Dua perayaan, satu tanggal
15th Feb 2010
Jam 14:00, Krispy creme, Senayan City
Sepasang anak muda bercengkerama di bangku-bangku empuk bersalur warna hijau teh di sebelah kiriku. Sang perempuan menyuapi potongan donat dengan lumeran coklat di atasnya ke lelaki muda di sebelahnya. Sepasang anak muda tertawa riang. Tak ada beban.
Seorang perempuan dan laki2 muda lain datang, duduk di bangku-bangku empuk bersalur di depanku. Bertukar minuman. “Cobain deh”, begitu kata perempuan. Lelaki muda menyeruput minuman di atas meja. “Enakan punyaku”. Percakapan-percakapan kosong tanpa makna, menggangguku yang nyaris bersenggama dengan novel di hadapanku.
Jam 15:00
Kuputuskan untuk pergi ke lantai 5. Memilih film yang paling dekat jam tayangnya. From Paris with Love, sebuah film dari John Travolta. Tidak terlalu istimewa, tapi berhasil membuatku sedikit tertawa.
Jam 18:00
Teringat untuk membelikan kado untuk seorang sahabat. Satu jam kuhabiskan sebelum akhirnya berjalan ke arah kasir dan menyelesaikan pembayaran. Aku yakin dia pasti suka kadoku, senyum besar akan terpasang di wajahnya.
Jam 19:00
Berusaha mengingat isi kulkas di rumahku: gado2 sisa siang, semangka serta beberapa potong puding strawberry yoghurt yang kubuat Jumat kemarin. Kuputuskan untuk mencari tempat untuk bersantap malam. Not in the mood of fancy food. Mie goreng Jawa di Food Hall, yang ternyata cukup pedas dan berhasil membuat mulas perutku pagi ini.
Jam 19:45
Pertahananku bobol di taksi. Air mengambang hangat di mataku. Hari ini aku cuma pengen sendiri. Teringat seorang sahabat yang selama beberapa tahun terakhir acap kali menghabiskan waktu2 perayaan bersama. Valentine, Natal, Imlek, Lebaran, Idul Adha, 17 Agutusan dan masih banyak lagi. Hampir semua tanggal merah kita rayakan.
Kadang dengan meneguk bercangkir2 teh dan kopi beserta kue2 berselimut gula, bertabur keju, berlapis krim, di sudut sebuah coffee shop ternama, kadang makan malam lengkap di sebuah resto yang kondang dengan kepiawaian chefnya meramu beragam bumbu, kadang buffet dinner di sebuah hotel berbintang. Dan tak jarang pula kami rayakan tanggal-tanggal merah tersebut dengan buffet breakfast, sengaja bangun lebih pagi agar bisa menikmati sosis2 yang selalu kugilai dari dulu, bau harum omelette baru matang yang meruap, roti tawar di mesin pemanggang. Hmmm…..
Tapi kebiasaan kami merayakan tanggal2 merah ini tampaknya harus terhenti. Dan mudah2an hanya sementara. Stroke yang menyerangnya akhir tahun lalu mengharuskannya kembali ke kota kelahirannya, dirawat di sana.
Jam 20:00
Aku memencet nomor yang kuhapal dengan baik di memoriku.
“Happy Chinese New Year n Happy Valentine”. Suaraku kubuat seriang mungkin
“Aku sudah mulai bisa jalan tanpa tongkat sekarang”, begitu dia memulai cerita kondisinya.
………………..
PS : Get well soon, buddy! So we can celebrate the holidays again together, all year around.
5 Comments to “Dua perayaan, satu tanggal”
cha
jd ikut sedih bayangin cerita diatas..
semoga cepet sembuh ya..
utk penulis, jgn kelamaan sedih yaa…semangatttt!!! biar sahabatnya ikutan semangat utk cepet sembuh ^^
cahkampoeng
Ceritanya bikin aku trenyuh….hikshiks…
Masar…harus tetap semangat ya semoga teman seperjuangannya cepet kembali sehat & kembali bisa tertawa riang bersama…
Pu3
Ada waktu dimana kita jenuh, letih, sedih, senang, kecewa, marah, merasa sayang dan disayang.Waktu teruus aja berjalan..tp ternyata memiliki teman yang baik dan penuh kasih membuat kita merasa tidak sendiri dan memutuskan utk bahagia.. Dan itu kamu..happy belated Valentine
eL-Tawa
Ehm.. Penulisan yang sempurna. Sy terasa ikut terbawa cerita. Penulis sekaligus teman yg luar biasa.
Isaac黃光