Serasa turis di kota sendiri
21st May 2009
Mungkin gue berlebihan. Tapi tadi siang gue sempet ngerasa jadi turis di kota gue sendiri pas mengikuti acara yang namanya Underground Secret Dining, wisata kuliner yang kali ini temanya menjelajah pecinan kota jakarta yang diadakan oleh Azanaya.
Dinamakan USD - Underground Secret Dining karena pada waktu mendaftar, peserta tidak diberitahu akan diajak bereksplorasi ke mana, cuma diberi clue bahwa lokasi akan berada beberapa kilometer dari Istana Merdeka
Gue nebak bakalan daerah china town alias pecinan. Dan ternyata benar!
Sehari sebelum acara, peserta yang terdaftar dikirimi email dan sms mengenai lokasi dan meeting point.
Berkumpul di depan pasar jaya glodok dan mulailah kita merambah lokasi jam 10 lewat sedikit.
Dimulai dari roasted duck Sedap Wangi. Berlokasi di dalam pasar petak sembilan, ada satu kios kecil dengan bebek siap santap yang menggantung2 menggoda di “etalase”nya. Begitu rombongan sampai (jumlah total peserta adalah 36 orang dan dibagi menjadi dua grup), piring2 kecil berisi potongan bebek sudah siap untuk dicicipi. Dimakan dengan cocolan saus manis berwarna coklat plus sedikit sambal. Mmmm senyum langsung terpasang di muka2 semua peserta yang berdiri berjejalan di depan kios yang sempit itu. Kulitnya crispy banget, tapi dagingnya lembut.

Kira2 dua puluh meter dari situ (masih berada di gang yang sama), terdapat restoran yang pernah dipakai Nia Dinata untuk syuting Berbagi Suami. Inget kan? Wuih, gue ngebayang keribetan waktu syuting itu. Maklumlah, pasar ini kan rame banget.
Dari situ kita pindah ke toko Kawi, semacam swalayan mini yang menjual makanan jadi seperti makanan kalengan, manisan buah yang dipajang di dalam toples-toples bening besar, macam2 permen dari cina dll. Tokonya nyaman, pakai AC. Yang jagoan di toko ini adalah smoked hamnya. Kita semua nyoba smoked beef dan ham (terserah maunya yg mana tergantung keimanan hahaha) yang disajikan di dalam setangkup crackers. Yum yum. Asli juara banget! Ada beberapa peserta yang beli untuk dibawa pulang.
Selesai foto2 (teteup), rombongan diajak berjalan lagi menuju petak sembilan untuk mencoba bubur kacang ijo. Sebelum acara sudah dijelaskan bahwa bubur kacang ijonya ini bukan sembarang bubur kacang ijo. Pas dicoba ternyata memang mmmm. Apalagi buat temen gue -si inang bocor- yg doyan bubur kacang ijo. Buburnya lembut, tetapi tidak hancur. “Rahasianya ada dalam proses masaknya”, tante pemilik kios ini berbagi rahasia. Buburnya dimasak dengan api tidak terlalu besar dan diaduk terus menerus. Kombinasi santan dan gulanya juga pas sekali. Jujur gue sih ga terlalu impressed dengan bubur ini. Bukan ga enak, tapi karena gue emang ga terlalu ngefans aja dengan burjo.
Tapi pas gue denger bahwa si tante juga menjual cendol yang dibuat sendiri, mata gue langsung berbinar-binar. Sayang, es cendolnya sedang tidak tersedia siang itu. Perempuan berumur kisaran 50 itu bercerita rasa cendolnya coklat, menggunakan coklat bubuk. “Tadinya sih cendolnya hijau pakai daun suji, tapi repot. Makanya saya ga pernah bikin yang hijau lagi”. Belum sempet gue tanya kenapa repot, tante itu menjelaskan.
“Habis bayangkan, daun suji dicuci satu2, lalu diiris kecil2, kemudian diblender, terus disaring. Kan repot tuh. Saya ga mau pake essence dan pewarna seperti orang-orang lain. Itu sih ga enak lah”.
Gue langsung bengong, membuat balon khayalan di atas kepala gue. Mmmm pasti rasa tuh cendol yang menggunakan daun suji asli rasanya enak gila :).
Setelah selesai ngobrol dan tanya ini itu lagi dengan si empunya kios tersebut, kita melanjutkan ke daerah rambahan berikutnya. Oya, tempat jualan burjo ini ga bisa disebut kios juga sih, karena tempat berjualnya ini adalah rumah tinggalnya. Tidak ada tulisan apa2 di depan rumahnya. Orang yang mau beli masuk ke dalam “ruang tamu” yang cuma bisa dimasuki oleh sekitar 10 orang dimana terdapat beberapa kursi kayu dan poster2 bintang hollywood dan mandarin yang sudah usang di dinding-dindingnya.
Perjalanan dilanjutkan ke gang yang dinamakan Pasar Gelap. Pemandu alias organizer acara ini bercerita latar belakang kenapa dinamakan pasar gelap. Jadi, pada jaman penjajahan jepang dahulu, orang2 cina sering berkumpul di gang ini untuk menghisap candu. Lebar gangnya hanya muat untuk dua motor pas-pasan. Gue lagi2 langsung membayangkan suasana jaman dulu. Dengan penerangan yang seadanya, jalan sempit, orang2 menghisap candu… seperti film2 mafia cina saja. Sekitar 50 meter dari mulut gang, rombongan diajak masuk ke dalam sebuah rumah yang ternyata adalah restoran. Hah? Siapa juga yang tau kalo di dalam gang ini ada sebuah restoran yang ternyata punya masakan andalan lindung cah fu mak. Ini rasanya juga juara. Restorannya seperti typical rumah di gang2 di daerah pecinan. Kalo kita ga masuk, kita ga tau kalo itu adalah sebuah restoran. Di dalam bisa muat sekitar 40 orang. Lindung cah fu mak yang tersohor itu pun disajikan. Lindung digoreng garing, disiram dengan osengan daun fu mak. Daun fu mak rasanya nyaris seperti caisim, tapi bentuknya daunnya beda. Kalo menurut gue rasa pahit lebih kentara di caisim daripada daun ini.
Selesai dari situ, kita berjalan agak jauh ke tempat ngumpul terakhir yaitu sebuah rumah di jalan kemenangan untuk menikmati semua yang kita cicip-cicip tadi dalam bentuk sajian makan siang. Ada juga tambahan makanan lain yaitu syomai ayam, syomai babi, mie brebet dan kolak pisang.
Gue kepincut dengan mie brebet. Edan, kuahnya enak bangetttt. Semacam kuah kaldu tapi rasanya “kaya” sekali, kental, mantabbb. Isi dari semangkuk mie brebet adalah mie yang berukuran agak gendut2, tauge, irisan telur rebus, perkedal kentang mini dan irisan ayam. Yang suka tentu saja bisa menambahkan perasan jeruk nipis, sambal ataupun kecap asin.
Gue juga jatuh hati dengan kolak pisangnya (yup, i am a sweet tooth :p). Yang bikin lain pisangnya diolah seperti pisang sale, jadi maniiiss banget. Tapi begitu dikasi santan ….hmmmm pas ..pas banget paduannya

Acara pun selesai. Sebelum pulang setiap orang dikasi “souvenir” berupa opak bakar yang terbuat dari (tepung?) beras. Alkisah, sekarang ini di Jakarta cuma tinggal 1 penjualnya. Gue belum tahu rasanya apa, ntar aja deh dicoba di rumah. Perut gue udah mau meletus rasanya.
Buat mereka yang memang tinggal di daerah pecinan kota, mungkin tempat2 makanan yang gue sebutin tadi ga asing dan biasa aja. Tapi buat gue dan peserta USD ini, dan gue yakin masih banyak banget temen gue yang lain, ini sebuah acara yang menyenangkan untuk belajar (plus makan enak tentunya) dan lebih tahu lagi soal kekayaan kuliner bangsa sendiri dengan segala pengaruhnya.
Bravo kuliner Indonesia ![]()