Sepotong siang di depan Pura - menikmati kuliner khas Singaraja
3rd May 2010
Lion City. Begitu clue yang dikirim lewat email untuk acara USD (Underground Secret Dining) bulan ini. Dan seperti biasa, saya dan beberapa teman pun mulai menerka-nerka.
“Kalau bukan Singaparna ya Singaraja,” begitu akhirnya saya dan teman-teman saya berkesimpulan.
OK, memang ternyata tebakan kami benar. Makanan yang disediakan untuk para foodie siang itu adalah makanan khas dari bagian utara Pulau Bali yaitu kota Singaraja.
Tapi toh, tetap saja kami semua (paling tidak saya dan teman2 yang datang ber-12!) tetap merasakan sensasi underground dan secret- nya!
Pilihan tempat yang dipakai untuk acara siang itu sangat menyenangkan.
Kursi-kursi dipasang berjejer-jejer di bawah pohon beringin berukuran raksasa, di depan sebuah warung makanan bali yang berada di samping depan sebuah pura.
Ruangan terbuka, ndak pake pendingin ruangan, hanya hembusan angin (yang kok ya hari itu pas cuaca sedang tidak terlalu panas) ditingkahi bunyi gamelan angklung yang dimainkan seorang beli sambil ngedeprok di salah satu sudut, menemani makan kita siang itu.
Lokasi Pura yang mencil, membuat suasana jadi lebih tenang. Kami pun sempat lupa kalau kami masih ada di salah sudut kota Jakarta yang terkenal akan keribetannya. Jelambar, Grogol! Kurang riweuh apa coba? J
Nyonya rumah acara kali ini namanya adalah Ibu Made, pemilik warung makan Gusti Putu Puja.
Dari obrolan dengan teman2 peserta USDers yang lain, rata-rata tidak menyangka dan sebagian besar tidak tahu *kayanya malah ga ada yang tahu deh
* bahwa ada satu pura besar di daerah Jelambar ini. Yang dikenal oleh orang-orang adalah pura yang berlokasi di Rawamangun. Di sana juga ada warung makan yang menjual nasi rames bali, seperti kepunyaan Ibu Made ini.
Salah satu sobat saya sempat bicara dengan Ibu Made. Bu Made menceritakan bahwa warung makannya ini sudah dikelola oleh generasi ke 2. Orang tuanya lah yang pertama kali membuka warung ini tidak lama setelah kedatangan mereka tahun 1978 ke Jakarta.
Untuk informasi, warung makan ini buka setiap akhir pekan kedua, ketiga, dan keempat dan tutup di minggu pertama. Jadi buat kalian yang kangen sama nasi campur bali, langsung meluncur aja ke sini. Oh iya, karena ini warung nasi campur bali, tentu saja tersedia menu non halal ;). Tapi khusus untuk USD kali ini, menu yang disajikan halal semua.
OK, sekarang beralih ke makanan yang disiapkan oleh Ibu Made.
Yang pertama ditawarkan kepada para USDers yang datang adalah lepet pisang. Yang bikin unik adalah kalau lepet biasanya isinya adalah kacang tolo, kalau lepet khas singaraja ini isinya pisang. Ketannya legit, bertemu dengan pisang yg manis …nyessss. Uenak. (ini favorit saya di USD kali ini selain es cincaunya)

Untuk makanan, saya memulai dengan sayur runis yaitu sayur nangka muda kuah bening dengan isi kacang rusin. Kacang rusin bentuknya seperti black bean, tapi lebih kecil dan rasanya renyah, kres kres. Menurut Ibu Made, dia tidak bisa mendapatkan kacang itu di Jakarta, kacang itu dikirim dari Bali, lebih tepatnya, dari Singaraja.
Kemudian untuk menemani nasi putih, saya pun mengambil ikan panggang kuah kemiri (ikan tongkol), tum sapi (semacam botok kalau di makanan jawa, dengan isi daging sapi), ayam suwir bumbu sereh, rambanan (ayam suwir dengan rempah yang dimasak dengan kuah kental dari tepung beras), abon sapi (memakan waktu dua hari untuk buat abon sapi ini supaya terasa garing, dan hanya beberapa menit untuk menghabiskannya he3), dan yang terakhir (dan paling juara!) adalah sambal terasinya! Sambal terasi bu made ini khas sekali, karena tidak diulek, tapi menggunakan cabe potong. Yang paling awal habis adalah sambal ini. Ternyata para USDers, banyak yang gila cabe hehehe


Begitu selesai makan, saya langsung berdiri siap mengantri di dekat meja makanan penutup. Di situ disediakan es daluman yang harus kita racik sendiri sesuai selera. Es daluman merupakan kombinasi dari cincau hijau, kelapa bakar sebagai pengganti santan (ini yang bikin rasanya jadi unik), remukan es batu dan leleran gula aren yang dicairkan. Hmmmm. Entah karena suasananya yang menyenangkan, entah karena saya penggila segala makanan/minuman yang menggunakan gula aren/gula jawa, entah karena masih lapar (? hahaha), saya pun mengantri lagi untuk gelas yang kedua!
Buat saya, USD kali ini adalah one of the Underground Secret Dining events I enjoy the most. Mengutip status teman saya, Wahyu, yang baru pertama kali ikut USD di twitternya - That’s why they called it underground secret dining: exotic ambience, enthusiatic crowd, n educated me about our lovely Indonesian culinary heritage.
Tidak beda dengan teman saya tadi, USD buat saya bukan sekedar acara makan-makan, dan ajang ketemu orang-orang dengan passion yang sama. USD juga berarti tahu lebih banyak tentang Jakarta! Kalau bukan karena USD, belum tentu kalian tahu ada pura bali besar di daerah Jelambar dengan warung nasi di depannya yang menjual salah satu nasi campur bali dengan rasa otentik di Jakarta kan? ![]()