Melanglang di Magelang

10th Jun 2010



Sepasang sahabat mengajak saya dan dua sahabat lain untuk berlibur di rumah keluarga besarnya yang terletak di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, tepatnya di Mungkid, sekitar 1 km dari candi Borobudur.  Sebuah padepokan salah satu pelukis besar negeri ini. Sebuah tempat tetirah yang nyaman, teduh dan asri.

Well, membayangkan menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama sahabat-sahabat, menjajal berbagai penganan lokal, biar cuma beberapa hari, saya pun memutuskan untuk bergabung di saat2 terakhir. Kami berenam memulai perjalanan liburan singkat ini dengan pesawat paling pagi. *huaammm, ngantuk*

Untungnya di luar kegiatan gigi geraham yang super aktif (makanannya edan-edan euyyy) *pembenaran :D*, kita masih menyempatkan diri untuk melakukan aktifitas lain: ngontel sepeda ke pasar borobudur, jalan kaki (lagi2 ke pasar borobudur buat nguber lupis dengan gula jawanya yg mantab itu) dan main arung jeram di sungai Elo.

FYI. Gara2 upload-an foto lupis dengan gula arennya yang kental itu, seorang teman di Jakarta langsung meminta pasangannya untuk dicarikan lupis untuk sarapan, dan misuh2 karena gula arennya cair, tidak sekental yang kami nikmati di pasar borobudur itu.

OK, ini sedikit ‘cerita’ beberapa penganan yang saya dan sahabat2 saya nikmati di magelang, muntilan dan yogyakarta.

Soto Ayam Pak Slamet, Mejing Kidul, Gamping, Sleman

Dikenal juga sebagai soto sawah, karena persis di depan restoran soto ini terdapat sawah. Seperti layaknya soto2 di jawa, yang bikin seru adalah ube rampenya, atau segala macam pelengkap buat menemani soto tersebut. Ada sate ayam (tanpa bumbu  kacang tentunya). Sate yang sudah direndam bumbu2 sehingga terasa sedikit manis. Uenakk. Lalu ada sate telor puyuh yang dibumbu bacem, ati ampela, dan yang paling enak menurut saya adalah: ayam goreng kampungnya. Penyajian paha ayamnya agak unik *paling tidak buat orang Jakarta ;) * karena disajikan dengan bagian cekernya.

Pukis Muntilan

Adonannya pas, manisnya pas. Gerobak pukis yang terletak di pinggir jalan raya Muntilan. Tidak jauh dari klenteng. Tadinya hanya buka siang sampai sore. Tapi karena banyak permintaan, akhirnya ibu2 penjualnya memutuskan untuk berjualan dari pukul 9 pagi. Pukis ini merupakan usaha generasi kedua. Maklum saja, ibu penjual pukis ini memulai usahanya dari tahun 1977.

Mie godog pak Toto, jl lettu sugiano muntilan

Berdasarkan rekomendasi keluarga teman, kami menikmati mie godok pak Toto di Muntilan sebagai menu makan malam. Sambil menunggu mie yang digodog satu per satu, kami ngobrol dengan pak Toto yang bercerita bahwa ia baru mulai berjualan mie 2 tahun belakangan ini. Sebelumnya selama hampir 20 tahun pak Toto bekerja sebagai supir truk. *bukti kalau mau alih profesi bisa di usia berapa saja ;)*

Lagi2, yang khas dari mie2 godog di Yogya dan sekitarnya adalah “asesoris”nya, ada brutu, telor muda, ati ampela dan kepala ayam. Saya memilih menambakan telor muda di mie godog yang saya pesan, dengan irisan dua cabe rawit berwarna kuning dan merah cerah ke dalamnya. Slrrppp, ssshhh haaahhh.

Gudeg mbok Jayus

Jl. kh. dalhar 201, muntilan

Sudah mulai buka dari jam 6 pagi.

Cuma satu kata: Nyossss ;)

Bale Raos Yogyakarta

Jl. Magangan Kulon No.1 Kraton Yogyakarta

Restoran yang menyajikan masakan kesukaan Sultan Yogyakarta, dari masakan favorit Sultan Hamengkubuwono VII sampai ke Sultan Hamengkubuwono X.

Favorit saya: bestik Jawa, bestik lidah dan macem2 makanan penutupnya. ;)

Beberapa tempat makan mantap lain rekomendasi dari teman2 yang tidak sempat saya sambangi: Brongkos Warung Ijo Mbok Padmo di kolong jembatan Kali Krasak (yang memisahkan Jateng dan Jogja), sate sapi bumbu kacang dengan kuah sayur lodeh tempe di Kotagede.

Kalau punya banyak waktu (dan kapasitas perut yang memadai), beberapa tempat lain yang bisa disambangi: Es Murni di Jl. Sriwijaya, yang menjual beragam es dan makanan , serta kupat tahu Pak Slamet di jl raya magelang.

1 Comment

 

Sepotong siang di depan Pura - menikmati kuliner khas Singaraja

3rd May 2010



Lion City. Begitu clue yang dikirim lewat email untuk acara USD (Underground Secret Dining) bulan ini. Dan seperti biasa, saya dan beberapa teman pun mulai menerka-nerka.

“Kalau bukan Singaparna ya Singaraja,” begitu akhirnya saya dan teman-teman saya berkesimpulan.

OK, memang ternyata tebakan kami benar. Makanan yang disediakan untuk para foodie siang itu adalah makanan khas dari bagian utara Pulau Bali yaitu kota Singaraja.

Tapi toh, tetap saja kami semua (paling tidak saya dan teman2 yang datang ber-12!) tetap merasakan sensasi underground dan secret- nya!

Pilihan tempat yang dipakai untuk acara siang itu sangat menyenangkan.

Kursi-kursi dipasang berjejer-jejer di bawah pohon beringin berukuran raksasa, di depan sebuah warung makanan bali yang berada di samping depan sebuah pura.

Ruangan terbuka, ndak pake pendingin ruangan, hanya hembusan angin (yang kok ya hari itu pas cuaca sedang tidak terlalu panas) ditingkahi bunyi gamelan angklung yang dimainkan seorang beli sambil ngedeprok di salah satu sudut, menemani makan kita siang itu.

Lokasi Pura yang mencil, membuat suasana jadi lebih tenang. Kami pun sempat lupa kalau kami masih ada di salah sudut kota Jakarta yang terkenal akan keribetannya. Jelambar, Grogol! Kurang riweuh apa coba? J

Nyonya rumah acara kali ini namanya adalah Ibu Made, pemilik warung makan  Gusti Putu Puja.

Dari obrolan dengan teman2 peserta USDers yang lain, rata-rata tidak menyangka dan sebagian besar tidak tahu *kayanya malah ga ada yang tahu deh ;) * bahwa ada satu pura besar di daerah Jelambar ini. Yang dikenal oleh orang-orang adalah pura yang berlokasi di Rawamangun. Di sana juga ada warung makan yang menjual nasi rames bali, seperti kepunyaan Ibu Made ini.

Salah satu sobat saya sempat bicara dengan Ibu Made. Bu Made menceritakan bahwa warung makannya ini sudah dikelola oleh generasi ke 2. Orang tuanya lah yang pertama kali membuka warung ini tidak lama setelah kedatangan mereka tahun 1978 ke Jakarta.

Untuk informasi, warung makan ini buka setiap akhir pekan kedua, ketiga, dan keempat dan tutup di minggu pertama. Jadi buat kalian yang kangen sama nasi campur bali, langsung meluncur aja ke sini. Oh iya, karena ini warung nasi campur bali, tentu saja tersedia menu non halal ;). Tapi khusus untuk USD kali ini, menu yang disajikan halal semua.

OK, sekarang beralih ke makanan yang disiapkan oleh Ibu Made.

Yang pertama ditawarkan kepada para USDers yang datang adalah lepet pisang. Yang bikin unik adalah kalau lepet biasanya isinya adalah kacang tolo, kalau lepet khas singaraja ini isinya pisang. Ketannya legit, bertemu dengan pisang yg manis …nyessss. Uenak. (ini favorit saya di USD kali ini selain es cincaunya)

Untuk makanan, saya memulai dengan sayur runis yaitu sayur nangka muda kuah bening dengan  isi kacang rusin. Kacang rusin bentuknya seperti black bean, tapi lebih kecil dan rasanya renyah, kres kres. Menurut Ibu Made, dia tidak bisa mendapatkan kacang itu di Jakarta, kacang itu dikirim dari Bali, lebih tepatnya, dari Singaraja.

Kemudian untuk menemani nasi putih, saya pun mengambil ikan panggang kuah kemiri (ikan  tongkol), tum sapi (semacam botok kalau di makanan jawa, dengan isi daging sapi), ayam suwir bumbu sereh, rambanan (ayam suwir dengan rempah yang dimasak dengan kuah  kental dari tepung beras), abon sapi (memakan waktu dua hari untuk buat abon sapi ini supaya terasa garing, dan hanya beberapa menit untuk menghabiskannya he3), dan yang terakhir (dan paling juara!) adalah sambal terasinya! Sambal terasi bu made ini khas sekali, karena tidak diulek, tapi menggunakan cabe potong. Yang paling awal habis adalah sambal ini. Ternyata para USDers, banyak yang gila cabe hehehe

Begitu selesai makan, saya langsung berdiri siap mengantri di dekat meja makanan penutup. Di situ disediakan es daluman yang harus kita racik sendiri sesuai selera. Es daluman merupakan kombinasi dari cincau hijau, kelapa bakar sebagai pengganti santan (ini yang bikin rasanya jadi unik), remukan es batu dan leleran gula aren yang dicairkan. Hmmmm. Entah karena suasananya yang menyenangkan, entah karena saya penggila segala makanan/minuman yang menggunakan gula aren/gula jawa, entah karena masih lapar (? hahaha), saya pun mengantri lagi untuk gelas yang kedua! ;)

Buat saya, USD kali ini adalah one of the Underground Secret Dining events I enjoy the most. Mengutip status teman saya, Wahyu,  yang baru pertama kali ikut USD di twitternya - That’s why they called it underground secret dining: exotic ambience, enthusiatic crowd, n educated me about our lovely Indonesian culinary heritage.

Tidak beda dengan teman saya tadi, USD buat saya bukan sekedar acara makan-makan, dan ajang ketemu orang-orang dengan passion yang sama. USD juga berarti tahu lebih banyak tentang Jakarta! Kalau bukan karena USD, belum tentu kalian tahu ada pura bali besar di daerah Jelambar dengan warung nasi di depannya yang menjual salah satu nasi campur bali dengan rasa otentik di Jakarta kan? ;)

2 Comments

 

Go Jampit!

13th Apr 2010



Java Jampit. Seingat saya, gabungan kata ini pertama kali saya dengar dua tahun lalu, saat mengikuti sebuah acara coffee cupping - suatu cara untuk menilai kualitas kopi dengan melakukan semacam blind test terhadap rasa2 kopi. Sebagai perbandingan, untuk wine istilah yang biasa digunakan adalah wine testing, maka untuk kopi istilah yang digunakan adalah coffee cupping.

Java Jampit. Dari pembawa acara coffee cupping itulah saya tahu bahwa Jampit adalah suatu tempat penghasil kopi arabika terbaik di Jawa.

Saya tidak pernah punya rencana untuk mengunjungi Jampit, sampai suatu siang seorang teman membuzz saya di YM, mengajak saya berlibur ke kawah ijen.

teman: ke kawah ijen yuk, mbak?

saya: ijen? di mana tuh *sambil langsung mengetik kawah ijen di alat pencari google, dan langsung tersenyum senang*

saya: mau mau, ternyata ijen tuh deket dengan jampit, ok count me in!

Dan selama beberapa hari setelah itu sibuklah saya dan teman ini bertanya-tanya dengan om google, bagaimana cara ke sana, di mana tempat penginapan yang bagus, berapa biaya yang harus dikeluarkan, apa yang harus disiapkan dan lain-lain dan lain-lain.

Kawah ijen memang tidak setenar Bromo. Kawasan Jampit pun masih banyak orang yang belum tahu. Alhasil info-info yang kami dapatkan dari internet pun masih simpang siur.

Beberapa info dengan senang hati akan saya bagi di sini, karena sumpah! ;) meskipun perjalanan ke sana jauh, melelahkan, lama, dan jalannya jelek banget, berbatu-batu sehingga membuat badan rasanya remuk, tapi begitu sampai di Arabica homestay, tempat kami menginap, saya dan ketiga teman perjalananpun langsung berteriak girang. Suhu 18 derajat yang langsung menggoda kulit, kabut yang menyelimuti Gunung Ijen di kejauhan, dan taman yang dipenuhi bunga bak karpet warna-warni menyambut kami.

Untuk mencapai kawasan Jampit-Kalisat yang berada di kabupaten Bondowoso, kami menggunakan bis patas AC dari terminal bis Bungurasih, Surabaya. Satu hal yang perlu diketahui, jadwal bis AC dari Surabaya ke Bondowoso cuma ada dua kali sehari yaitu jam 10.30 dan (kalo ga salah) ada lagi yang sekitar jam 5 sore atau 7 malem (saya lupa). Jadi saran saya, kalau mau mengejar bis yang pagi dari Surabaya ke Bondowoso, harus ambil jadwal pesawat pertama dari Jakarta.

Perjalanan dari Surabaya ke Bondowoso memakan waktu 5 jam, bis berhenti sekali di terminal Probolinggo. Untuk menyambung perjalanan dari Bondowoso ke perkebunan kopi Jampit, cuma ada satu macam kendaraan yaitu angkot dengan jadwal paling siang jam 12an. Karena bis tiba di Bondowoso sudah hampir jam 5 sore, maka tidak ada pilihan selain menginap satu malam di Bondowoso.

Kami menginap di hotel Palm, sepertinya hotel paling bagus di kota ini.

Ah ya, tentu saja kalau tidak mau menggunakan kendaraan umum, bisa menyewa kendaraan dari Surabaya ke Bondowoso, atau langsung ke Jampit.

Lebih enak berangkat pagi-pagi dari Bondowoso menuju Jampit/Kalisat, supaya tiba di Jampit homestay tidak terlalu sore. Bondowoso - Jampit +/- 3 jam. Sekedar mengingatkan lagi, jalanannya jelek banget.

Angkot berhenti persis di depan Arabica Home Stay. Untuk informasi, ada beberapa pilihan penginapan di daerah ini. Semua berlokasi di dalam area PTPN XII. Ada Arabica homestay, Catimor dan Strawberry Homestay. Kami memilih Arabica homestay karena penginapan ini mempunyai view yang paling menyenangkan, gunung ijen dan taman penuh bunga2 dari teras depan, sedang teras belakang bisa melihat pegunungan lain yang tertutup kabut.

Yang paling bagus sih sebenarnya Jampit guest house, tapi tentu saja harganya beda. Guest house ini harus disewa secara keseluruhan (satu villa), isinya 5 kamar, ada perapian, dapur dan halaman yang cantik. Guest house ini merupakan peninggalan Belanda, keren banget. *ada harga ada rupa ;) *

Kawah ijen

Dengan menyewa mobil, kawasan Ijen bisa ditempuh selama hampir 1 jam dari Jampit. Puncak kawah ijen bisa dicapai dengan berjalan menanjak selama 1-1,5 jam (tergantung kecepatan jalan hehehe). Jarak dari bawah ke puncak = 3 km. Di perjalanan ke kawah, dipastikan akan bertemu dengan “penambang” belerang yang membawa sekitar 30 kg (!) batu belerang dengan cara memanggulnya di pundak. Saya yang menyerah di kilometer 1,5 hanya bisa terbelalak kagum dengan bapak-bapak penambang yang dengan tenang membawa beban belerang di bahunya.

Perkebunan kopi Belawan

Masih dengan mengendarai mobil sewaan, kami melanjutkan ke perkebunan kopi Belawan yang bersebelahan dengan Jampit. Jampit mempunyai luas hampir 2000 hektar, sedang belawan sekitar 1000 hektar. Di sini kami menyempatkan untuk melihat peternakan Luwak. Di Jampit terdapat 100 ekor luwak yang diternakkan dan menghasilkan hampir dua ton kopi luwak setiap tahunnya. Oya, berhubung bulan ini biji2 kopi belum matang, maka luwak-luwak ini hanya diberikan pepaya. Mulai bulan Mei nanti (saat mulai musim panen), maka luwak2 ini di”cekoki” biji2 kopi satu kilo per hari.

Air terjun Belawan

Di kawasan Belawan ini, ada air terjun yang merupakan tempat pembuangan air dari kawah ijen yang banyak mengandung belerang. Tidak seperti air terjun pada umumnya di mana kita bisa mandi2 di bawahnya, air terjun ini hanya bisa dinikmati dari jauh karena dikelilingi tebing yang curam.

Oleh-oleh

Yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh dari daerah ini tentu saja apalagi kalau bukan kopi arabika java jampit yang dijual di penginapan. Selain itu ada juga kopi luwak dengan harga yang cukup berbeda dengan harga di Jakarta (ya iyalaahh).

Yang agak mengejutkan buat saya, ternyata perkebunan Jampit juga menghasilkan kacang macadamia. Kami beli yang mentah dengan harga Rp 80.000/kg.

Ada juga dodol stroberi, selai stroberi dan buah stroberi segar yang dijual di restoran penginapan. Satu pak stroberi 10ribu rupiah saja ;)

Hal yang harus disiapkan

Berhubung kawasan ini jauh dari mana-mana, lebih baik kalau menyiapkan banyak cemilan. Apalagi udara dingin yang membuat gigi geraham kepingin terus aktif bergerak ;)

Suhu udara saat saya dan teman2 datang, berkisar antara 14-18 derajat. Kami diberitahu bahwa Agustus adalah bulan dengan suhu terendah, bisa mencapai 3-10. Bahkan pernah di bawah 0. Wuih, ngebayang pasti asik sekali (saya suka udara dingin)

Biaya-biaya

Tiket patas AC Surabaya - Bondowoso atau sebaliknya = Rp. 43.000

Tiket ekonomi Surabaya - Bondowoso (tanpa AC) atau sebaliknya = 27.000

Tiket angkot Bondowoso - Jampit = Rp. 15.000-20.000 (tergantung banyaknya bawaan/tas)

Sewa mobil ke kawah ijen = Rp. 250.000, kalau dilanjutkan dengan ke Belawan menjadi Rp. 300.000

Tiket masuk ke kawah ijen = Rp. 3500/org, ditambah asuransi Rp. 500

Arabica homestay: 125.000-175.000/malam, tergantung jenis kamar.

Transportasi kembali ke Surabaya

Dari Jampit/Kalisat, angkot berangkat dari jam 6 pagi sampai 7 pagi. Karena ini satu2nya moda transportasi yang tersedia untuk kembali ke Bondowoso, pastikan untuk sudah siap pagi2 betul supaya tidak tertinggal angkutan.

Salah satu pengurus di Arabica homestay (Ibu Minarsih) sangat helpful. Ia menawarkan untuk menelpon supir angkot sehingga pagi2 angkot tersebut menjemput kita di penginapan.

Bis patas AC dari Bondowoso hanya ada 2 jadwal : jam 3.20 pagi dan jam 15.00. Kalau bis ekonomi alias tidak AC masih ada beberapa jadwal, tapi pilihan akan lebih banyak tersedia di terminal Besuki. Jadi kami akhirnya memutuskan naik bis ekonomi dari Bondowoso ke Besuki dan bukannya menunggu bis ekonomi dari Bondowoso. Dari situ bisa menyambung dengan bis AC ke Surabaya.

thanks to irev chaniago buat foto kawah ijen dan penambang belerang  :)

9 Comments

 

Rumah-rumah

1st Apr 2010



Jumat, 26 Maret lalu saya datang ke Salihara, acara tujuh dasawarsa sastrawan Sapardi Djoko Darmono. Di antara beberapa puisi dan cerita pendek yang dibacakan oleh Niniek L Kariem, Happy Salma dan Sitok Srengenge secara bergantian, pembacaan cerpen Rumah - Rumah (yang pernah dimuat di Koran Tempo, 2003) yang paling saya nikmati. So witty!

Ada beberapa bagian dari cerpennya yang sukses membuat saya tergelak. Ini dia potongannya :

Saudara tinggal di dalam rumah juga, bukan? Saudara pasti pernah merindukan rumah, tetapi pernahkah Saudara merasa dirindukan rumah?

kemudian yang bagian ini :

Jadi, bagaimana? Percayakah Saudara bahwa hantu itu ada? Jengkol itu ciptaan-Nya, demikian juga Saudara. Sedangkan rumah adalah ciptaan manusia. Hantu ciptaan siapa, coba? Siapa pula yang mau susah-susah–maaf–menciptakan hantu kalau manfaatnya hanya untuk menakut-nakuti manusia?

Malam itu, sang sastrawan gaek tampil dengan topi baret kotak2nya, berbaur duduk dengan penonton di baris kedua dari depan, menyaksikan puisi dan cerpen2nya dibacakan, dijiwai dan dinikmati oleh para pecinta karyanya.

Selamat ulang tahun pak Sapardi!

2 Comments

 

My other side of life ;)

4th Feb 2010



Di sela-sela kesibukan gue menjadi ‘buruh’ di suatu organisasi non profit di Jakarta, gue juga ‘membantu’ seorang sahabat, seorang fengshui consultant yang sering menjadi seorang narasumber di  berbagai acara, baik di televisi maupun radio. Ga jarang juga sahabat saya ini diminta untuk mengisi kolom2 di majalah atau media cetak lainnya.

Nah, biasanya di akhir kolom tulisannya di media cetak, rekan ini akan mencantumkan alamat email bagi mereka yang ingin untuk melakukan konsultasi lebih lanjut mengenai feng shui, mian xiang (salah satu ilmu metafisika cina yaitu membaca karakter seseorang melalui wajahnya) ataupun membaca garis hidup melalui tanggal dan jam lahir (biasa disebut bazi- dibaca : pa’ce). Nah, kali ini karena ingin mengetahui respon pembaca lebih lanjut, maka kita mencantumkan nomor telpon yang bisa dihubungi. Dan dicantumkan lah nomor hp gue di media cetak tersebut.

Guess what? Well, emang banyak sih yg sms. Tapi ada beberapa pertanyaan yang buat gue ajaib banget sampe bikin gue ketawa gegulingan n ada juga yg bikin gue pengen banting telpon hehehe *lebay*

Anyway, ini dia beberapa sms yg masuk tersebut :

“Halo Om. Please ramalkan aku. Wajah saya mirip jay chou tapi giginya boneng” (gue berusaha ngebayangin tapi ga berhasil juga hehehe)

*****

“Saya seorang wanita single, 36 tahun, belum mendapat jodoh. Bagaimana kalau mau konsultasi”

dan gue jawab bahwa gue akan atur jadwal ketemu kalau memang tertarik untuk konsultasi blablabla.

Dan dijawab lagi:

“mahal ya? Saya pegawai negeri sipil gol IIIA. Bapak bisa menerima askes?

(Dan gue pun tiba-tiba berasa pengen banting telpon)

*****

Atau pernah juga pas bicara soal tahi lalat di salah satu radio swasta, dan seorang pendengar laki2 mengirimkan sms seperti ini

“Di anu saya ada tahi lalat. Berarti saya kuat begituan ya” (Ini niat tanya apa nyari pengakuan ya? hihihi)

*****

O iya belum lama ini juga ada yang telpon, nanya ini:

“Saya lahir tahun 1969, tapi ga tahu tanggal lahir saya. Bapak bisa tahu ga ya?” (Sumpah, gue langsung bingung mau jawab apa? ;) )

5 Comments

 

« Previous Entries