Hajatan ala Peranakan Tangerang menutup Underground Secret Dining (USD) 2009

18th Dec 2009



Pernah dengar sayur maman? kue doko? kue pisang ayam? telor tebu? ikan masak cheng chuan? Ayam buah keluwak? Sambal gandaria? Sayur godok? Buah jamblang? Kecapi?

Beberapa nama-nama makanan itu cukup asing buat gue. Ada yang pernah sekedar gue dengar tapi ga pernah melihat wujudnya, boro-boro ngerasainnya.

Anyway, nama-nama makanan di atas tadi adalah makanan yang disajikan di Underground Secret Dining 7, yang kali ini mengambil lokasi di Tangerang. Masakan Peranakan pada dasarnya adalah hasil perpaduan antara makanan lokal dengan makanan Cina, yang berarti makanan Peranakan di lokasi yang berbeda di Indonesia melahirkan jenis makanan yang berbeda pula. Nah, masakan peranakan yang ditampilkan USD kali ini adalah Peranakan Tangerang.

USD kali ini memang mirip sebuah hajatan. Mengambil tempat di rumah seorang Cina keturunan (meskipun kami tidak ketemu dengan si empunya rumah), gue memperhatikan salah satu ornamen yang terdapat tepat di atas pintu masuk bagian dalam yaitu satu ikat padi kering yang disematkan ke dinding. Satu kelompok orkes gambang kromong pun menghibur kita sepanjang siang itu.

Seperti biasa, USD selalu dibuat sesuai jadwal. Hanya beberapa menit lewat dari jam 12, si empunya hajatan, yang diwakili oleh Lisa langsung membuka acara dengan menjelaskan soal makanan yang siap disantap oleh para USD-ers.

Persis di pintu masuk rumah, dua macam kudapan yang disediakan di atas meja kecil menyambut kita. Kue doko dan kue pisang ayam. Kue doko terbuat dari tepung beras dan santan dengan parutan kelapa muda di dalamnya, dibungkus daun pisang muda kemudian dikukus. Kue doko ini juga merupakan salah satu penganan wajib saat tahun baru Imlek. Yang menarik adalah kue pisang ayam. Di daerah lain ada yang menamakannya nagasari ayam, karena pada dasarnya adonan yang digunakan sama dengan kue nagasari, tetapi tidak menggunakan pisang sebagai isi melainkan suiran ayam. Adonan lembut kue ini seperti meleleh di dalam mulut. Manis dan gurih menghasilkan kombinasi yang ciamik. Nyeesss…

kue pisang ayam dan kue doko di piring belakang

Teriknya matahari Tangerang sama sekali tidak mengganggu gue dan peserta USD lain yang langsung berdiri mengantri di depan meja prasmanan.

Yang pertama gue coba adalah bakso lohwa karena tampilannya yang beda dengan bakso biasa. Resep asli bakso ini menggunakan babi, tapi demi lebih banyaknya para peserta yang bisa ikut mencoba, maka bakso lohwa kali ini menggunakan ayam. Yang membuatnya berbeda karena campuran lohwa ini menggunakan cincangan jamur, wortel dan soun. Jadi berasa kres2 sewaktu digigit. Kuahnya kaldu ayam dengan rasa yang ringan, pas. Gue pun melangkah dengan yakinnya untuk mengambil porsi kedua :D

Berikutnya yang gue nikmati adalah ayam buah kluwak. Kebanyakan dari kita mengenal buah kluwak karena rawon. Padahal ayam buah kluwak ini merupakan menu yang jamak hadir di menu peranakan tangerang dan di beberapa daerah lain. Menado juga punya versinya sendiri, ayam kaloa. Tapi tentu saja versi Menado menggunakan santan dan lebih banyak ragam rempahnya.

Ayam buah kluwak yang gue nikmati siang itu rasanya seperti ayam dengan kuah rawon dengan versi yang lebih lembut, rasa kluwaknya tidak terlalu kuat seperti rawon. Dari hasil googling gue temukan bahwa ada juga yang mengganti ayam ini dengan lele. Lele buah kluwak? hmmm definetely not for me :p

Kenyataannya (sesuai penjelasan Lisa), ayam buah kluwak ini sudah diperkenalkan dan dipromosikan jauh lebih dulu oleh Singapura sebagai salah satu makanan nasional mereka. (indonesia ketinggalan lagiiiii *sigh*)

Sayur maman juga sesuatu yang baru buat gue. Sepertinya (?) daun maman ini lebih jamak dipakai di makanan Malaysia dibanding Indonesia. Alkisah nama maman berasal dari Kemaman (suatu daerah di Trengganu Malaysia), karena banyaknya daun maman yang ditemukan di daerah ini. Rasanya agak sedikit pahit, karena itu dalam pengolahannya biasanya ditambahkan air jeruk dan dicampur dengan ayam atau daging. Sayur maman yang kita nikmati siang itu menggunakan ayam.

sayur manan

Untuk teman makan siang itu disediakan nasi putih dan lontong. Lontong dinikmati dengan sambal godok, sate ayam, ayam kluwak dan sambal gandaria menghasilkan tampilan yang mirip2 lontong cap gomeh.

Sambel godoknya berisi potongan tempe dan telor tebu! Nah ini dia juga baru buat gue. Ada yang menyebutnya terubuk tebu atau bunga tebu, tumbuh dari tanaman sejenis tebu yang kontet (kerdil), berdiameter sekitar 15-20 mm, banyak terdapat di sekitar Bogor, Parung, Serpong dan Tangerang. Katanya sih mudah ditemui di pasar-pasar tradisional di sekitaran Tangerang. Gue baru pertama kali ini melihat dan merasakannya (yang mentah dan hasil olahannya). Rasa mentahnya seperti gabus, kempyus2 :D, tasteless.

telur bambu

Sayang hari itu gue lagi ga kepengen makan ikan, alhasil gue ga nyoba ikan cheng chuan, ikan (gue lupa jenis ikan yang dipake) yang dimasak dengan black bean dan jahe. Sambal gandaria dan sambal tauco melengkapi sajian siang itu. Sambal gandaria dibuat dari campuran buah gandaria yang banyak digunakan di makanan Jawa Barat.

Makanan penutup yang disajikan pun masih satu tema, khas buah yang disajikan dalam pesta di daerah ini. Buah jamblang *aseemmm euy *, kecapi, sawo dan es kelapa.

Seumur2 baru kali ini gue nyobain buah jamblang dan buah kecapi, padahal sering banget gue denger kata2 ini dalam pantun2 betawi.

buah jamblang

buah kecapi buah jamblang

orang bunting minum kelape mude

biar kate pade ngeblelangsak di tangerang

Nyang penting bisa ikutan U eS DeĀ  ;)


 



One Comment to “Hajatan ala Peranakan Tangerang menutup Underground Secret Dining (USD) 2009”


cha

Thanks bgt ya atas liputannya yg detail…hehehe
baru kali ini aku liat buah jamblang…ooo..kaya gitu toh ternyata bentuknya…keren warnanya ungu ^_^


Leave a Comment


(will not be published)