30th Dec 2009
Setelah hampir 30 tahun bersarang, hari ini gue (with my younger sis) memindahkan “sarang” kita ke sisi lain Jakarta (masih di sekitaran barat juga sih).
Doain ya, supaya tempat berlindung baru ini menjadi tempat yang berkah dan bikin betah 
5 Comments
29th Dec 2009
Salah satu alasan gue pergi ke Trenggalek, sebuah kota kecil di Jawa Timur belum lama ini sebenarnya karena mau menghadiri khitanan keponakan.
Ternyata acara sunatan di daerah cukup “meriah” dan “unik”, paling tidak menurut gue yang besar di ibu kota.
Ketika semua undangan sudah hadir, sambil duduk lesehan doa2 pun mulai dipanjatkan, mendoakan kesehatan dan segala hal yang baik untuk yang dikhitan. Seselesainya, pemimpin acara meminta yang dikhitan untuk meminum air kembang beberapa teguk (gambar: mangkok warna pink yang berisi daun, kembang dan tebu). Setelah itu, ibunda dari yang dikhitan juga diminta untuk meminum air tersebut sebelum akhirnya daun2 dan bunga2 tersebut dibuang di jalan depan rumah.

Kemudian, tampah dan wadah berisi beragam makanan dikeluarkan. Beberapa undangan yang mendapat ‘tugas’ membagi isi tampah itu pun mulai melakukan kerjanya.
Tampah pertama berisi beberapa ekor ayam panggang, yang kemudian dipotong-potong menggunakan tangan (menurut aturannya tidak diperkenankan menggunakan pisau). Wadah berikutnya berisi campuran nasi kuning dan nasi gurih (nasi uduk). Tampah2 lain isinya lauk2 nasi tersebut, kue2 dan cemilan. Dengan menggunakan kombinasi isi tampah dan wadah2 ini, dibuatlah nasi bungkus lengkap dengan cemilannya dan diberikan kepada setiap orang yang hadir untuk dibawa pulang. Dulu sih untuk membuat nasi bungkus ini pake daun pisang, sekarang sudah diganti dengan kertas.


Selain nasi bungkus, setiap undangan juga mendapat bingkisan berupa rantangan yang isinya juga makanan dan kue2.

Hal lain yang lucu (? hehe) menurut gue adalah bentuk kue apemnya, kenapa dibentuk seperti itu ya? hihihi
2 Comments
26th Dec 2009
Banyak orang mungkin belum pernah mendengar nama kota di Jawa Timur ini. Well, I my self, might never think of visiting this town if not because of my eldest sister who has been living here for years. (she runs a business here)
Anyway, seperti biasa setiap gue pergi ke suatu daerah, gue pasti menyempatkan (baca: bela2in) nyobain makanan khasnya.
Nasi pecel
Nasi pecel ga mungkin lepas dari makanan sehari-hari orang Jawa, khususnya Jawa Timur. Biasanya bumbu pecelnya relatif pedas dan yang jelas freshly made everyday. Masing-masing daerah di jawa punya kekhasannya sendiri soal campuran daun-daun yang digunakan dalam nasi pecel ini. Nah, kombinasi sayuran yang dipake di satu resto pecel paling ternama di kota ini adalah : rebusan daun kenikir, kecambah (toge kecil), irisan timun dan pucuk daun kemangi. Peyek kacang sudah pasti jadi gandengannya. Di resto pecel yang gue coba ini (mereka buka dari jam 6 pagi! sampe sekitar jam 2 siang), juga dijual ayam goreng kremesan buat padanannya. Wuih…ayam kremesnya nyeeesss. Setiap pagi gue udah pasti ribut minta dibeliin nasi pecel lengkap ini buat sarapan

Nasi pecel gunung
Di pagi kedua, gue minta dibelikan pecel yang dijual di daerah pegunungan trenggalek, kira2 berjarak 30 menit dari kota dengan mengendarai motor. Beberapa orang mungkin berkomentar lah pecel ya pecel lah, di mana2 sama. Wuih itu salah besar coy
. Pecel gunung yang gue nikmati di pagi hari ini bumbunya lebih medok, lebih pedas, lebih kental. Sayuran yang dipakai hanya bayam dan tauge. Padanannya lagi2 peyek kacang. Di sini ndak ada ayam gorengnya. Teman makan lainnya ada tempe goreng, tahu goreng dan telor asin.
Nagi geghok
Ini nasi khas masyarakat pegunungan sini. Nasi dengan taburan oseng teri pedas di atasnya kemudian dikukus. Mirip seperti arem2. Pedasnya mak jooosss, mantab. Pasangannya perkedel tahu.

Nasi pindang
Ini juga biasa tersedia di depot2 (resto kecil) di kota ini. Istilah pindang bisa jadi sangat berbeda pengertiannya di daerah yang berbeda di Indonesia. Pindang palembang berarti ikan patin atau iga dengan kuah bening asam2 pedas. Di jawa Timur, pindang berarti daging dengan kuah rawon (yang berarti menggunakan kluwak), tetapi ditambahkan banyak cabe rawit utuh. Kalau memesan nasi pindang maka biasanya penyajiannya ditambah dengan serundeng. Yum yum.

Besok gue masih mau hunting nasi lodho. Kabarnya nasi lodho yang juara rasanya letaknya di perbatasan trenggalek dan tulungagung. Hmmm mudah2an masih sempet mampir ah 
1 Comment
18th Dec 2009
Pernah dengar sayur maman? kue doko? kue pisang ayam? telor tebu? ikan masak cheng chuan? Ayam buah keluwak? Sambal gandaria? Sayur godok? Buah jamblang? Kecapi?
Beberapa nama-nama makanan itu cukup asing buat gue. Ada yang pernah sekedar gue dengar tapi ga pernah melihat wujudnya, boro-boro ngerasainnya.
Anyway, nama-nama makanan di atas tadi adalah makanan yang disajikan di Underground Secret Dining 7, yang kali ini mengambil lokasi di Tangerang. Masakan Peranakan pada dasarnya adalah hasil perpaduan antara makanan lokal dengan makanan Cina, yang berarti makanan Peranakan di lokasi yang berbeda di Indonesia melahirkan jenis makanan yang berbeda pula. Nah, masakan peranakan yang ditampilkan USD kali ini adalah Peranakan Tangerang.
USD kali ini memang mirip sebuah hajatan. Mengambil tempat di rumah seorang Cina keturunan (meskipun kami tidak ketemu dengan si empunya rumah), gue memperhatikan salah satu ornamen yang terdapat tepat di atas pintu masuk bagian dalam yaitu satu ikat padi kering yang disematkan ke dinding. Satu kelompok orkes gambang kromong pun menghibur kita sepanjang siang itu.
Seperti biasa, USD selalu dibuat sesuai jadwal. Hanya beberapa menit lewat dari jam 12, si empunya hajatan, yang diwakili oleh Lisa langsung membuka acara dengan menjelaskan soal makanan yang siap disantap oleh para USD-ers.
Persis di pintu masuk rumah, dua macam kudapan yang disediakan di atas meja kecil menyambut kita. Kue doko dan kue pisang ayam. Kue doko terbuat dari tepung beras dan santan dengan parutan kelapa muda di dalamnya, dibungkus daun pisang muda kemudian dikukus. Kue doko ini juga merupakan salah satu penganan wajib saat tahun baru Imlek. Yang menarik adalah kue pisang ayam. Di daerah lain ada yang menamakannya nagasari ayam, karena pada dasarnya adonan yang digunakan sama dengan kue nagasari, tetapi tidak menggunakan pisang sebagai isi melainkan suiran ayam. Adonan lembut kue ini seperti meleleh di dalam mulut. Manis dan gurih menghasilkan kombinasi yang ciamik. Nyeesss…
kue pisang ayam dan kue doko di piring belakang
Teriknya matahari Tangerang sama sekali tidak mengganggu gue dan peserta USD lain yang langsung berdiri mengantri di depan meja prasmanan.
Yang pertama gue coba adalah bakso lohwa karena tampilannya yang beda dengan bakso biasa. Resep asli bakso ini menggunakan babi, tapi demi lebih banyaknya para peserta yang bisa ikut mencoba, maka bakso lohwa kali ini menggunakan ayam. Yang membuatnya berbeda karena campuran lohwa ini menggunakan cincangan jamur, wortel dan soun. Jadi berasa kres2 sewaktu digigit. Kuahnya kaldu ayam dengan rasa yang ringan, pas. Gue pun melangkah dengan yakinnya untuk mengambil porsi kedua

Berikutnya yang gue nikmati adalah ayam buah kluwak. Kebanyakan dari kita mengenal buah kluwak karena rawon. Padahal ayam buah kluwak ini merupakan menu yang jamak hadir di menu peranakan tangerang dan di beberapa daerah lain. Menado juga punya versinya sendiri, ayam kaloa. Tapi tentu saja versi Menado menggunakan santan dan lebih banyak ragam rempahnya.
Ayam buah kluwak yang gue nikmati siang itu rasanya seperti ayam dengan kuah rawon dengan versi yang lebih lembut, rasa kluwaknya tidak terlalu kuat seperti rawon. Dari hasil googling gue temukan bahwa ada juga yang mengganti ayam ini dengan lele. Lele buah kluwak? hmmm definetely not for me :p
Kenyataannya (sesuai penjelasan Lisa), ayam buah kluwak ini sudah diperkenalkan dan dipromosikan jauh lebih dulu oleh Singapura sebagai salah satu makanan nasional mereka. (indonesia ketinggalan lagiiiii *sigh*)
Sayur maman juga sesuatu yang baru buat gue. Sepertinya (?) daun maman ini lebih jamak dipakai di makanan Malaysia dibanding Indonesia. Alkisah nama maman berasal dari Kemaman (suatu daerah di Trengganu Malaysia), karena banyaknya daun maman yang ditemukan di daerah ini. Rasanya agak sedikit pahit, karena itu dalam pengolahannya biasanya ditambahkan air jeruk dan dicampur dengan ayam atau daging. Sayur maman yang kita nikmati siang itu menggunakan ayam.

Untuk teman makan siang itu disediakan nasi putih dan lontong. Lontong dinikmati dengan sambal godok, sate ayam, ayam kluwak dan sambal gandaria menghasilkan tampilan yang mirip2 lontong cap gomeh.
Sambel godoknya berisi potongan tempe dan telor tebu! Nah ini dia juga baru buat gue. Ada yang menyebutnya terubuk tebu atau bunga tebu, tumbuh dari tanaman sejenis tebu yang kontet (kerdil), berdiameter sekitar 15-20 mm, banyak terdapat di sekitar Bogor, Parung, Serpong dan Tangerang. Katanya sih mudah ditemui di pasar-pasar tradisional di sekitaran Tangerang. Gue baru pertama kali ini melihat dan merasakannya (yang mentah dan hasil olahannya). Rasa mentahnya seperti gabus, kempyus2 :D, tasteless.

Sayang hari itu gue lagi ga kepengen makan ikan, alhasil gue ga nyoba ikan cheng chuan, ikan (gue lupa jenis ikan yang dipake) yang dimasak dengan black bean dan jahe. Sambal gandaria dan sambal tauco melengkapi sajian siang itu. Sambal gandaria dibuat dari campuran buah gandaria yang banyak digunakan di makanan Jawa Barat.
Makanan penutup yang disajikan pun masih satu tema, khas buah yang disajikan dalam pesta di daerah ini. Buah jamblang *aseemmm euy *, kecapi, sawo dan es kelapa.
Seumur2 baru kali ini gue nyobain buah jamblang dan buah kecapi, padahal sering banget gue denger kata2 ini dalam pantun2 betawi.

buah kecapi buah jamblang
orang bunting minum kelape mude
biar kate pade ngeblelangsak di tangerang
Nyang penting bisa ikutan U eS De 
1 Comment
15th Dec 2009
Dalam salah satu bagian acara penutupan di Ubud Writer and Reader Festival di bulan Oktober kemarin, tuturan seorang penyair yang membacakan karyanya sambil duduk santai di depan sebuah kafe berhasil menarik langkah saya dan teman perjalanan saya untuk berbelok dan menikmati uraian katanya yang jenaka.
Saya ga tau siapa namanya dan judul puisinya, berusaha mencari2 di google tapi ndak ketemu. Sampai akhirnya teman seperjalanan yang sama2 menikmati puisi sang penyair malam itu, menemukannya dan meneruskannya ke saya
Dunia Yang Lengang
(Sebuah puisi dari M. Aan Mansyur)
Sebuah usaha, agar orang-orang
lebih banyak bicara dengan mata,
pemerintah membuat aturan ketat:
setiap orang hanya berhak memakai
seratus tiga puluh kata per hari, pas.
Jika telepon berdering, aku meletakkan
gagangnya di telingaku tanpa menyebut Halo.
Di restoran aku menggunakan jari telunjuk
memesan mi atau Coto Makassar. Aku secermat
mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.
Tengah malam, aku telepon nomor kekasihku
di Jakarta, dengan bangga aku bilang padanya:
Aku menggunakan lima puluh sembilan
kata hari ini. Sisanya kusimpan untukmu.
Jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti
ia telah menghabiskan semua jatahnya,
maka aku pelan-pelan berbisik: Aku
mencintaimu, sebanyak lima belas kali.
Setelah itu, kami hanya duduk membiarkan
gagang telepon di telinga kami dan saling
mendengar dengus napas masing-masing.
Nice, eh? 
1 Comment