyaan terus mengikuti pikirannya. Bagaimana bisa nasi goreng itu begitu berbeda? “Aku akan datang lagi besok” chef Jawara berkata pada dirinya.

Dicobanya semua menu yang ditawarkan restoran kecil itu. Tak ada yang lolos dari penilaiannya. Semua tepat tertakar. Dibuatnya semua makanan ala restoran kecil itu di dapur raksasanya. Dicobanya. “Enak sekali chef” begitu komentar semua bawahannya, juga para langganannya. Tapi senyum mengembang belum terpasang di wajah chef Jawara. Ah, aku harus mencari tahu rahasianya!   

***

“Selamat malam mas Indra”, mas Minta menyambut dan mengarahkannya ke meja kecil di sudut. “Favourite spot mas Indra toh?” mas Minta tersenyum dan menyilakan chef Jawara duduk.

“Saya pesan chicken parmigiana saja mas”. Tanpa membuka menu yang disodorkan mas Minta. “Dan es teh manis dengan perasan jeruk nipis”. Mas Minta menuliskan pesanan chef Jawara dan berjalan ke arah dapur.

Chicken parmigiana habis tandas dinikmati oleh chef Jawara. Kali ini aku harus bertanya pada mas Minta, tekad chef Jawara. Dengan sedikit basa basi ringan, chef Jawara menanyakan  siapakah gerangan chef di restoran itu, yang berhasil meracik bumbu-bumbu dengan takaran sempurna.

Mas Minta hanya tertawa, kami tidak memakai chef professional seperti anda mas Indra. Wajah chef Jawara seperti terkena uap panas, merah semburat menelusuri kulit wajah. Rupanya mas Minta selama ini tahu kalau dia adalah chef Jawara.

Sebentar saya panggilkan juru masak kami. Tak sadar Chef Jawara merasa cemas di tempat duduknya. Seperti apakah rupa orang yang berhasil memadupadankan semua cita rasa dengan seksama itu? Lulusan sekolah kuliner manakah dia? Dari negeri sendiri, Singapore, Australia atau Eropa seperti dirinya?

Mas Minta datang kembali dengan didampingi seorang perempuan berumur di penghujung 40, garis kecantikan masih tergurat tajam di wajahnya, mengenakan celemek dan bandana putih bercorak sebagai pengganti topi chef di kepalanya.

Chef Jawara tak bisa menyembunyikan keterjutannya. “Ini dia chef kami, mama tercinta saya” mas Minta memperkenalkan perempuan yang membalas jabat tangan chef Jawara dengan hangat. “Suatu kehormatan berkenalan langsung dengan orang seperti anda, chef Jawara. Saya Leli”

“Panggil saya Indra, bu Leli. Chef Jawara  hanya julukan yang diberikan orang-orang kepada saya”. Bunyi bel berkliningan di pegangan pintu menandakan tamu-tamu yang berdatangan. Mas Minta meninggalkan mereka berdua.

  Ibu Leli hanya tersenyum ketika chef Jawara menyampaikan kekagumannya. Terlebih ketika chef Jawara menanyakan sekolah kuliner mana yang pernah dimasukinya. “Academy of life” jawabnya, tetap dengan senyumnya. “Saya mencintai memasak sejak kecil. Memasak adalah bagian hidup saya. Gairah saya. Saya tidak punya bumbu rahasia apapun yang saya sembunyikan dari pelanggan saya. Saya percaya kalau anda memasak dengan seluruh jiwa anda, maka itu akan terbawa di masakan anda. Para juru masak tak ubahnya seperti pelukis, penulis, atau profesi apapun yang mengandalkan indra-indra perasa. Bagaimana bisa kita menghasilkan sesuatu yang sempurna bila kita tidak berhasil membuat semua indra bekerja sama dengan indahnya?”

Chef Jawara tercenung, perbincangan panjang dengan chef Leli membuka cakrawala baru baginya. Sebagai istri mantan seorang diplomat yang ditugaskan ke manca negara, chef  Leli selalu  mengeksplorasi semua hidangan khas di setiap negara, mempelajari semua bumbunya juga sejarahnya. “Saya mencuri ilmu dari ibu-ibu rumah tangga di tiap negara”, katanya berbagi rahasia.

“Pernahkah nak Indra berpikir apa yang menyebabkan seorang anak selalu kangen masakan ibunya? Padahal anak tersebut sudah menjadi seorang petinggi atau pejabat yang memungkinkannya membeli hidangan apapun  yang ditawarkan dunia?” Chef Jawara terdiam.

“Cinta, nak Indra. Itu jawabnya. Seorang  Ibu betapapun letihnya, tidak pernah melupakan cinta dalam masakannya. Sesederhana apapun bahan yang dimasaknya”. Ya, chef Jawara teringat semur daging, sambal goreng ati dan tempe penyet pedas buatan ibunya yang selalu menjadi favoritnya.  

*** 

Hampir satu dasawarsa chef Jawara malang melintang di jagad kuliner, tak terhitung jenis masakan yang dikuasainya. Tuntutan atasan dan pelanggan membuat semuanya hanya menjadi ritual rutin semata. Tak ada waktu tersisa untuk mencicipi dan menikmati kreasi para maestro lainnya. Perdebatan seru dan hangat di sudut-sudut resto bersama rekan seprofesi mengenai komposisi, pengolahan dan penyajian suatu hidangan sudah lama tak ia lakukan. Kegemarannya menelusuri kedai, resto, cafe di pelosok  Indonesia dan dunia untuk menemukan rahasia-rahasia di balik suatu hidangan pun sudah lama sekali tak teragendakan.

Tidak bisa diingatnya kapan terakhir ia merasakan kehadiran gairah dan cinta pada saat dirinya berkutat dengan berbagai alat, bahan dan bumbu-bumbu segala rupa di kerajaan kecilnya.  Dia teringat lagi percakapan dengan chef Leli yang dikaguminya. Chef Jawara mengerti sekarang. Dia harus menemukan kembali gairahnya yang menyelinap pergi entah kemana.

 

Untuk ibuku dan ibu-ibu muda temanku!

 


 



18 Comments to “Chef Jawara”


Pauln

ahhh ceritanya menyenangkan, comfort your heart and soul. I love it , i love it.

erikahahaha : thanks soooo much


Moi

BRAVO…….canggih ci…simple tp berisi…..BRAVO

erikahahaha : makasih ..makasih … :)


jo-e

@atas gw, setuju bgt! sama sekali jauh dari obat anti depresi dan pereda asam lambung :p


cahkampoeng

Bagus sih…tapi endingnya kok kurang jelas yah.,?!
Maksudnya bapak tua yang nyobain masakan direstonya chef jawara itu kamana?
Padahal azaz pradugakoe kan yang juru masaknya mas Minta itu bapak tua itu…eh.,..ternyata mamanya.
But..biar bagaimanapun masakan Ibu emang gak ada duanya….

erikahahaha : bapak tuane ya tambahan karakter wae tho jeung…tapi, matur suwun sanget lho komen e


dayou

bagus banget, ngingetin kita manusia, tidak boleh sombong, tidak blh memandang rendah sesuatu, dan cinta………terutama pada ibunda kita hiks..terharu looh aku bacanya……………

erikahahaha : tapi ga sampe nangis kan? masa ada yg sampe menitikkan air mata lho …. (piiiisss ubi!)


itski

pan sayah udah bilang…ini mah paporit sayah…

erikahahaha : senangnya sayah … :)


Jatem

Ciamik….sangat menyentuh, membuat ku teringat di masa kecil ku….

erikahahaha : tenan e ? ndak ngapusi tho?


pite

bagus ceritanya cuman udah terkuras duluan nih emosi di lakon ama lelakiku jadi si mas minta udah ga selegit dua cerpen pendahulu cieehh sok mereview..huhuuhuuu..mana lagi m win??dah ga sabar niy

erikahahaha : tenang ..tenang…lagi semedi …


cantee

Ya rock!!! (cieee kayak abg bule aja). Ya right boooo….mom is always the best!!!!
I ga nyangka orang yang pernah interview I di Planet Hollywood ini ternyata jawara nulis juga. Selain jawara bikin churros ya boooo…..Bagi yg blum tauk “The Author”…She’s a multitalented person

erikahahaha : jeung ini ..paling bissaaa d


soegeng

Mantap, makin oke aja tulisan jeng eri ini, makin mateng kayak telor ceplok
kita tunggu cerita selanjutnya

erikahahaha : makasi bos! pasti, pasti akan saya posting lagi! :)


uchie

Andai saya bisa menjadi seperti Ibu Leli,….ihiks,…terharu saya…

erikahahaha : pasti bisa jeung, itu kan naluri seorang ibu, percaya d *sok serius mode on*


sastro gembul

jempol dua!!!…

erikahahaha : sekali lagi, suwun mbah …


Helen

Muanteeebbb WIn & dalem tapi setubuh….masak emang harus dari jiwa utk mengikat suami, mengikat suami,mengikat suami, mengikat anak (halaaaah….jadi ngaco ya hehehe)

erikahahaha : Hi Helen. Aduh makasih sekali saya dimampiri, dikasi komen lagi. Thank you thank you. Jangan bosen mampir yooo


Ros@

TeOPe bgt sih!! ceritanya bisa meyadarkanku (hehe yg sok sibuk n males mkn di rumah), jd pengen pulang trus mkn masakan nyokap nich.
Ayo donk mba bikin novelnya….pokok’e kl smp terbit aku mo beli selusin trus ku jualin deh di kereta :)

erikahahaha : bener lho yaa…janji lho yaaa ;)


Ding

I want my mommy… Hiks…

erikahahaha : yaaaa :(


Sitta

Hikksss…Mbak WIn..jadi pengen muliiiihhh
Kangen rawon ama tahu tek emakku.
Duh,berapa bulan ga pulang nih???

Di Depok mana ada tahu tek yaaaa??
Cingur juga ga ada, huahahaaaa
Adanya J-Co ama HokBen. Capee dehhh..

erikahahaha : eh aku mau ke suroboyo lho pertengahan juni. Melu opo? :P


fidaa

Mbak Wien,

waaaaaaaaaah keyeeeeennnnn……juara abis tulisannya…..woooohoooo


handmade soap

Mantap bos infonya..bookmark dolo ahhhh buat future reference. apa coba…

erikahahaha: silakannn :)


Leave a Comment


(will not be published)