Your not so-favourite-place/city

30th Sep 2009



Percakapan antara gue dan seorang teman

Teman : aku ga suka Bali

Gue: Hah???? (baru pertama gue tau ada orang yang ga suka Bali). Kenapa? Kok bisa ga suka?

Teman: soalnya Bali tuh identik sebagai tempat yang romantis euy.

Gue: lah? terus?

Teman : Ya, kalo ke sana sama teman-teman doang sih rasanya gimanaaa gitu. Mungkin kalo sama pasangan, lain kali yah rasanya?

Gue: *cuman bisa nyengir*

***

Percakapan lain dengan seorang teman lain

Gue: liburan ntar ke Yogya yuk

Teman: Yogya? Ga ah. Gue ga tahan sama Yogya

Gue: hah? maksudnya?

Teman: Iya, buat gue Yogya itu mistis

Gue : Mistis gimana?

Teman : pas pertama kali gue ke yogya, gue ngerasa gimanaaa gitu, gue merinding terus, berasa creepy aja

Gue: yah kebetulan aja kali

Teman : ga, beneran. Sepanjang gue di Yogya perasaan itu ga hilang. Begitu gue keluar dari Yogya, pas pesawat gue mulai take off perasaan itu langsung hilang.

Gue: hmmmm …. *bingung*

Loe punya trauma atau ga suka sama suatu kota sampe segitunya ga kaya temen2 gue? ;)

1 Comment

 

Rumput

29th Sep 2009



Siang tadi, tiba2 seorang sobat ngebuzz gue di ym

teman: kenapa rumput tetangga selalu lebih hijau ya

gue: hal yang sama dipikirin oleh tetanggamu. dia pasti berpikir rumputmu lebih hijau. Hehehe

teman: ah, so philosophical

gue: :D

teman : padahal sumpah, halaman rumahku gak ada rumputnya

gue : nah itulah, tetanggamu ndak tahu toh? Karena banyak orang yang begitu pintar menutupinya. Dengan pagar tinggi misalnya ;)

teman : nice phrase win, nice phrase …

gue: iya ya? :D hihihi

2 Comments

 

Yang tersisa dari Penang

27th Sep 2009



Ah, seharusnya gue nulis ini setelah liburan dari Penang kemarin. Gue udah nulis dua postingan sih, tapi gue belum cerita tempat-tempat yang gue dan dua sobat kunjungi pas di sana.

Kenapa gue pilih Penang? Hmmm sebenernya sih ga ada alasan tertentu. Yang gue pengen cuma liburan yang murah meriah, syukur2 bisa ke luar negeri. Iseng2 pas browsing Air Asia ada penawaran tiket murah, gue klik purchase, beres!  Ngajak satu temen kantor lewat obrolan makan siang dan satu teman lagi lewat chatting di YM. Voila, jadilah gue bertiga pergi ke pulau penang yang berjarak hampir 3 jam dari Jakarta ini.

HARI PERTAMA

Konsekwensi naik budget airlines, sampe di lokasi sudah larut malam (jam setengah 11 kalo ga salah)  KIta cuma pergi makan ke satu food court (modelnya seperti food court di daerah pluit) yg buka sampe jam 2 pagi. Ceritanya udah diposting sebelumnya di sini.

HARI KEDUA

George town

Gue ma temen gue sepakat untuk ke Georgetown, kawasan dengan bangunan2 tua yang dilestarikan. Kira-kira seperti daerah Kota di Jakarta, tetapi jauh lebih sepi dan jauh lebih terawat ;). Matahari nyenter banget siang itu. Kita keluyuran dengan berjalan kaki sampai kelelahan.

Chocolate boutique

Sebenernya ga rencana ke sini tadinya. Tapi kebetulan pas masih berjalan-jalan di daerah George Town situ, gue lihat ada bangunan yang bertuliskan Chocolate boutique dan gue baru sadar kalau ternyata coklat rasa tiramisu dari Malaysia yang gue doyaaan banget itu (gue suka nitip coklat ini kalau ada teman yang ke Malaysia), pabriknya ada di … Penang. Gue langsung heboh, ngajak kedua teman gue masuk ke toko tersebut.

Gila, gue kalap. Sayang, lagi ga ada budget lebih buat belanja2. Tapi akhirnya toh gue tetep beli coklat tiramisu satu pak, dan dua pak coklat bar. Sebenernya coklatnya seru2 bangettt. Unik2 dan enak enakkkk. Ada yang jenis buah2an : coklat dengan isi blueberry, melon, green apple, mango atau durian. Yum yum. Yang lainnya ada strawberry white chocolate, blueberry white chocolate wafer, mint and bitter chocolate, dark chococolate tiramisu (ada yg pake almond, ada yg white atau milk chocolate), ada juga coklat dengan rasa cabe dan wijen. Wuih pokoknya gue binguunnggg milihnya :)

Yang seru pas mampir ke sini adalah, begitu kita masuk, di pintu depan kita disambut oleh staf yang bertanya dari negara mana kita berasal. Setelah gue jawab Indonesia, kita langsung di’handle’ oleh staf yang bisa bahasa Indonesia (maksud gue disini bener2 orang yg ngerti bahasa gaul Jakarta), dan very friendly pula. Kita diajak untuk “touring” ke masing2 lorong, dimana coklat sudah digolong2kan sesuai dengan bahan campurannya/isinya. Yang lebih seru lagi, di rak2 dimana coklat itu dipajang, ada kotak kecil yang berisi tester2 dari masing2 coklat tersebut. Jadi setiap kita berdiri di depan rak satu jenis coklat, maka “SPG” yg menemani kita dari masuk tadi langsung membuka kotak tester itu dan meminta kita mengambilnya sambil menjelaskan semua detail tentang coklat tersebut (berikut bujukan untuk membeli tentunya). Tiga kali loe balik ke satu rak (karena ragu2 loe mau beli apa ga), ya tiga kali pula “SPG” itu akan membukakan kotak tester itu. Nice service, eh?

Belum selesai gue terkagum2 dengan pelayanannya, gue lihat di lorong lain ada “SPG” yang sedang melayani pembeli  Jepang, dan “SPG” itu pun dengan lancarnya berbahasa Jepang. Hmmm…hebat ya? Dari situ gue mengambil kesimpulan bahwa mungkin memang banyak turis Jepang yang datang ke tempat ini.

Tjong Fatt Tze mansion

Cheong Fatt Tze Mansion merupakan bekas kediaman Tjong Fattt Tze, (dulu) salah satu orang terkaya di Asia tenggara. Terletak di salah satu sisi dari Leith Street yang masih berlokasi di George Town. Setelah lebih dari 25 tahun terabaikan, sekelompok orang2 didukung oleh oleh pemerintah lokal Penang melakukan restorasi. Tahun 2000 bangunan kediaman ini memperoleh Unesco Asia Pacific Heritage Award untuk kategori restorasi otentik.

Yang bikin gue dan dua temen gue terkagum2 adalah cara dan product knowledge yang dimiliki oleh guidenya, seorang laki-laki usia sekitar awal 30 dengan gaya cerita yang menarik dan bahasa Inggris yang sempurna. Kita pun diajak berkeliling mansion, didongengi semua kisah dan intrik mengenai kediaman tersebut oleh sang guide.

Gurney drive

Ini tempat happening di Penang dengan deretan restoran di depan pantai (note: bukan pinggir pantai seperti jimbaran Bali yg romantis dengan pasir yg terasa di telapak kaki, suara deburan ombak dan angin semilir-nya. Loh kok gue jadi bicarain jimbaran ya. He3). Kita ke sini malam2 cuma buat dinner. Gila, rame banget. Macet! Kayanya semua orang penang kalo weekend-an ke sini kali ya. Ga jauh dari situ ada satu food court terbuka yang terdiri dari banyaakkk banget gerai2 makanan. Kita sempat mampir ke sini juga. Iseng cari kudapan dan minuman dingin buat seger2an.

HARI KETIGA

Penang Hill

Ini tempat favorit gue! Agak jauh dari kotanya. Udaranya lebih sejuk. Yang bikin unik, untuk mencapainya, kita menggunakan Swiss funicular train. Seru! Begitu sampai di atas, kita bisa melihat pemandangan kota Penang, termasuk Penang Bridge yang menghubungkan kota Penang dengan Malaysia peninsula.

Ada beberapa kios makanan dengan rasa standar yang menjual mie goreng, kweetiau dan lain-lain. Sebelum mencapai kios2 tersebut, gue dan teman2 sempat memperhatikan ada seseorang dengan pakaian waiter berdiri di samping plang nama restoran berikut dengan standing menu. Kita lihat menu2nya. Looks nice. Akhirnya kita memutuskan naik. (Resto itu tidak terlihat dari bawah, karena posisinya yg agak di atas) Kita harus menaiki beberapa anak tangga dan langsung disambut oleh taman dengan bunga2 cantik dan resto gaya Inggris yang anggun. Absolutely lovely. Gue bertiga cuma ngeteh2 dan mesen scone yg rasanya edannnnnn, enak pisan. (Kalo keinget rasanya aja gue suka ngiler sendiri hehehe)

HARI KEEMPAT

Kita sepakat untuk ke daerah LIttle India buat nyari scarf/selendang buat oleh2. Sekalian mau cari makanan India. Kalo di Jakarta kira2 kaya daerah Pasar Baru gitu deh. Gilaaaa. Scarf/syal/pashmina di situ murah bangetttttttttt. Sumpah.

Hmmm …. Next trip kemana ya? *sekitaran Asia dulu aja deh, masih banyak yg belum kok ;) *

1 Comment

 

4th Underground Secret Dining (USD) - Menikmati “Rasa” yang beda

7th Sep 2009



USD emang selalu sukses bikin gue tercengang2, tak terkecuali USD yang ke-4 ini.

Clue yang diberikan dua hari sebelum acara menginformasikan bahwa meeting point kali ini adalah lobi RS kanker Dharmais. Kebetulan USD ke-4 ini bertepatan dengan bulan puasa, jadilah gue dan teman2 gue yg ikutan acara ini mulai main tebak2an …buka puasa di Rumah Sakit???

Ternyata acaranya diadakan di auditorium RS itu. Dan yang tambah bikin gue tercengang2 *dan gue yakin demikian halnya dengan para peserta lain* adalah saat kita diajak untuk touring ke salah satu bangsal khusus untuk anak2 penderita kanker. Buat ngingetin aja, Dharmais adalah satu2nya RS khusus kanker di Indonesia. Salah seorang perwakilan dari Yayasan Onkologi Anak Indonesia memberikan penjelasan dengan sangat luwes mengenai bangsal itu, sekilas mengenai para anak2 penderita kanker, kegiatan sharing antara orang tua penderita, dan lain-lain dan lain-lain.

they don't lose their sense of humour

gambar yang terdapat di dinding koridor bangsal anak2 penderita kanker, they don’t lose their sense of humour

Di dalam lift sekembalinya dari tour singkat itu, gue berusaha memecahkan keheningan yang tiba-tiba tercipta di dalam lift,” waduh, nuansanya beda ya, ga ada yg ngomong dari tadi”. Dan beberapa orang pun mulai melontarkan kata-kata, mulai memunculkan senyum di wajahnya.

Sekembalinya ke auditorium, kita diberi kejutan lagi dengan datangnya 30 orang anak penderita kanker yang diajak bergabung untuk buka bersama dengan para peserta USD.

The fighters, 30 anak di bawah 12 tahun dengan beragam kanker yang bersarang di bagian tubuh mereka. Di meja gue, bergabung tiga anak, dua penderita leukimia, satu orang penderita kanker getah bening.

Acara USD kali ini memang bener2 dibuat beda, selain venue-nya sendiri ga biasa demikian pula dengan urutan acara nya. Sebelum menikmati makanan, kami sempat ber’main’ dengan anak2 tersebut dengan mengajarkan cara menggulung lumpia. Hal kecil tapi membuat mata mereka berbinar2. Dan mata2 bening itu kembali berbinar2 ketika diberitahu setiap anak mendapatkan satu akuarium plastik berukuran mini yang tersedia di atas meja, untuk dibawa pulang. Masing-masing akuarium berisi dua ikan hias, tanaman air dalam sebuah pot kecil, satu paket makanan ikan dan petunjuk pemeliharannya. Masing2 ikan sudah diberi nama.

lumpia

Sekitar jam setengah tujuh, para peserta pun menghampiri meja prasmanan untuk menikmati hidangan yang tersedia. Teh panas (ramuan dari berbagai jenis teh), sup merah, bistik sapi, ayam bakar kemiri dan es cendol lengkap dengan nangka dan tape ketan hijau memanggil-manggil kami.

Ga seperti sebelum2nya, gue ga akan banyak bicara soal makanan di acara USD kali ini. Harus diakui, menjaga kualitas makanan dengan model prasmanan seperti malam itu adalah hal yang sulit dilakukan. Sup merah khas surabaya (sop tomat dengan sosis, potongan ayam, makaroni dll) yang sebenernya enak sekali rasanya jadi kurang mantap karena kurang panas, atau ayam bakar yang agak keras (karena overcooked) atau es cendol yang kurang dingin karena kurang tambahan es batu. Tapi toh semua itu tidak berhasil mengurangi kebahagiaan gue karena dapat menikmati “rasa” lain di bulan pernuh berkah ini.

Dan di antara obrolan-obrolan dengan para peserta, pikiran gue pun melayang-layang, mendengarkan anak-anak penderita kanker berceloteh dengan riangnya, “Saya sudah disuntik tujuh kali. Ga takut”, begitu katanya.

Dan sesuatu melintas di pikiran gue, “when was the last time i fed my soul?”. Ah, memang sudah saatnya. :)

3 Comments

 

Para sugeng

4th Sep 2009



Pernah denger istilah di atas? Gue sih baru tau kira2 sebulan yang lalu. Gara2 ngeliat status fesbuk temen gue yang jelasin bahwa dia lagi ketemu para sugeng.

Bingung? Jadi gini, ternyata ada “perkumpulan” orang2 yang bernama sugeng. Ada satu pemrakarsanya *yang tentunya juga bernama sugeng*, punya keinginan untuk mengumpulkan orang2 bernama sugeng di seluruh dunia. Ada blog-nya segala kok.

Nah ceritanya sobat gue *yg tentunya bernama sugeng*, ikutan “perkumpulan” ini dan belum lama ini kopi darat.

Gue penasaran tanya ini itu, kaya apa orang2nya, mereka dari mana aja, kerja di mana dll. Temen gue ngejawab: “rata2 orang Jawa sih Ri”. *ya iya laahhh :D *

Temen gue bercerita, hal konyol terjadi pas dia baru dateng dan memperkenalkan diri dengan yang lain. Sambil bersalaman, otomatis dia menyebutkan nama,”Sugeng”. Dan langsung serempak dikomentari oleh yang lain, “waduh pak, ga usah sebutin kita juga tau kayanya”. Hehehe. Temen gue cuma bisa nyengir dan akhirnya menyebutkan nama belakangnya

Nama loe sugeng? Atau punya saudara, bokap atau om yang namanya sugeng? Join mereka aja ;)

http://parasugeng.wordpress.com/

3 Comments