2nd Underground Secret Dining (USD) - Bukan rendang biasa ;)
9th Jul 2009
USD aka Underground Secret Dining yang kedua diadakan hari Minggu, 5 juli kemarin. Sudah bisa ketebak, gue mendaftar lagi.
Sesuai permintaan beberapa teman yang sempat ngomel2 pas gue posting soal USD yang pertama,”kok ga ngajak sih? kok ga dikasitau sih? kok ga inget2 gue sih kalo ada acara seperti ini? dan kok ini dan kok itu lain” - gue forward lah info USD yang kedua tersebut.
Tapi yah..seperti yang gue bilang ke inang bocor halus yg barengan ma gue ikutan acara ini “Cuman penikmat makanan sejati yg emang beneran mau ikutan acara ini”. Akhirnya gue, inang n partner in crimenya aja yg jadi ikutan.
Yang sempet ribut2 ga gue ajak, akhirnya ga jadi ikutan juga *pisssss ah*
Sesuai dengan tema dari USD, para peserta yg udah konfirm baru diberitahu satu/dua hari sebelum hari H-nya akan kemana kita dibawa. Berdasarkan clue yang dikasi, salah satu clue menyebutkan dekat danau, gue dan sobat gue sibuk tebak2an, cibubur lah, depok lah, tapi ternyata … lokasinya di deket kawasan kampung betawi yang dilestarikan alias situ babakan. Aha!
Memang sebelumnya dikasitau kalo kali ini kita ga akan keluyuran hunting makanan. USD kali ini akan berkumpul di rumah seorang ibu yang akan menyajikan makanan khas suatu daerah. On the way ke TKP gue nebak2, jangan-jangan yg akan disajikan adalah makanan khas betawi *secara lokasinya di deket situ babakan*
Tapi ternyataa…. yg disajikan kali ini adalah makanan khas dari Sumatera Barat, lebih tepatnya dari Payakumbuh.
Nyonya rumahnya yang bernama Ibu Nani sudah menyiapkan ikan bilis balado, rendang daun kayu, pangek cubadak, sambal sayak dan rendang talua.

Yang langsung merebut perhatian gue tentu saja yg bernama rada aneh. Bener, rendang daun kayu! Ternyata ini adalah 21 macam daun pepohonan dan diolah menjadi rendang. Istilah kerennya vegetarian rendang hehehe. Karena memang tidak menggunakan daging sama sekali. Tapi rasanya? Jangan ditanya. Loe pasti ga ngeh kalo itu semua hanya hanya sayatan dedaunan yg dibumbu rendang. Sssttt ibu Nani bercerita bahwa dedaunan ini dikirim langsung dari payakumbuh.
Makanan kedua yg menarik perhatian gue adalah rendang talua. Bentuknya seperti lempengan kentang goreng yang diiris tipis. Rasanya renyah. Tapi ternyata itu adalah putih telor yg dikukus kemudian digoreng dan dimasak sambal. Gue yakin kalo loe ikutan, loe juga ga akan nebak kalo itu adalah putih telur. Putih telur itu jadi terasa crispy.

Berdasarkan cerita sang nyonya rumah, masakan payakumbuh agak berbeda dengan daerah lain di Sumatera Barat. Mereka tidak terlalu banyak menggunakan daging, yang banyak mereka gunakan adalah ikan atau sayuran. Setelah gue nyicipin makan masakan yg tersedia, menurut gue masakan payakumbuh juga terasa lebih mild, bumbunya tidak terlalu kuat.
Pangek cubadak sendiri kira-kira sejenis gulai nangka. Tapi nangkanya tidak dipotong kecil2, tapi dibiarkan besar2 seperti potongan semangka. Gue ga ngefans sama nangka, tapi gue nguping komentar peserta USD yg lain, banyak yg jatuh hati dengan pangek cubadak ini.
Balado ikan bilis, sayur singkong, cabe hijau dan sambal sayak melengkapi makan gue siang itu. Yang paling bikin gue kepincut yah dua makanan tadi, rendang daun kayu dan rendang talua.
Oh ya satu lagi. My sweet tooth langsung berloncat2 kegirangan begitu ngeliat cendol ampiang dadih yang disiapkan di sudut ruangan. Tidak beda jauh dengan cendol biasa, hanya saja isi di dalamnya ditambah ketan, dan durian. Mmmm. Rasa cendol, gula jawa, santan, ketan, durian berpadu sempurna (dapat salam dari diet carboooo)
Gue dulu pernah nyoba ampiang dadih di Bukit Tinggi. Setahu gue ampiang dadiah ini menggunakan susu kerbau yg didiamkan dan disimpan satu atau dua hari sampai berbentuk gumpalan krim. Baunya cukup menyengat. Tapi ampiang dadih yg gue nikmati kemarin ini sepertinya sudah dimodifikasi, jadi cuma menggunakan santan, gula jawa dan pakai cendol pula
Hmmm. Gue pribadi lebih menyenangi USD yg sebelumnya. Lebih seru, rasanya lebih berpetualang. Meskipun gue sih hepi2 aja dengan USD yg ini. Karena gue ngerasa, makin banyak kita kenal dan tau soal kuliner bangsa sendiri, lebih mudah buat kita buat mencintainya *uhuyyyyy*
Gue jadi teringat dulu waktu on the job training di Lucerne, Switzerland, restoran tempat gue training itu menyajikan suatu menu pas summer. Namanya Mumbai chicken salad. Mumbai = Bombay. Chicken salad dengan rasa light curry di dressingnya. Enak bangettt. Temen kuliah gue orang India yg kebetulan barengan sama gue training di resto itu langsung tersenyum bangga, wuih ada masakan india di resto ini. Gue cuma senyum aja. Ga terlalu pusing mikirin.
Tapi itu dulu. Sekarang kalo inget itu gue “keganggu” juga. Gue pengen banget menu2 Indonesia nyelip di antara menu2 di resto negara2 lain (Kecuali di Belanda ya). Sama casualnya seperti loe nyebut spaghetti bolognese yg berasal dari kota bologna italia, atau greek salad atau szechuan chicken atau phad thai atau banyak lagi menu2 lain dari seantero dunia. (Keinginan gue ga berlebihan kan?)
Ada banyak cara buat lebih tahu dan cinta kuliner bangsa sendiri, salah satunya ya ngikutin acara rutin yg diadain azanaya ini
*gue ga lagi ngiklan lhoooo :)*