30th Aug 2008
Tiap saat pasti ada aja istilah-istilah baru atau gaya bicara baru yang tren. Asalnya bisa dari macam-macam, iklan di TV, radio, film, novel dan lain-lain.
Salah satu yang lagi sering dipake belakangan ini apalagi kalo bukan ” Ya iya lahhhhh”. Tapi gara-gara pemakaian kata ini yang tidak pas waktu dan tempatnya, teman gue pun jadi misuh-misuh ga keruan.
Begini ceritanya ….
Beberapa hari yang lalu di sela kemacetan Jakarta, dengan udara yang lengket dan panas abis, sobat gue ini mampir ke tempat cetak foto di kawasan sabang situ. Berhubung dia lagi ngurus pas foto untuk visa kedutaan yang minta ukuran spesifik banget, dia pun menjelaskan dengan mbak2 yang ada di balik counter. Yang bikin bete, setiap diajak ngomong, si mbak2 ga pernah ngeliatin muka temen gue, asik sendiri dengan komputer, handphone, pokoknya ga customer oriented banget lah. Temen gue berusaha sabar, secara emang dia perlu banget foto ini dan harus balik ke kedutaan. Dan ..akhirnya jadilah foto yang diminta ..dan bisa ditebak …ukurannya salah!!!
Temen gue tambah bete, masih berusaha dengan kesabaran yang ruaarr biasa dia bertanya
Temen gue : mbak, bener nih ukurannya sesuai yang saya minta?
Dan mbak2 itu ngejawab : Ya iyalaahhhh … (dengan nada yg sumpe! bikin loe pengen nampar bolak-balik tuh mbak-mbak)
Temen gue pun meradang …. si mbak2 pun akhirnya habis kena dampratan…
Ya iyalah masa iya dong, dibelah masa dibedong, sekolah masa sekodong, olala masa ododong, jamila masa jamidong, umbrella masa umbredong, dulu kala masa dulu kadong … hehehehe cape ah!
7 Comments
26th Aug 2008
Pernahkah kau merasa begitu rindu dengan seseorang hingga seluruh relung di dadamu terasa sesak sakit karena perasaaan tertahan yang harus kau pendam? Di kamar kosnya yang sederhana, yang hanya dilengkapi dengan satu lemari kecil untuk pakaian, sebuah dipan dan cermin berbentuk kotak tanpa bingkai yang terpaku di dinding, laki-laki itu tergeletak diam memandangi langit-langit kamarnya. Setiap sela dalam dadanya terasa menyempit, membuatnya kesulitan bernafas. Ditariknya nafas panjang perlahan.
Kipas angin murahan dengan tiga baling-baling yang menempel di langit-langit kamar mengeluarkan bunyi bergemeretak seakan protes untuk berhenti berputar. Cuma itu satu-satunya alat penyejuk udara di ruangan berukuran 3 x 3 meter, dengan cat dinding yang mulai mengelupas di beberapa bagiannya. Meski udara panas serasa membekapnya, laki-laki itu tak berkeinginan membuka pintu kamar. Posisi pintu yang langsung menghadap ke lorong rumah membuat orang-orang yang melewati kamar tersebut melirik, terkadang ada yang terang-terangan memperlihatkan keingintahuannya mencuri pandang ke dalam kamar tersebut.
Kesendirian terasa menusuknya. Wajah perempuan itu kembali hadir di matanya. Wangi tubuh perempuan itu masih terasa di bantal dan kasur yang sedang ia tiduri. Laki-laki itu memejamkan mata. Dinikmatinya sisa-sisa yang tertinggal dari diri perempuan itu. Dibayangkannya hangat tubuh perempuan itu, bergerak menjelajah setiap jengkal raganya, memberikannya ciuman - ciuman kecil di selipan tubuh yang tidak pernah dipikirkannya. Perempuan itu selalu penuh kejutan, seberapapun seringnya mereka bersama. Seorang perempuan yang memberikannya pengalaman pertama di usianya yang ke dua puluh sembilan tahun, suatu sore yang panas dan lengket, di kamar kontrakan ini, dua tahun yang lalu.
Hampir tiap hari sejak sore itu, perempuan itu datang ke kamar kontrakannya sepulang kerja, mereka bercinta, berkali-kali sampai keduanya diam kelelahan. Kerap perempuan itu menangis tanpa suara setelahnya. Lelaki itu hanya diam tidak berkata. Ingin rasanya dia berteriak meyakinkan perempuan itu untuk memilihnya, mendekap perempuan itu dan tidak mengijinkannya pergi, tinggal bersama di kamar kontrakannya. Bercinta dengan alasan cinta, dan bukan karena memanfaatkan waktu yang ada.
Dering handphone yang berbunyi di sekitaran waktu jam 7 atau 8 setiap malam saat mereka bersama selalu membuat nyeri dadanya. Bermacam alasan akan keluar dari bibir mungil perempuan itu saat menjawab telpon dari lelaki tunangannya. Satu sisi hatinya bangga, karena perempuan itu berbohong demi kebersamaan mereka, meski di saat yang sama lelaki itu sering bertanya-tanya, apakah perempuan itu melakukan dusta yang sama pada dirinya saat ia meminta untuk bertemu dan perempuan itu tidak menyanggupinya.
Bagaimanapun lelaki itu sadar posisinya. Dia mencintai perempuan itu dengan sepenuh hatinya, meskipun harus berbagi dengan seorang lelaki lain yang lebih dahulu memilikinya. Benarkah ini cinta? Pertanyaan itu sering hadir dalam pikirnya. Bukankah cinta seharusnya membuat seseorang merasa bahagia? Bahagia, itu yang dirasakan lelaki itu setiap mereka menghabiskan waktu bersama. Tapi perasaan nyeri dan tak berdaya juga selalu datang bersama setiap ia melihat wajah mungil dengan hidung bangir dan rambut panjang lurus berwarna kecoklatan karena darah belanda yang mengalir di nadinya. Ingin ditunjukkannya pada dunia betapa dia mencintai perempuan itu, tapi tidak mungkin dilakukannya. Dia hanya seorang laki-laki lain dalam kehidupan perempuan itu. Dia hanya pihak ketiga.
Tubuh laki-laki itu bergetar menahan rasa rindu. Jiwanya hampa, raganya kebas. Laki-laki itu menangis pelan. Dia rindu perempuan itu. Dia marah pada dirinya karena telah membiarkan perempuan itu mencuri semua persediaan cintanya. Dia marah pada perempuan itu karena membiarkannya sendiri, menderita. Dia rindu. Dia marah. Dia kembali menangis tertahan.
Dikutukinya dirinya sekarang, yang begitu tolol mempercayai akhir bahagia dari sebuah dongeng panjang. Perempuan itu dengan jabatan hebat dan segala atribut yang menyertainya. Lulusan sekolah terkenal di Amerika, ayah yang menjabat sebagai direktur bank terbesar negeri ini, keenceran otak yang tidak perlu diperdebatkan, dan segala fasilitas yang mengikuti penampilan sehari-harinya. Perempuan itu, atasannya.
Dua tahun lamanya pertemuan-pertemuan rahasia dilakukan, berkelit di antara waktu-waktu yang tersedia. Kamar kontrakan menjadi suaka, tempat mereka berdua berlindung dari orang-orang yang mengenali perempuan itu.
“Saya benar-benar harus ketemu kamu”. Lelaki itu kembali mengirim pesan kepada perempuan yang telah membuat sesak dadanya berminggu-minggu. Untuk kesekian kalinya tidak ada balasan apapun dari perempuan itu. Harapan untuk mendengar bunyi sms sebagai balasan semakin menambah kegelisahannya.
***
Handphone yang dia letakkan di atas meja di depannya bergetar, menandakan adanya pesan teks yang masuk. Perempuan itu membacanya, mengulang membacanya beberapa kali untuk kemudian menghapusnya bersamaan dengan tarikan rokok yang dalam di sela-sela bibirnya yang tersapu pemulas bibir warna merah gelap. Mata perempuan itu menerawang.
Kadang pengirim sms itu pun berusaha menghubungi langsung nomornya. Dan lagi-lagi perempuan itu hanya akan mendiamkan telpon genggamnya berbunyi berkali-kali sampai akhirnya sambungan itu masuk ke kotak suara. Penelpon itu tidak pernah meninggalkan pesan di sana, karena dia tahu perempuan itu tidak pernah mendengarkannya. Dia tahu perempuan itu hanya membaca pesan-pesan sms. Karena itulah lelaki itu kembali mengirimkan sms berulang kali kepadanya.
Perempuan itu menyalakan lagi satu batang rokok rasa mentol dan menghembuskannya perlahan. Dia sedang menunggu tunangannya sambil menikmati satu cangkir kopi hitam di sebuah kafe yang terletak di lobi gedung tempatnya bekerja. Sebentar lagi tunangannya akan datang. Setelah itu mereka akan makan malam bersama di suatu hotel berbintang atau restoran mewah, dimana biasanya paling sedikit dua orang rekan bisnis tunangannya akan ikut serta. Kemudian mereka akan membicarakan rencana-rencana pembukaan kantor-kantor cabang di kota-kota lain atau rencana-rencana pengembangan bisnis berikutnya. Bukan suatu makan malam di mana sepasang kekasih saling memandang, bercakap-cakap dengan suara pelan membicarakan pernikahan mereka yang direncanakan berlangsung kurang dari delapan bulan ke depan.
Seperti kemarin, minggu lalu, bulan lalu dan tahun-tahun sebelumnya, perempuan itu akan memberikan penampilan terbaiknya kepada para mitra usaha tunangannya. Sedikit tersenyum, sedikit berkomentar atas pembicaraan ringan yang dilontarkan pihak tamu di seberang meja, atau sesekali tertawa kecil merespon lelucon yang dilontarkan tunangannya. Saat topik pembicaraan kembali mengenai hal-hal yang tidak terlalu disukainya, maka pikiran perempuan itu akan kembali berkelana ke sebuah kamar kontrakan kecil di salah sudut kota Jakarta dengan penghuni seorang lelaki yang lebih muda dua tahun darinya, lelaki yang mengisi ruang-ruang kosong di sudut hatinya selama dua tahun ini.
“What do you want for dessert, dear?”. Pertanyaan kekasihnya menariknya kembali ke dunia nyata. “Mmmm, oh no, thank you. Aku sudah kenyang.” jawabnya sambil tersenyum yang dibalas dengan sentuhan lembut di punggung tangannya. Tunangannya berbisik mendekati telinganya “Good. I want you to keep your body slim”. Perempuan itu berusaha kembali tersenyum. Tangan lelaki itu sekarang berada di atas pahanya, mengusap perlahan di bawah meja. “Kita tinggal saja di hotel malam ini. Besok pagi aku suruh supirku untuk mengambil bajumu di rumah”. Lelaki tunangannya melanjutkan bisikannya sambil menatap mata perempuannya. Perempuan itu hanya diam. Sudah berbulan-bulan perempuan itu mengarang berbagai alasan untuk menghindari ajakan kekasihnya menghabiskan malam bersama.
Dua minggu lalu perempuan itu mengambil keputusan yang begitu berat baginya. Dia harus melupakan lelaki di rumah kontrakan itu, mengubur kenangan dan menjadikannya sebagai salah satu bagian dari hidupnya yang harus dilupakannya.
Makan malam usai. Tunangannya menjabat tangan tamu-tamunya sebelum mereka pulang. Perempuan dan tunangannya berjalan menuju kamar di lantai delapan. Begitu pintu tertutup, tunangannya langsung menghujani perempuan itu dengan ciuman penuh hasrat di bibir, leher dan payudaranya, melucuti pakaiannya sebelum merebahkannya ke atas tempat tidur berselimut seprei licin dan bantal-bantal lembut yang tersusun rapi.
Lelaki itu terkulai lemas di sebelahnya setelah berada di atas tubuh perempuan itu untuk beberapa lama. Dikecupnya kening perempuan itu sebelum akhirnya tertidur pulas bagai bayi yang baru saja menyedot susu dengan rakus dari tetek ibunya.
Perlahan-lahan perempuan itu turun dari ranjang dan meraih pakaian dalamnya yang tercecer di samping tempat tidur. Dia kemudian berjalan meraih rokok mentol di dalam tasnya, menuju kamar mandi, kemudian duduk di atas toilet sambil menikmati rokoknya. Pikirannya kembali ke lelaki di kamar kontrakan itu.
Asap dari rokoknya kembali membawa pikirannya berkelana. Kamar kos. Lelaki tampan dengan alis lebat, bibir tipis dan mata yang menikmati tubuh perempuan itu dengan pandangan hasrat dan cinta. Lelaki itu menyentuh lembut semua bagian tubuh perempuan itu yang terbaring telanjang. Ciuman dan sentuhan menjadi satu gerakan yang tak terpisahkan hingga perempuan itu menjerit kecil tertahan. “Jangan teriak keras-keras, pemisah dengan kamar sebelah kan cuma kayu, nanti kedengaran” kata lelaki itu sambil tersenyum. Perempuan itu tertawa kecil dan membalikkan tubuhnya hingga sekarang berada di atas tubuh laki-laki itu dan mulai menggerakkan pinggulnya. Lelaki itu memandang wajah perempuan yang berada di atasnya, menikmati payudaranya yang bergerak perlahan. Diraihnya salah satu dan diciumnya. Perempuan itu menutup matanya, mendesah lamat-lamat sambil mengusap rambut kepala lelaki dengan lembut. Diraihnya pinggul perempuan itu sekarang. Gerakan keduanya seirama, semakin cepat hingga kedua tubuh mereka bergetar bersamaan.
Rasa panas menyengat jari telunjuk dan tengahnya. Api dari rokok yang terbakar dan semakin pendek membuatnya tersentak kembali ke dunia nyata. Ah, dia sedang di dalam suatu kamar mewah hotel berbintang di Jakarta. Dinginnya udara yang berhembus dari mesin pendingin terasa menggigit kulitnya yang hanya berbalut dua lembar pakaian dalam. Perempuan itu mengisap dalam-dalam rokok di bibirnya dan melepaskannya dengan nafas kuat sebelum mematikan rokoknya ke asbak di atas meja rias. Bayangan lagi-laki di kamar kontrakan itu ternyata belum berhasil hilang dari pikirannya.
Perempuan itu membasuh mukanya, mengenakan kimono yang tersedia di lemari, kemudian menuju tempat tidur dan berbaring di samping kekasihnya. Diperhatikannya wajah pulas lelaki itu, terdiam beberapa saat, menerka-nerka sendiri perasaan yang ada di dirinya. Aku mencintai laki-laki ini dan akan selalu mencintainya. Perempuan itu meyakinkan hatinya seraya berusaha keras mengusir bayangan lain dari pikirannya. Diminumnya satu obat pembantu tidur, tak lama iapun terlelap.
***
“Bulan depan aku ada seminar di Kuala Lumpur satu minggu. Bisa ambil cuti kan?”, tunangannya menelponnya siang ini, bertanya dengan nada yang sebenarnya tidak memerlukan persetujuannya lagi. “Nanti aku ajukan cuti dulu” jawab perempuan itu.
“Aku siapkan tiketnya. Pasti bisa lah kamu cuti. Sudah lama kan kamu tidak cuti? Kamu kan juga sudah lama sekali tidak pergi jalan-jalan ke luar negeri sama aku. Nanti aku suruh Nita sekretarisku untuk mengatur tiketnya.”
“Awal tahun kemarin kan aku ambil cuti. Satu minggu. Ingat? Aku pergi dengan teman-temanku ke Bali”, perempuan itu menjawab sambil berusaha keras mencari jalan untuk mengelak permintaan tunangannya.
“Iya, tapi aku yakin kamu masih punya banyak cuti tersisa. Iya kan? Sudah dulu ya, aku mau meneruskan meeting dengan pak Yanuar. Kalau kamu perlu sesuatu, hubungi Nita ya. I love you”, lelaki itu menyudahi pembicaraannya.
Perempuan itu meletakkan gagang telpon kembali ke tempatnya, melihat tanggalan di agenda kerjanya, mengambil formulir pengajuan cuti dari salah satu laci dan terdiam untuk beberapa saat. Ditatapnya formulir di depannya tanpa menuliskan apa-apa.
Sudah bisa dibayangkannya, satu minggu yang akan dilaluinya nanti . Sendirian di kamar super mewah di jantung kota Kuala Lumpur hingga tunangannya selesai seminar, makan malam dengan para rekan bisnis dimana perempuan itu lagi-lagi harus memainkan perannya sebagai wanita cantik, pintar dan sempurna bagi seorang pengusaha muda sukses pemilik belasan perusahaan skala besar di Indonesia. Dan setiap malam bisa dipastikan akan diakhiri dengan permainan cinta sepihak, lelaki kehausan yang tidak perduli akan jiwanya yang kering tak tersirami. Sang lelaki akan mendengkur halus kelelahan dengan senyum kecil di bibirnya, sementara perempuan itu akan duduk menghisap rokok di kursi yang tersedia di ruang duduk di kamar suite itu, menatap kerlipan lampu-lampu kota di bawah sana.
Tapi toh perempuan itu lambat-lambat mulai mengisi kertas di hadapannya.
***
Jam 6 sore di Kuala Lumpur sekarang. Kira-kira satu jam lagi perempuan itu harus bersiap-siap untuk menemui tunangannya di sebuah restoran berkelas di kawasan pusat kota. Seharian tadi dihabiskannya waktu dengan mengunjungi berbagai mal, membeli dua gaun malam berbelahan rendah, ketat membungkus tubuhnya yang ramping terpelihara.
“My goodness, you are so beautiful”. Lelaki tunangannya menyambutnya dengan kecupan kilat di pipinya yang halus dan memperkenalkan perempuan itu kepada empat tamu lainnya. Perempuan itu menjabat halus uluran tangan keempat laki-laki yang tidak bisa menyembunyikan kekaguman dari mata mereka.
Acara makan malam usai. Pasangan itu kembali ke hotel. Adegan itu berulang kembali untuk kesekian kalinya di kamar hotel berbintang itu. Lelaki tertidur kelelahan dan perempuan yang duduk melamun ditemani asap dari rokok mentholnya.
***
Sekembalinya dari cutinya, perempuan itu menemukan surat tembusan dari bagian personalia. Lelaki itu telah mengajukan pengunduran diri tiga hari lalu. Perempuan itu terdiam, tidak bergerak, lama, duduk dengan tatapan kosong di meja kerjanya.
Ini yang terbaik. Terbaik buat semua. Kehidupanku baik-baik saja sebelum lelaki itu masuk dalam kehidupanku, dan akan baik-baik pula seperti sebelumnya. Berkali-kali diucapkannya hal yang sama, berbicara pada dirinya sendiri, meyakinkan dirinya, meski dia tidak bisa menahan airmatanya.
Ditutupnya pintu ruang kerjanya. Perempuan itu menangis lama, sampai matanya terasa sakit karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Telepon yang berbunyi memanggil-manggil tidak digubrisnya. Sesuatu hilang dari dadanya. Entah apa.
***
Sudah hampir sepuluh bulan lelaki di kontrakan itu berusaha menata lagi puing-puing kehidupannya. Rasa nyeri yang dideritanya selama berbulan-bulan pelan-pelan merayap pergi dari dadanya. Cinta. Dia tak yakin akan bisa menemukan perasaan itu lagi dalam kehidupannya. Semua habis terbawa oleh perempuan itu, tercabut sampai ke akar-akarnya.
Perempuan-perempuan di kantor, perempuan-perempuan yang ditemui di perjalanan-perjalanan bisnisnya, perempuan yang dikenalkan oleh teman-teman baiknya, tidak pernah ada satu pun yang berhasil mengisi kehampaan dalam dirinya.
Satu tahun, tiga tahun, lima tahun. Puing-puing itu tertata kembali meski tidak sempurna. Tidak akan pernah sama, lelaki itu berkata dalam hatinya. Kantor, kerja, pertemuan bisnis. Lebih dari separuh harinya dihabiskannya di tempat kerja, menyelesaikan semua tugas yang dilimpahkan kepadanya. Posisinya kian melonjak setelah ia pindah dari kantor lamanya. Dia bekerja dan bekerja, kelelahan, kehabisan daya, semata supaya bisa melewatkan malam tanpa bayangan perempuan yang telah membuatnya serasa mati suri untuk beberapa lama.
***
“Kenapa kamu tidak pernah cerita hal ini sebelumnya kepadaku Ren?”, Dita menatap wajah di depannya yang tertunduk lesu. Perempuan itu. Setelah memendam selama bertahun-tahun, akhirnya Rena memerlukan Dita, untuk berbagi cerita.
“Bagaimana mungkin aku menceritakan masalah tempat tidur kami ke orang lain Dit? Rikuh. Tidak pantas. Tapi aku tidak tahu lagi harus cerita pada siapa. Aku pikir aku bisa bahagia. Aku pikir cintaku masih sama besarnya sampai akhirnya kuputuskan untuk menikah dengan tunanganku. Tapi ternyata ada sebagian diriku yang sudah terbawa oleh laki-laki itu. Kau tentu tahu siapa yang kumaksud.” Rena berkata pelan dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kucoba untuk mencintai suamiku. Kucoba untuk melupakan bayangan laki-laki itu. Lima tahun Dita! Tapi ternyata wajah laki-laki itu tidak juga bisa hilang dari pikiranku. Bisa jadi ini juga karena suamiku yang tidak pernah peduli akan keinginanku. Mana pernah dia mencari tahu apa yang kuinginkan di tempat tidur. Buat dia aku hanya pelampiasan birahinya. Lima tahun Dit! Dan tidak pernah sekali pun aku merasakan terbang ke awang-awang seperti yang selalu diberikan oleh laki-laki itu kepadaku.”
Dita menatap dalam wajah sahabatnya dan menjerit kecil “Oh my God. You are really in love with that guy. Ternyata lelaki itu benar-benar telah mengambil separuh jiwamu, iya Ren?”.
Rena menunduk, air mata perlahan menetes dari sudut-sudut matanya. “Rasanya tersiksa sekali setiap suamiku menghampiriku di tempat tidur, rasanya tubuhku tak pernah siap, selalu menolak. Tak jarang kurasakan sakit, karena penolakan yang diberikan tubuhku. Rasanya seperti diperkosa berkali-kali. Tapi aku tak mungkin mengatakan tidak terus menerus pada suamiku. Aku harus melayaninya. Meski aku tidak pernah menikmatinya.”
“Aku mau mengajukan cerai Dit”, Rena berkata pelan. “Aku lelah berpura-pura. Aku lelah terus -menerus selalu berusaha membahagiakan orang lain. Aku tahu ini juga salahku. Dulu aku tidak berani untuk memilih lelaki itu dan memutuskan pertunanganku. Aku pengecut, memang. Dulu aku tidak sanggup membayangkan hidup dengan kesederhanaan. Dulu aku selalu menganggap ketimpangan di antara kami terlalu jauh sehingga malah akan menyulitkan. Tapi ternyata, aku salah. Cintalah yang berperan sebagai jembatan antara semua ketimpangan.”
***
“Hasil semua tes anda bagus. Mungkin ada baiknya anda ke psikiater, untuk melihat kemungkinan-kemungkinan lainnya. Saya bisa sarankan anda untuk konsultasi ke rekan saya”, dan dokter spesialis itu pun memberikan nama dan alamat kepada lelaki itu.
“Terima kasih dok” ucapnya sambil ke luar dari ruangan praktek itu. Lelaki itu sudah tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya. Cuma ada satu obat penawarnya. Perempuan itu.
Beberapa tahun ini, tidak jarang berbagai perempuan berparas rupawan yang begitu penasaran atas kedinginan hati lelaki itu mendatanginya di kamar kontrakannya, tapi tak ada satu pun yang berhasil mengusik gairahnya.
Setiap kali perempuan-perempuan yang datang silih berganti itu sudah berbaring setengah telanjang, mengenakan hanya sepasang pakaian dalam, maka lelaki itu pun tiba-tiba menghentikan gerakannya, tanpa bicara sepatah kata, meminta dengan sopan kepada perempuan yang berbaring di atas ranjang untuk kembali mengenakan pakaiannya, mengecup lembut pipinya dan mengantarkan perempuan itu pulang.
Perempuan-perempuan berparas rupawan semakin penasaran dan memuja lelaki itu. Lelaki sopan, lelaki yang tidak melulu menginginkan tubuh perempuan. Begitu pikir mereka. Lelaki tersebut diperebutkan, bahkan dipertaruhkan.
***
Lelaki itu duduk diam di pinggir tempat tidur kamar kontrakannya yang baru, yang kini dilengkapi dengan pendingin ruangan, kasur empuk, lemari dan sebuah TV. Sesekali bayangan perempuan itu masuk lagi ke dalam pikirannya tanpa bisa ia kendalikan, seperti dini hari ini. Dirasakannya regangan di sela selangkangannya setiap bayangan perempuan itu merasuki pikirannya. Lelaki itu tertunduk lesu.
Lima tahun sudah, puluhan perempuan, yang datang dengan suka rela ataupun yang dihargai dengan sejumlah rupiah olehnya, tidak satupun berhasil menyembuhkan luka jiwanya yang meradang menjalar hingga ke kemampuan seksualnya.
Ingin rasanya membenci perempuan itu, penyebab semua deritanya. Tapi ia tak pernah bisa. Seringkali ia ingin menghubungi perempuan itu lagi, melihatnya, menyentuhnya. Tapi nyalinya tak ada. Dulu, perempuan itu meminta untuk membiarkannya bahagia, memintanya untuk melupakan dirinya dan meninggalkannya. Lelaki itu tersenyum kecil, berkata pada dirinya. Dulu, perempuan itu menjadikannya lelaki sempurna selama dua tahun lamanya. Dua tahun, sudah cukup baginya.
Semarang, Bandung, Jakarta-Agustus 2008
We’re just not meant to be, that’s all …
38 Comments
26th Aug 2008
Hasil pengamatan gue ke beberapa orang terdekat gue….
Seringkali di hidup ini kita ga punya apa yang orang lain punya, yang kita sangat-sangat inginkan. Gue ga bicara soal benda. Gue bicara soal keluarga, hubungan, kasih sayang, cinta.
Salah satu sahabat gue, cuma punya satu saudara kandung. Cuma dua bersaudara, apalagi udah ga punya orang tua, tentunya membuat sahabat gue berkeinginan punya hubungan yang dekat, erat, sweet n closed relationship with her own sister. Tapi yaa… hidup emang ga sesederhana itu. Dengan segala permasalahan yang ada, hubungan mereka makin hari makin jauh aja. Jangankan untuk telpon berbagi cerita, bahkan ketemu untuk makan bareng atau sekedar ngopi2 pun jarang banget bisa dilakukan. Penyebabnya? Ga usah gue ceritain lah di sini. Kadang di suatu keluarga kan pasti ada aja masalah ini itu …..
Tapi tau ga? Kakak-kakak iparnya sayang banget sama dia. Sobat gue ini bisa dengan mudahnya angkat telpon, merajuk atau cerita apa aja ke kakak iparnya. Ngopi2 sore, ketawa dan ngobrol ga juntrungan berjam2 buat ngilangin kesuntukan ..
Sobat gue yang lain lagi juga begitu. Sudah cukup lama sobat gue ini gawe di negeri orang, sendiri, orang tuanya udah ga ada. Sampe akhirnya dia menikah dua taon lalu dan gue menyaksikan sendiri gimana seluruh keluarga suaminya benar-benar memperlakukan dia seperti anak sendiri. Sobat gue ini seperti punya papa mama dan teteh2 baru yang lengkap. Gue sampe sirik terharu ngeliatinnya. I’m happy for you, my dear friend.
Kisah sobat gue yang lain lebih hebat lagi. Di dalam perjalanan hidupnya, sobat gue ini suatu saat sampai pada suatu titik dimana dia harus memulai hidupnya lagi dari awal, sendirian. Tapi ternyata dia menemukan sebuah kebenaran yang membahagiakan. Setelah puluhan tahun, sobat gue ternyata menemukan kenyataan bahwa dia mempunyai 9 saudara lain dan bukan anak tunggal. Hidupnya seketika jadi ramai, penuh agenda, penuh acara.
Gue yakin kok hidup ini penuh keseimbangan. Yang kita ga dapetin di sini, kita akan dapetin di tempat lain. Yang kita ga dapetin sekarang, kita akan dapetinnya di saat lain. Iya kan?
God works in a mysterious way … percaya deh 
8 Comments
24th Aug 2008
Mungkin karena minggu lalu long weekend dan orang udah pada ambil cuti panjang, jadi Bandung kali ini ga terlalu macet. FO pun ga terlalu seperti pasar senggol. Rame sih, tapi masih wajar lah.
Gue nyampe kemaren pagi, naik travel untuk pertama kalinya. Not bad at all. Berdua dengan sahabat lama, jam 9 nyampe, langsung diajak nyarap bubur ayam di daerah burangrang situ. Bubur dengan cakwe, irisan telor rebus, ayam dan potongan ati ampela yang gede2 banget. Nih tempat udah buka dari jam 6 pagi dan rame ajah. Rasanya ? so pasti yummy dong.
Siangnya kita diajak ke warung ampera. Gila! gue kalap mau pesen semua. Akhirnya gue pesen sate sapi, otak goreng dan gepuk. Daging2 itu semuanya empuukk banget dengan bumbu yang meresap dengan sempurna *halah he3*. Makannya dengan sambel yg pedes dan seru banget. Sebenernya sih masih pengen mesen iso, paru, babat goreng dll, apa daya kenyangnya udah sampe berasa ke ujung2 jari hihihi.
Malemnya gue nyari mie yamin baso n nyemilin batagor kingsley pesenan temen yang duduk di depan gue. On the way home, masih sempet nyari jamur goreng yang katanya enak banged, tapi ternyata udah tutup. Mmmm ..nanti sore nyoba nyari lagi ah …
Dulu gue suka kangen Bandung, ga tau apanya. Mungkin karena gue pernah tinggal tiga taon di sini. Dulu, setiap beberapa bulan sekali gue pasti aja main ke sini, biar cuma nginep semalam atau jalan pulang hari. Suasananya suka ngangenin. Tapi sekarang gue kok ga ngerasaan vibrasi kota ini kaya dulu lagi ya?
Just typical cities in Indonesia dengan shopping mall, FO dan segala keruwetannya
. Eh yang merasa orang Bandung, jangan marah yaaa
13 Comments