30th Oct 2009
Udah lama gue pengen ngerayain jarig tidak di negeri sendiri. Pas iseng browsing airasia and …. voila, mereka baru buka penerbangan baru ke ho chi minh aka saigon. Gue langsung cari teman n yes, akhirnya kita ber-4 sepakat u/ menghabiskan w end (+1 hari extend) di saigon, vietnam.
Yiaayyyy ……
No Comments
26th Oct 2009
Gue dijuluki fans-nya USD oleh Lisa Virgiano, salah satu pemrakarsa USD di Indonesia. Gimana ga? dari ke lima USD yang udah diadain, kelima2nya gue ikutin. Doyan apa ga ada kegiatan lain ya? Hahaha
Anyway, ga seperti USD2 sebelumnya, kali ini gue ga berusaha nebak2 di mana tepatnya USD yang ke lima ini akan mengambil lokasi. Dan ternyata lokasi yang dipilih adalah Pasar Baru dengan meeting pointnya di Galeri Antara.
Gue nyampe jam 9.10, 20 menit lebih awal dari waktu yang ditetapkan. Celingak celinguk sendirian, gue iseng jalan kaki ke arah keramaian Pasar Baru, memperhatikan toko-toko yang baru buka, pegawai2 membereskan barang dagangan, dan sesaat tersedot ke masa lalu. Giling, kapan terakhir gue ke Pasar baru yah? 10 tahun yang lalu? 15 tahun yang lalu? Padahal waktu gue kecil dulu *which is aloonnggg time ago
* tempat ini udah pasti gue kunjungi paling ga enam bulan sekali, sama nyokap, buat beli sepatu sekolah atau baju. Atau bahkan bisa 2 bulan sekali, nemenin bokap beli perlengkapan golf, atau benerin jam atau apa lah.
Mal dan plaza2 ternyata udah menyeret gue menjauh dan lupa akan Pasar Baru. Jadi, wajarlah gue antusias sekali dengan USD kali ini.
Sasaran pertama adalah mie ayam di jalan pintu besi. Mienya yahud euy. Swekiawnya juga. Dan ternyata penjual mie ayam ini setiap hari buka dari pukul 5 pagi dan biasanya sudah habis jam 11-12 siang. Wuihhh, enak banget ya dagang begitu? Cuma 6 jam, beberes terus pulang.
Oya ada sedikit “insiden” di sini, dua sobat gue yang barengan ma gue ikutan acara ini asik nyemilin sesuatu di dalam mangkok yang sudah tersedia di meja, sambil sibuk komentar ini itu, “ini apa ya? Eh enak lho. Yg ini bawang putihnya nih. Yg ini apa ya?” Selagi mereka sibuk menebak ini itu gue asik moto2in mangkok kecil itu dan tau2 organiser acara heboh kaget sambil bilang;”aduh sori2, itu harusannya ga ada di meja. Bu ini ambil bu (sambil meminta penjual mie untuk mengambil mangkok2 itu dari meja). Ternyata potongan daging kecil2 kering yang dari tadi sibuk ditebak2 sama dua teman gue adalah B2 alias sapi ceper. Pantesan enak ya. Hihihi. Padahal grup yang gue dan temen gue ikutin adalah grup halal. Hahaha

Sasaran berikutnya adalah beragam soto. Lokasinya berada di antara toko2 baju. Di situ dijual beragam soto. Yang kita coba adalah soto mie, sop buntut dan soto daging dengan kuah santan. Buntutnya empuuukk banget, soto daging santannya juga paten, santannya ga terlalu kuat. Kalo sotomienya gue bilang ga terlalu istimewa.
Di etalasenya potongan jeroan manggil2 gue. Belum lagi ada satu piring yang isinya urat sapi. Wuihhh, mantabbb. Langsung teringat sate urat yang patoten di Brunei *wink wink*
Dari situ kita lanjut jalan lagi untuk mengambil es lobi2. Dengan cuaca yang rada panas, berjalan kaki yang rada lumayan, es lobi2 pun langsung tandas gue minum. Slllrrpppp, gue minta tambah lagi airnya sama penjualnya. Sllrrr. Lagi …slrrpppp. Manis, asem, segarrrr J
O iya sebelumnya kita juga diajak ke pasar tradisional yang terletak di dalam Pasar Baru, yang ternyata lokasinya berada di bawah tanah. (Gue baru tahu ada pasar bawah tanah di situ). Sempat ngobrol2 dengan penjual di salah satu kios dengan dagangan emping sebagai dagangan jagoannya. Emping ini dikirim khusus dari Labuan Banten. Emang lebih enak, garing, renyah.
Pas kita jalan-jalan menuju lokasi, beberapa kali kita ditanya oleh orang-orang yang berpapasan dengan kita,” Ini grup tur apa? Lagi ada acara apa? Ini turis dari mana?” dan beberapa pertanyaan senada. Gue cengengesan aja ngedengerin orang2 bertanya2.
Agak lucu juga memang tingkah kita yang sibuk foto sana sini, berjalan bergerombol sambil mendengarkan penjelasan “guide” di depan rombongan (by the way, satu kelompok isinya 15 orang)
Di balik keriuhan Pasar Baru, ada cerita yang menarik yang dibagi oleh “pemandu” kita. Gue ceritain singkatnya aja ya. Alkisah suatu saat di jaman dulu, kegiatan perekonomian di pasar baru sempat menurun drastis. Para keturunan Tionghoa yang berdagang di situ pun mencari nasihat dari para ahli fengshui. Dijelaskan oleh sang ahli bahwa bentuk lorong2 di pasar baru menyerupai kelabang, sedang tidak jauh dari situ ada lambang ayam (yg terdapat di atas gereja dan sekarang kita kenal dengan nama gereja ayam). Maka ahli fengshui itu pun memberikan saran agar membuat patung berbentuk elang sebagai penangkal ayam. Ga percaya? Terdengar konyol? Tapi toh ternyata setelah itu kegiatan perekonomian di Passar Baroe mulai menggeliat bangkit.
Setelah menyeruput es lobi2 yang menyenangkan itu, kita pun kembali ke meeting point semula untuk mengikuti sebuah presentasi video, sebuah kerjasama dengan TED. Video yang ditayangkan sangat menginspirasi. Kereeennn. Kapan2 gue cerita soal video yang ditayangkan itu deh.
Persis seperti USD2 sebelumnya, gue hepi banget belajar banyak hal dalam beberapa jam. Ketemu teman2 baru yang mempunyai passion yang sama.
Gue jadi teringat, belum lama ini gue ikut suatu acara yang membicarakan kenapa makanan Indonesia belum mendunia, tidak seperti makanan asia lainnya misalnya pad thai, Indian curry, Vietnamese springroll dan lain-lain. Dan gue cuma bisa menahan senyum gue waktu pembicara menjawab bahwa itu adalah tanggung jawab pemerintah.
Buat gue, yang dilakukan para penggagas USD di Indonesia ini adalah tindak nyata untuk mempromosikan makanan Indonesia. Hari itu ada 3 orang berkebangsaan asing yang ga ragu2 menelusuri gang2 dan mencoba makanan asli Indonesia. Ga usah nunguin pemerintah deh. Kelamaan. Lakuin aja yang lu bisa. (termasuk ngomel2 saat ngajar karena murid gue berani2nya “menghina” masakan Indonesia
:D )
Satu hal terakhir, USD kali ini gue (dan empat teman yang barengan ma gue) berasa kurang kenyang euy. Mungkin karena makanannya tidak semelimpah biasanya kali ya
But still, I had a fun-tastic nostalgia @ Passar Baroe 
No Comments
26th Oct 2009

Diambil dari menu sebuah coffee shop di daerah Jakarta Pusat.
Suny set up dengan free black coffee or hot tea.
Apakah maksudnya mengatur matahari sambil minum teh atau kopi? Atau mbak Suny sedang mengatur teh atau kopi gratisan? hihihi
2 Comments
24th Oct 2009
Masih inget cerita gue soal teman yg terkena serangan stroke beberapa bulan lalu yg gue posting di sini?
Meskipun ga terlalu sering, tapi gue usahakan untuk menelpon teman satu ini every now and then. Yah, itung2 ngasi semangat lah. Kadang suaranya kedengeran lemeess banget, kadang kedengeran sengau, habis nangis.
Nah, kemarin gue telpon dan gue tanya kabarnya, dan dia jawab,” habis latihan jalan, cape, I’m fine. Getting better”
Dan dia lanjutkan sambil tertawa kecil,”Hidup cuma sekali masa ga pernah ngerasain stroke”
Hahaha, gue langsung ngakak.
I’m happy she got her fighting spirit back. Tapi bukan berarti mentang2 hidup cuma sekali kudu kena stroke kan?
*knock on wood*
3 Comments
15th Oct 2009
Seperti gue tulis di postingan gue sebelumnya, weekend lalu untuk pertama kalinya gue ngikutin acara Ubud writer and reader festival.
Tahun2 sebelum2nya gue udah sering denger soal event ini, tapi ga pernah kepikiran untuk datang.
Gue sempat ngebahas hal ini dengan my travel mate, yg barengan gue ngikutin acara ini. Btw, gue ma temen gue ini ga ngikutin semua acara. Tapi dari situ gue sama dia sama2 bingung. Acara sebagus ini kok peminatnya ga terlalu heboh ya? Maksud gue orang Indonesianya, considering event ini kan diadakannya di negara sendiri?
Akhirnya kita iseng2 bikin analisa asal2an:
- Kalo menurut temen gue, karena event ini sepertinya ditujukan buat para expat atau bule. Gue sempat menyanggah pendapatnya soal hal ini. Tapi dia berpendapat demikian karena menurutnya iklan2 acara ini lebih banyak terdapat di media2 dengan komunitas pembaca expat, misalnya koran2 dan majalah berbahasa Inggris. Hmmm …..
- Kalo menurut gue, tadinya gue berpikir bahwa event ini hanya ditujukan untuk para penulis aja, karena namanya itu. Ubud writer festival. Padahal nama sebenarnya kan Ubud writer and reader festival. Well, intinya gue ga pernah ngeh bahwa acara ini sebenernya bisa buat siapa aja, yang tertarik dengan segala macam bentuk bacaan. Karena toh seorang penulis tidak akan bisa dikatakan menjadi seorang penulis yang sukses kan bila tidak punya pembaca?
- Kalo menurut gue lagi, memang untuk event2 seperti ini peminatnya tidak akan sebanyak acara musik, misalnya. Yah mau gimana lagi, memang begitu kenyataannya kan? *sigh*
- Menurut gue dan teman gue, sebenarnya harganya juga ga mahal-mahal amat kok. Kalo memang ga punya budget besar, ikutin aja acara2 gratisannya, seru juga kok.
- Menurut gue lagi (kok banyakan guenya ya), gue rada malu juga kemarin pas mengikuti acara itu karena si bule2 itu tiap tahun menjadwalkan waktu untuk ke Ubud mengikuti acara ini. Mereka ga semuanya writer lho, kebanyakan adalah reader, pencinta buku. (Gue nyariin orang indonesia pas acara diskusi dengan Vikas Swarup yg gue ikuti, ga ketemu euy. Dari sekitar 70 orang yg hadir, sebagian besar perempuan bule di atas 40 tahun, ada juga sih laki2nya. Dan ada juga beberapa orang India)
So, shall I meet you all there next year? 
2 Comments