Go Jampit!
13th Apr 2010
Java Jampit. Seingat saya, gabungan kata ini pertama kali saya dengar dua tahun lalu, saat mengikuti sebuah acara coffee cupping - suatu cara untuk menilai kualitas kopi dengan melakukan semacam blind test terhadap rasa2 kopi. Sebagai perbandingan, untuk wine istilah yang biasa digunakan adalah wine testing, maka untuk kopi istilah yang digunakan adalah coffee cupping.
Java Jampit. Dari pembawa acara coffee cupping itulah saya tahu bahwa Jampit adalah suatu tempat penghasil kopi arabika terbaik di Jawa.
Saya tidak pernah punya rencana untuk mengunjungi Jampit, sampai suatu siang seorang teman membuzz saya di YM, mengajak saya berlibur ke kawah ijen.
teman: ke kawah ijen yuk, mbak?
saya: ijen? di mana tuh *sambil langsung mengetik kawah ijen di alat pencari google, dan langsung tersenyum senang*
saya: mau mau, ternyata ijen tuh deket dengan jampit, ok count me in!
Dan selama beberapa hari setelah itu sibuklah saya dan teman ini bertanya-tanya dengan om google, bagaimana cara ke sana, di mana tempat penginapan yang bagus, berapa biaya yang harus dikeluarkan, apa yang harus disiapkan dan lain-lain dan lain-lain.
Kawah ijen memang tidak setenar Bromo. Kawasan Jampit pun masih banyak orang yang belum tahu. Alhasil info-info yang kami dapatkan dari internet pun masih simpang siur.
Beberapa info dengan senang hati akan saya bagi di sini, karena sumpah!
meskipun perjalanan ke sana jauh, melelahkan, lama, dan jalannya jelek banget, berbatu-batu sehingga membuat badan rasanya remuk, tapi begitu sampai di Arabica homestay, tempat kami menginap, saya dan ketiga teman perjalananpun langsung berteriak girang. Suhu 18 derajat yang langsung menggoda kulit, kabut yang menyelimuti Gunung Ijen di kejauhan, dan taman yang dipenuhi bunga bak karpet warna-warni menyambut kami.
Untuk mencapai kawasan Jampit-Kalisat yang berada di kabupaten Bondowoso, kami menggunakan bis patas AC dari terminal bis Bungurasih, Surabaya. Satu hal yang perlu diketahui, jadwal bis AC dari Surabaya ke Bondowoso cuma ada dua kali sehari yaitu jam 10.30 dan (kalo ga salah) ada lagi yang sekitar jam 5 sore atau 7 malem (saya lupa). Jadi saran saya, kalau mau mengejar bis yang pagi dari Surabaya ke Bondowoso, harus ambil jadwal pesawat pertama dari Jakarta.
Perjalanan dari Surabaya ke Bondowoso memakan waktu 5 jam, bis berhenti sekali di terminal Probolinggo. Untuk menyambung perjalanan dari Bondowoso ke perkebunan kopi Jampit, cuma ada satu macam kendaraan yaitu angkot dengan jadwal paling siang jam 12an. Karena bis tiba di Bondowoso sudah hampir jam 5 sore, maka tidak ada pilihan selain menginap satu malam di Bondowoso.
Kami menginap di hotel Palm, sepertinya hotel paling bagus di kota ini.
Ah ya, tentu saja kalau tidak mau menggunakan kendaraan umum, bisa menyewa kendaraan dari Surabaya ke Bondowoso, atau langsung ke Jampit.
Lebih enak berangkat pagi-pagi dari Bondowoso menuju Jampit/Kalisat, supaya tiba di Jampit homestay tidak terlalu sore. Bondowoso - Jampit +/- 3 jam. Sekedar mengingatkan lagi, jalanannya jelek banget.
Angkot berhenti persis di depan Arabica Home Stay. Untuk informasi, ada beberapa pilihan penginapan di daerah ini. Semua berlokasi di dalam area PTPN XII. Ada Arabica homestay, Catimor dan Strawberry Homestay. Kami memilih Arabica homestay karena penginapan ini mempunyai view yang paling menyenangkan, gunung ijen dan taman penuh bunga2 dari teras depan, sedang teras belakang bisa melihat pegunungan lain yang tertutup kabut.

Yang paling bagus sih sebenarnya Jampit guest house, tapi tentu saja harganya beda. Guest house ini harus disewa secara keseluruhan (satu villa), isinya 5 kamar, ada perapian, dapur dan halaman yang cantik. Guest house ini merupakan peninggalan Belanda, keren banget. *ada harga ada rupa
*
Kawah ijen
Dengan menyewa mobil, kawasan Ijen bisa ditempuh selama hampir 1 jam dari Jampit. Puncak kawah ijen bisa dicapai dengan berjalan menanjak selama 1-1,5 jam (tergantung kecepatan jalan hehehe). Jarak dari bawah ke puncak = 3 km. Di perjalanan ke kawah, dipastikan akan bertemu dengan “penambang” belerang yang membawa sekitar 30 kg (!) batu belerang dengan cara memanggulnya di pundak. Saya yang menyerah di kilometer 1,5 hanya bisa terbelalak kagum dengan bapak-bapak penambang yang dengan tenang membawa beban belerang di bahunya.


Perkebunan kopi Belawan
Masih dengan mengendarai mobil sewaan, kami melanjutkan ke perkebunan kopi Belawan yang bersebelahan dengan Jampit. Jampit mempunyai luas hampir 2000 hektar, sedang belawan sekitar 1000 hektar. Di sini kami menyempatkan untuk melihat peternakan Luwak. Di Jampit terdapat 100 ekor luwak yang diternakkan dan menghasilkan hampir dua ton kopi luwak setiap tahunnya. Oya, berhubung bulan ini biji2 kopi belum matang, maka luwak-luwak ini hanya diberikan pepaya. Mulai bulan Mei nanti (saat mulai musim panen), maka luwak2 ini di”cekoki” biji2 kopi satu kilo per hari.

Air terjun Belawan
Di kawasan Belawan ini, ada air terjun yang merupakan tempat pembuangan air dari kawah ijen yang banyak mengandung belerang. Tidak seperti air terjun pada umumnya di mana kita bisa mandi2 di bawahnya, air terjun ini hanya bisa dinikmati dari jauh karena dikelilingi tebing yang curam.
Oleh-oleh
Yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh dari daerah ini tentu saja apalagi kalau bukan kopi arabika java jampit yang dijual di penginapan. Selain itu ada juga kopi luwak dengan harga yang cukup berbeda dengan harga di Jakarta (ya iyalaahh).
Yang agak mengejutkan buat saya, ternyata perkebunan Jampit juga menghasilkan kacang macadamia. Kami beli yang mentah dengan harga Rp 80.000/kg.
Ada juga dodol stroberi, selai stroberi dan buah stroberi segar yang dijual di restoran penginapan. Satu pak stroberi 10ribu rupiah saja
Hal yang harus disiapkan
Berhubung kawasan ini jauh dari mana-mana, lebih baik kalau menyiapkan banyak cemilan. Apalagi udara dingin yang membuat gigi geraham kepingin terus aktif bergerak
Suhu udara saat saya dan teman2 datang, berkisar antara 14-18 derajat. Kami diberitahu bahwa Agustus adalah bulan dengan suhu terendah, bisa mencapai 3-10. Bahkan pernah di bawah 0. Wuih, ngebayang pasti asik sekali (saya suka udara dingin)
Biaya-biaya
Tiket patas AC Surabaya - Bondowoso atau sebaliknya = Rp. 43.000
Tiket ekonomi Surabaya - Bondowoso (tanpa AC) atau sebaliknya = 27.000
Tiket angkot Bondowoso - Jampit = Rp. 15.000-20.000 (tergantung banyaknya bawaan/tas)
Sewa mobil ke kawah ijen = Rp. 250.000, kalau dilanjutkan dengan ke Belawan menjadi Rp. 300.000
Tiket masuk ke kawah ijen = Rp. 3500/org, ditambah asuransi Rp. 500
Arabica homestay: 125.000-175.000/malam, tergantung jenis kamar.
Transportasi kembali ke Surabaya
Dari Jampit/Kalisat, angkot berangkat dari jam 6 pagi sampai 7 pagi. Karena ini satu2nya moda transportasi yang tersedia untuk kembali ke Bondowoso, pastikan untuk sudah siap pagi2 betul supaya tidak tertinggal angkutan.
Salah satu pengurus di Arabica homestay (Ibu Minarsih) sangat helpful. Ia menawarkan untuk menelpon supir angkot sehingga pagi2 angkot tersebut menjemput kita di penginapan.
Bis patas AC dari Bondowoso hanya ada 2 jadwal : jam 3.20 pagi dan jam 15.00. Kalau bis ekonomi alias tidak AC masih ada beberapa jadwal, tapi pilihan akan lebih banyak tersedia di terminal Besuki. Jadi kami akhirnya memutuskan naik bis ekonomi dari Bondowoso ke Besuki dan bukannya menunggu bis ekonomi dari Bondowoso. Dari situ bisa menyambung dengan bis AC ke Surabaya.
thanks to irev chaniago buat foto kawah ijen dan penambang belerang
9 Comments to “Go Jampit!”
feedaatje
kalau gak punya uang tp pengen bergaya dengan long coatnya yg dipakai buat winter datang saja ke Jampit bulan Agustus hihihihihi…
erikahahaha : hahaha, ngebayang bawa2 long coat naik angkot ;
melda
mbak tempat qta nginap itu bukannya arabica homestay ????
erikahahaha: hwaaa iya iya, oke aku ganti. Thanks ^-^
Pu3
Penulis yg berbakat dgn gaya ringan tp jelas jg menarik,siapa sih dia?
erikahahaha: hihihi, bisa aja jij. ina inaaaaa
Sitta
hmmm.. nungguin kopinya.. ;p
erikahahaha: siippp
Isaac黃光
kasihan luwak’ na,…:)
erikahahaha: iya ya, dicekokin biji kopi sebanyak itu …
yohanes
boleh nggak minta info tentang penginapan di Jampit. klo ada sih contact person di PTPN XII he..he…rencana mo ke sana. n kebetulan buka blog ini ada info tentang penginapan dekat ijen.Thanxxx
erikahahaha: sudah saya jawab di japri yaaaa
tristi dian
sewa mobil nya untuk berapa jam?berarti pp nya 600 rb an?
erikahahaha: hai tristi! 300 itu dah pp, kira2 untuk 6/7 jam-an deh. Jampit-Ijen pp 2 jam, terus supir akan nunggu di pintu masuk kawah ijen sampe kita turun lagi. Naik/turun ijen sekitar 3-4 jam. Jadi dealnya supir akan nunggu sampai kita turun lagi dr kawah ijen terus anter balik ke penginapan di Jampit. Saya sempet mampir ke Belawan, seingetku jadi akhirnya lebih dari 7 jam deh. Just info, begitu mulai naik ijen, sinyal hp ga ada, baru ada lagi pas udah nyampe di atas kawah
tristi dian
lebih bagus bawa camilan, apa ya disana nda ada yang jual?. Angkotnya cukup aman untuk penumpang perempuan? Ada tips lain untuk single traveller?
erikahahaha: dari penginapan cukup jauh ke warung terdekat, angkot yg lewat penginapan cuma ada dari jam 5 pagi - jam 12an siang. Sy sempet “nyewa” motor security kebun kopi untuk jajan bakso ;). Tapi kalau ndak doyan ngemil sih sebenarnya aman2 aja, karena di penginapan toh bisa mesan makanan (besar). Angkot aman, pasti penuh dr arah bondowoso ke jampit, karena merupakan satu2nya kendaraan umum yg nyampe ke situ, cuma siap2 pantat pegel aja, karena kira2 1 jam sblm sampe jampit jalannya jelek banget
Ijen belum sengetop bromo, jadi nyaman karena cenderung sepi/tenang (tp kl pas panen mungkin rame ya)
tristi dian
wah, kalau angkot balik nya hanya ada pagi, berarti sebelum jam check out kita sudah keluar untuk ngejar angkotnya. Nyampe siang, check in. Langsung jalan2, besok pagi nya langsung pulang. Wah, sayang banget dong. Kalau nda bisa ke ijen, ada tempat lain yang bisa dilihat? Atau nginapnya perlu lebih lama?
erikahahaha: wah, ndak bisa mbak kalo cuma nginep satu malam di sana, at least 2 malam. Karena kalau mau ke ijen harus berangkat pagi2 juga, apalagi kalau mau nguber dapetin sunrise. Kalau aku sih waktu itu jalannya habis subuh. Selain ijen deket situ sih ga ada lagi yg bisa dilihat.
Eh iya, untuk angkot balik ke bondowoso, bisa minta tolong sama reception di penginapan (namanya mbak minarsih) untuk telpon ke supir angkot. Jadi pagi2 supir angkotnya akan jemput ke penginapan