Separuh jiwa

26th Aug 2008



Pernahkah kau merasa begitu rindu dengan seseorang hingga seluruh relung di dadamu terasa sesak sakit karena perasaaan tertahan yang harus kau pendam? Di kamar kosnya yang sederhana, yang hanya dilengkapi dengan satu lemari kecil untuk pakaian, sebuah dipan dan cermin berbentuk kotak tanpa bingkai yang terpaku di dinding, laki-laki itu tergeletak diam memandangi langit-langit kamarnya. Setiap sela dalam dadanya terasa menyempit, membuatnya kesulitan bernafas. Ditariknya nafas panjang perlahan.

Kipas angin murahan dengan tiga baling-baling yang menempel di langit-langit kamar mengeluarkan bunyi bergemeretak seakan protes untuk berhenti berputar. Cuma itu satu-satunya alat penyejuk udara di ruangan berukuran 3 x 3 meter, dengan cat dinding yang mulai mengelupas di beberapa bagiannya. Meski udara panas serasa membekapnya, laki-laki itu tak berkeinginan membuka pintu kamar. Posisi pintu yang langsung menghadap ke lorong rumah membuat orang-orang yang melewati kamar tersebut melirik, terkadang ada yang terang-terangan memperlihatkan keingintahuannya mencuri pandang ke dalam kamar tersebut.

Kesendirian terasa menusuknya. Wajah perempuan itu kembali hadir di matanya. Wangi tubuh perempuan itu masih terasa di bantal dan kasur yang sedang ia tiduri. Laki-laki itu memejamkan mata. Dinikmatinya sisa-sisa yang tertinggal dari diri perempuan itu. Dibayangkannya hangat tubuh perempuan itu, bergerak menjelajah setiap jengkal raganya, memberikannya ciuman - ciuman kecil di selipan tubuh yang tidak pernah dipikirkannya. Perempuan itu selalu penuh kejutan, seberapapun seringnya mereka bersama. Seorang perempuan yang memberikannya pengalaman pertama di usianya yang ke dua puluh sembilan tahun, suatu sore yang panas dan lengket, di kamar kontrakan ini, dua tahun yang lalu.

Hampir tiap hari sejak sore itu, perempuan itu datang ke kamar kontrakannya sepulang kerja, mereka bercinta, berkali-kali sampai keduanya diam kelelahan. Kerap perempuan itu menangis tanpa suara setelahnya. Lelaki itu hanya diam tidak berkata. Ingin rasanya dia berteriak meyakinkan perempuan itu untuk memilihnya, mendekap perempuan itu dan tidak mengijinkannya pergi, tinggal bersama di kamar kontrakannya. Bercinta dengan alasan cinta, dan bukan karena memanfaatkan waktu yang ada.

Dering handphone yang berbunyi di sekitaran waktu jam 7 atau 8 setiap malam saat mereka bersama selalu membuat nyeri dadanya. Bermacam alasan akan keluar dari bibir mungil perempuan itu saat menjawab telpon dari lelaki tunangannya. Satu sisi hatinya bangga, karena perempuan itu berbohong demi kebersamaan mereka, meski di saat yang sama lelaki itu sering bertanya-tanya, apakah perempuan itu melakukan dusta yang sama pada dirinya saat ia meminta untuk bertemu dan perempuan itu tidak menyanggupinya.

Bagaimanapun lelaki itu sadar posisinya. Dia mencintai perempuan itu dengan sepenuh hatinya, meskipun harus berbagi dengan seorang lelaki lain yang lebih dahulu memilikinya. Benarkah ini cinta? Pertanyaan itu sering hadir dalam pikirnya. Bukankah cinta seharusnya membuat seseorang merasa bahagia? Bahagia, itu yang dirasakan lelaki itu setiap mereka menghabiskan waktu bersama. Tapi perasaan nyeri dan tak berdaya juga selalu datang bersama setiap ia melihat wajah mungil dengan hidung bangir dan rambut panjang lurus berwarna kecoklatan karena darah belanda yang mengalir di nadinya. Ingin ditunjukkannya pada dunia betapa dia mencintai perempuan itu, tapi tidak mungkin dilakukannya. Dia hanya seorang laki-laki lain dalam kehidupan perempuan itu. Dia hanya pihak ketiga.

Tubuh laki-laki itu bergetar menahan rasa rindu. Jiwanya hampa, raganya kebas. Laki-laki itu menangis pelan. Dia rindu perempuan itu. Dia marah pada dirinya karena telah membiarkan perempuan itu mencuri semua persediaan cintanya. Dia marah pada perempuan itu karena membiarkannya sendiri, menderita. Dia rindu. Dia marah. Dia kembali menangis tertahan.

Dikutukinya dirinya sekarang, yang begitu tolol mempercayai akhir bahagia dari sebuah dongeng panjang. Perempuan itu dengan jabatan hebat dan segala atribut yang menyertainya. Lulusan sekolah terkenal di Amerika, ayah yang menjabat sebagai direktur bank terbesar negeri ini, keenceran otak yang tidak perlu diperdebatkan, dan segala fasilitas yang mengikuti penampilan sehari-harinya. Perempuan itu, atasannya.

Dua tahun lamanya pertemuan-pertemuan rahasia dilakukan, berkelit di antara waktu-waktu yang tersedia. Kamar kontrakan menjadi suaka, tempat mereka berdua berlindung dari orang-orang yang mengenali perempuan itu.

“Saya benar-benar harus ketemu kamu”. Lelaki itu kembali mengirim pesan kepada perempuan yang telah membuat sesak dadanya berminggu-minggu. Untuk kesekian kalinya tidak ada balasan apapun dari perempuan itu. Harapan untuk mendengar bunyi sms sebagai balasan semakin menambah kegelisahannya.

***

Handphone yang dia letakkan di atas meja di depannya bergetar, menandakan adanya pesan teks yang masuk. Perempuan itu membacanya, mengulang membacanya beberapa kali untuk kemudian menghapusnya bersamaan dengan tarikan rokok yang dalam di sela-sela bibirnya yang tersapu pemulas bibir warna merah gelap. Mata perempuan itu menerawang.

Kadang pengirim sms itu pun berusaha menghubungi langsung nomornya. Dan lagi-lagi perempuan itu hanya akan mendiamkan telpon genggamnya berbunyi berkali-kali sampai akhirnya sambungan itu masuk ke kotak suara. Penelpon itu tidak pernah meninggalkan pesan di sana, karena dia tahu perempuan itu tidak pernah mendengarkannya. Dia tahu perempuan itu hanya membaca pesan-pesan sms. Karena itulah lelaki itu kembali mengirimkan sms berulang kali kepadanya.

Perempuan itu menyalakan lagi satu batang rokok rasa mentol dan menghembuskannya perlahan. Dia sedang menunggu tunangannya sambil menikmati satu cangkir kopi hitam di sebuah kafe yang terletak di lobi gedung tempatnya bekerja. Sebentar lagi tunangannya akan datang. Setelah itu mereka akan makan malam bersama di suatu hotel berbintang atau restoran mewah, dimana biasanya paling sedikit dua orang rekan bisnis tunangannya akan ikut serta. Kemudian mereka akan membicarakan rencana-rencana pembukaan kantor-kantor cabang di kota-kota lain atau rencana-rencana pengembangan bisnis berikutnya. Bukan suatu makan malam di mana sepasang kekasih saling memandang, bercakap-cakap dengan suara pelan membicarakan pernikahan mereka yang direncanakan berlangsung kurang dari delapan bulan ke depan.

Seperti kemarin, minggu lalu, bulan lalu dan tahun-tahun sebelumnya, perempuan itu akan memberikan penampilan terbaiknya kepada para mitra usaha tunangannya. Sedikit tersenyum, sedikit berkomentar atas pembicaraan ringan yang dilontarkan pihak tamu di seberang meja, atau sesekali tertawa kecil merespon lelucon yang dilontarkan tunangannya. Saat topik pembicaraan kembali mengenai hal-hal yang tidak terlalu disukainya, maka pikiran perempuan itu akan kembali berkelana ke sebuah kamar kontrakan kecil di salah sudut kota Jakarta dengan penghuni seorang lelaki yang lebih muda dua tahun darinya, lelaki yang mengisi ruang-ruang kosong di sudut hatinya selama dua tahun ini.

“What do you want for dessert, dear?”. Pertanyaan kekasihnya menariknya kembali ke dunia nyata. “Mmmm, oh no, thank you. Aku sudah kenyang.” jawabnya sambil tersenyum yang dibalas dengan sentuhan lembut di punggung tangannya. Tunangannya berbisik mendekati telinganya “Good. I want you to keep your body slim”. Perempuan itu berusaha kembali tersenyum. Tangan lelaki itu sekarang berada di atas pahanya, mengusap perlahan di bawah meja. “Kita tinggal saja di hotel malam ini. Besok pagi aku suruh supirku untuk mengambil bajumu di rumah”. Lelaki tunangannya melanjutkan bisikannya sambil menatap mata perempuannya. Perempuan itu hanya diam. Sudah berbulan-bulan perempuan itu mengarang berbagai alasan untuk menghindari ajakan kekasihnya menghabiskan malam bersama.

Dua minggu lalu perempuan itu mengambil keputusan yang begitu berat baginya. Dia harus melupakan lelaki di rumah kontrakan itu, mengubur kenangan dan menjadikannya sebagai salah satu bagian dari hidupnya yang harus dilupakannya.

Makan malam usai. Tunangannya menjabat tangan tamu-tamunya sebelum mereka pulang. Perempuan dan tunangannya berjalan menuju kamar di lantai delapan. Begitu pintu tertutup, tunangannya langsung menghujani perempuan itu dengan ciuman penuh hasrat di bibir, leher dan payudaranya, melucuti pakaiannya sebelum merebahkannya ke atas tempat tidur berselimut seprei licin dan bantal-bantal lembut yang tersusun rapi.

Lelaki itu terkulai lemas di sebelahnya setelah berada di atas tubuh perempuan itu untuk beberapa lama. Dikecupnya kening perempuan itu sebelum akhirnya tertidur pulas bagai bayi yang baru saja menyedot susu dengan rakus dari tetek ibunya.

Perlahan-lahan perempuan itu turun dari ranjang dan meraih pakaian dalamnya yang tercecer di samping tempat tidur. Dia kemudian berjalan meraih rokok mentol di dalam tasnya, menuju kamar mandi, kemudian duduk di atas toilet sambil menikmati rokoknya. Pikirannya kembali ke lelaki di kamar kontrakan itu.

Asap dari rokoknya kembali membawa pikirannya berkelana. Kamar kos. Lelaki tampan dengan alis lebat, bibir tipis dan mata yang menikmati tubuh perempuan itu dengan pandangan hasrat dan cinta. Lelaki itu menyentuh lembut semua bagian tubuh perempuan itu yang terbaring telanjang. Ciuman dan sentuhan menjadi satu gerakan yang tak terpisahkan hingga perempuan itu menjerit kecil tertahan. “Jangan teriak keras-keras, pemisah dengan kamar sebelah kan cuma kayu, nanti kedengaran” kata lelaki itu sambil tersenyum. Perempuan itu tertawa kecil dan membalikkan tubuhnya hingga sekarang berada di atas tubuh laki-laki itu dan mulai menggerakkan pinggulnya. Lelaki itu memandang wajah perempuan yang berada di atasnya, menikmati payudaranya yang bergerak perlahan. Diraihnya salah satu dan diciumnya. Perempuan itu menutup matanya, mendesah lamat-lamat sambil mengusap rambut kepala lelaki dengan lembut. Diraihnya pinggul perempuan itu sekarang. Gerakan keduanya seirama, semakin cepat hingga kedua tubuh mereka bergetar bersamaan.

Rasa panas menyengat jari telunjuk dan tengahnya. Api dari rokok yang terbakar dan semakin pendek membuatnya tersentak kembali ke dunia nyata. Ah, dia sedang di dalam suatu kamar mewah hotel berbintang di Jakarta. Dinginnya udara yang berhembus dari mesin pendingin terasa menggigit kulitnya yang hanya berbalut dua lembar pakaian dalam. Perempuan itu mengisap dalam-dalam rokok di bibirnya dan melepaskannya dengan nafas kuat sebelum mematikan rokoknya ke asbak di atas meja rias. Bayangan lagi-laki di kamar kontrakan itu ternyata belum berhasil hilang dari pikirannya.

Perempuan itu membasuh mukanya, mengenakan kimono yang tersedia di lemari, kemudian menuju tempat tidur dan berbaring di samping kekasihnya. Diperhatikannya wajah pulas lelaki itu, terdiam beberapa saat, menerka-nerka sendiri perasaan yang ada di dirinya. Aku mencintai laki-laki ini dan akan selalu mencintainya. Perempuan itu meyakinkan hatinya seraya berusaha keras mengusir bayangan lain dari pikirannya. Diminumnya satu obat pembantu tidur, tak lama iapun terlelap.

***

“Bulan depan aku ada seminar di Kuala Lumpur satu minggu. Bisa ambil cuti kan?”, tunangannya menelponnya siang ini, bertanya dengan nada yang sebenarnya tidak memerlukan persetujuannya lagi. “Nanti aku ajukan cuti dulu” jawab perempuan itu.

“Aku siapkan tiketnya. Pasti bisa lah kamu cuti. Sudah lama kan kamu tidak cuti? Kamu kan juga sudah lama sekali tidak pergi jalan-jalan ke luar negeri sama aku. Nanti aku suruh Nita sekretarisku untuk mengatur tiketnya.”

“Awal tahun kemarin kan aku ambil cuti. Satu minggu. Ingat? Aku pergi dengan teman-temanku ke Bali”, perempuan itu menjawab sambil berusaha keras mencari jalan untuk mengelak permintaan tunangannya.

“Iya, tapi aku yakin kamu masih punya banyak cuti tersisa. Iya kan? Sudah dulu ya, aku mau meneruskan meeting dengan pak Yanuar. Kalau kamu perlu sesuatu, hubungi Nita ya. I love you”, lelaki itu menyudahi pembicaraannya.

Perempuan itu meletakkan gagang telpon kembali ke tempatnya, melihat tanggalan di agenda kerjanya, mengambil formulir pengajuan cuti dari salah satu laci dan terdiam untuk beberapa saat. Ditatapnya formulir di depannya tanpa menuliskan apa-apa.

Sudah bisa dibayangkannya, satu minggu yang akan dilaluinya nanti . Sendirian di kamar super mewah di jantung kota Kuala Lumpur hingga tunangannya selesai seminar, makan malam dengan para rekan bisnis dimana perempuan itu lagi-lagi harus memainkan perannya sebagai wanita cantik, pintar dan sempurna bagi seorang pengusaha muda sukses pemilik belasan perusahaan skala besar di Indonesia. Dan setiap malam bisa dipastikan akan diakhiri dengan permainan cinta sepihak, lelaki kehausan yang tidak perduli akan jiwanya yang kering tak tersirami. Sang lelaki akan mendengkur halus kelelahan dengan senyum kecil di bibirnya, sementara perempuan itu akan duduk menghisap rokok di kursi yang tersedia di ruang duduk di kamar suite itu, menatap kerlipan lampu-lampu kota di bawah sana.

Tapi toh perempuan itu lambat-lambat mulai mengisi kertas di hadapannya.

***

Jam 6 sore di Kuala Lumpur sekarang. Kira-kira satu jam lagi perempuan itu harus bersiap-siap untuk menemui tunangannya di sebuah restoran berkelas di kawasan pusat kota. Seharian tadi dihabiskannya waktu dengan mengunjungi berbagai mal, membeli dua gaun malam berbelahan rendah, ketat membungkus tubuhnya yang ramping terpelihara.

“My goodness, you are so beautiful”. Lelaki tunangannya menyambutnya dengan kecupan kilat di pipinya yang halus dan memperkenalkan perempuan itu kepada empat tamu lainnya. Perempuan itu menjabat halus uluran tangan keempat laki-laki yang tidak bisa menyembunyikan kekaguman dari mata mereka.

Acara makan malam usai. Pasangan itu kembali ke hotel. Adegan itu berulang kembali untuk kesekian kalinya di kamar hotel berbintang itu. Lelaki tertidur kelelahan dan perempuan yang duduk melamun ditemani asap dari rokok mentholnya.

***

Sekembalinya dari cutinya, perempuan itu menemukan surat tembusan dari bagian personalia. Lelaki itu telah mengajukan pengunduran diri tiga hari lalu. Perempuan itu terdiam, tidak bergerak, lama, duduk dengan tatapan kosong di meja kerjanya.

Ini yang terbaik. Terbaik buat semua. Kehidupanku baik-baik saja sebelum lelaki itu masuk dalam kehidupanku, dan akan baik-baik pula seperti sebelumnya. Berkali-kali diucapkannya hal yang sama, berbicara pada dirinya sendiri, meyakinkan dirinya, meski dia tidak bisa menahan airmatanya.

Ditutupnya pintu ruang kerjanya. Perempuan itu menangis lama, sampai matanya terasa sakit karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Telepon yang berbunyi memanggil-manggil tidak digubrisnya. Sesuatu hilang dari dadanya. Entah apa.

***

Sudah hampir sepuluh bulan lelaki di kontrakan itu berusaha menata lagi puing-puing kehidupannya. Rasa nyeri yang dideritanya selama berbulan-bulan pelan-pelan merayap pergi dari dadanya. Cinta. Dia tak yakin akan bisa menemukan perasaan itu lagi dalam kehidupannya. Semua habis terbawa oleh perempuan itu, tercabut sampai ke akar-akarnya.

Perempuan-perempuan di kantor, perempuan-perempuan yang ditemui di perjalanan-perjalanan bisnisnya, perempuan yang dikenalkan oleh teman-teman baiknya, tidak pernah ada satu pun yang berhasil mengisi kehampaan dalam dirinya.

Satu tahun, tiga tahun, lima tahun. Puing-puing itu tertata kembali meski tidak sempurna. Tidak akan pernah sama, lelaki itu berkata dalam hatinya. Kantor, kerja, pertemuan bisnis. Lebih dari separuh harinya dihabiskannya di tempat kerja, menyelesaikan semua tugas yang dilimpahkan kepadanya. Posisinya kian melonjak setelah ia pindah dari kantor lamanya. Dia bekerja dan bekerja, kelelahan, kehabisan daya, semata supaya bisa melewatkan malam tanpa bayangan perempuan yang telah membuatnya serasa mati suri untuk beberapa lama.

***

“Kenapa kamu tidak pernah cerita hal ini sebelumnya kepadaku Ren?”, Dita menatap wajah di depannya yang tertunduk lesu. Perempuan itu. Setelah memendam selama bertahun-tahun, akhirnya Rena memerlukan Dita, untuk berbagi cerita.

“Bagaimana mungkin aku menceritakan masalah tempat tidur kami ke orang lain Dit? Rikuh. Tidak pantas. Tapi aku tidak tahu lagi harus cerita pada siapa. Aku pikir aku bisa bahagia. Aku pikir cintaku masih sama besarnya sampai akhirnya kuputuskan untuk menikah dengan tunanganku. Tapi ternyata ada sebagian diriku yang sudah terbawa oleh laki-laki itu. Kau tentu tahu siapa yang kumaksud.” Rena berkata pelan dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kucoba untuk mencintai suamiku. Kucoba untuk melupakan bayangan laki-laki itu. Lima tahun Dita! Tapi ternyata wajah laki-laki itu tidak juga bisa hilang dari pikiranku. Bisa jadi ini juga karena suamiku yang tidak pernah peduli akan keinginanku. Mana pernah dia mencari tahu apa yang kuinginkan di tempat tidur. Buat dia aku hanya pelampiasan birahinya. Lima tahun Dit! Dan tidak pernah sekali pun aku merasakan terbang ke awang-awang seperti yang selalu diberikan oleh laki-laki itu kepadaku.”

Dita menatap dalam wajah sahabatnya dan menjerit kecil “Oh my God. You are really in love with that guy. Ternyata lelaki itu benar-benar telah mengambil separuh jiwamu, iya Ren?”.

Rena menunduk, air mata perlahan menetes dari sudut-sudut matanya. “Rasanya tersiksa sekali setiap suamiku menghampiriku di tempat tidur, rasanya tubuhku tak pernah siap, selalu menolak. Tak jarang kurasakan sakit, karena penolakan yang diberikan tubuhku. Rasanya seperti diperkosa berkali-kali. Tapi aku tak mungkin mengatakan tidak terus menerus pada suamiku. Aku harus melayaninya. Meski aku tidak pernah menikmatinya.”

“Aku mau mengajukan cerai Dit”, Rena berkata pelan. “Aku lelah berpura-pura. Aku lelah terus -menerus selalu berusaha membahagiakan orang lain. Aku tahu ini juga salahku. Dulu aku tidak berani untuk memilih lelaki itu dan memutuskan pertunanganku. Aku pengecut, memang. Dulu aku tidak sanggup membayangkan hidup dengan kesederhanaan. Dulu aku selalu menganggap ketimpangan di antara kami terlalu jauh sehingga malah akan menyulitkan. Tapi ternyata, aku salah. Cintalah yang berperan sebagai jembatan antara semua ketimpangan.”

***

“Hasil semua tes anda bagus. Mungkin ada baiknya anda ke psikiater, untuk melihat kemungkinan-kemungkinan lainnya. Saya bisa sarankan anda untuk konsultasi ke rekan saya”, dan dokter spesialis itu pun memberikan nama dan alamat kepada lelaki itu.

“Terima kasih dok” ucapnya sambil ke luar dari ruangan praktek itu. Lelaki itu sudah tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya. Cuma ada satu obat penawarnya. Perempuan itu.

Beberapa tahun ini, tidak jarang berbagai perempuan berparas rupawan yang begitu penasaran atas kedinginan hati lelaki itu mendatanginya di kamar kontrakannya, tapi tak ada satu pun yang berhasil mengusik gairahnya.

Setiap kali perempuan-perempuan yang datang silih berganti itu sudah berbaring setengah telanjang, mengenakan hanya sepasang pakaian dalam, maka lelaki itu pun tiba-tiba menghentikan gerakannya, tanpa bicara sepatah kata, meminta dengan sopan kepada perempuan yang berbaring di atas ranjang untuk kembali mengenakan pakaiannya, mengecup lembut pipinya dan mengantarkan perempuan itu pulang.

Perempuan-perempuan berparas rupawan semakin penasaran dan memuja lelaki itu. Lelaki sopan, lelaki yang tidak melulu menginginkan tubuh perempuan. Begitu pikir mereka. Lelaki tersebut diperebutkan, bahkan dipertaruhkan.

***

Lelaki itu duduk diam di pinggir tempat tidur kamar kontrakannya yang baru, yang kini dilengkapi dengan pendingin ruangan, kasur empuk, lemari dan sebuah TV. Sesekali bayangan perempuan itu masuk lagi ke dalam pikirannya tanpa bisa ia kendalikan, seperti dini hari ini. Dirasakannya regangan di sela selangkangannya setiap bayangan perempuan itu merasuki pikirannya. Lelaki itu tertunduk lesu.

Lima tahun sudah, puluhan perempuan, yang datang dengan suka rela ataupun yang dihargai dengan sejumlah rupiah olehnya, tidak satupun berhasil menyembuhkan luka jiwanya yang meradang menjalar hingga ke kemampuan seksualnya.

Ingin rasanya membenci perempuan itu, penyebab semua deritanya. Tapi ia tak pernah bisa. Seringkali ia ingin menghubungi perempuan itu lagi, melihatnya, menyentuhnya. Tapi nyalinya tak ada. Dulu, perempuan itu meminta untuk membiarkannya bahagia, memintanya untuk melupakan dirinya dan meninggalkannya. Lelaki itu tersenyum kecil, berkata pada dirinya. Dulu, perempuan itu menjadikannya lelaki sempurna selama dua tahun lamanya. Dua tahun, sudah cukup baginya.

Semarang, Bandung, Jakarta-Agustus 2008

We’re just not meant to be, that’s all …

38 Comments

 

Aku Faika

25th Jun 2008



“You look so beautiful” laki-laki itu memberi pujian kepada perempuan yang membukakan pintu. Perempuan muda dengan dandanan modis seperti di majalah-majalah mode ibu kota, make up tipis dan rambut hitam pendek persis di pangkal kerah.

“Terima kasih” jawab perempuan muda di usia awal 20 itu, dengan perasaan membungah yang langsung terpancar di wajah cantiknya.

“Jadi aku antar ke salon kan?” tanya laki-laki itu memastikan.

“Iya, kan kamu yang minta aku untuk buat janji ke salon itu, untuk hair extension”, jawab perempuan itu.

“Iya, pasti kamu akan terlihat lebih cantik lagi. Lebih lo, soalnya kamu kan sudah cantik”, laki-laki itu kembali memberi pujian yang membuat wajah perempuan itu bersemu ayu.

Mereka tiba di salon mentereng yang berlokasi di salah satu kawasan bergengsi di Jakarta dengan deretan butik-butik ternama dan kafe di kanan kirinya. Salon berinterior modern minimalis, dengan bunyi kericikan air yang menenangkan dari air terjun buatan di bagian penerimaan di depan.

Seorang perempuan dengan rambut warna merah gelap keunguan tersenyum menyambut dan mengantar pasangan tersebut ke dalam.

“Silakan mbak duduk di sini, saya akan memanggilkan mas Soni yang akan mengerjakan hair extension Mbak”. Tidak lama kemudian laki-laki dengan kacamata bergagang biru ngejreng yang disangkutkan di atas kepala semata-mata hanya untuk gaya, menghampiri dan menjabat tangan Andre, laki-laki itu. Mereka berbicara akrab selayaknya teman lama.

“Kenalkan, ini Faika”. Faika mengulurkan tangannya, “Fai” kata perempuan muda itu memperkenalkan dirinya.

“Ok, Fai. Bisa kita mulai? Semuanya sudah saya siapkan” mas Soni berkata pada Fai, yang dijawab Fai dengan anggukan.

“Mas Soni, aku pergi dulu yah, mau ke bengkel, mobilnya agak rewel sedikit. Nanti begitu selesai aku jemput Fai lagi” Andre berkata kepada Soni.

“Aku pergi dulu ya Fai, nanti aku jemput kamu jam 3. Oke?” Diciumnya sekilas pipi Fai sebelum pergi.

Fai mengangguk, tersenyum. Ah, lihatlah itu. Mata yang memancarkan paduan kekaguman dan cinta.

***

“Nah, sudah selesai. Sebentar saya ambilkan cermin, supaya bisa lihat bagian belakangnya”, Soni menuju rak kecil di sebelahnya, mematut-matutkan cermin di belakang kepala Fai sehingga Fai bisa melihat hasil kerja Soni di pantulan cermin tersebut.

“Bagaimana?” tanya Soni.

“Bagus mas, terima kasih”.

”Eh itu Andre datang”, kata Soni pada Faika.

“Waw, kamu benar-benar tambah cantik”. Mata Andre menyapu wajah Faika selama beberapa saat hingga Faika jengah.

“Terima kasih ya Mas Soni”, Andre mendekat dan menyisipkan lembaran dua puluh ribuan ke kantong kemeja Soni.

“Terima kasih. Terima kasih”, kata Soni ke Andre.

“Yuk, kami pulang dulu”, kata Andre setelah menyelesaikan pembayaran di kasir.

“Mari mas”, Faika menimpali.

Andre menggandeng tangannya, Faika menggelayut mesra di sampingnya. Soni terus memperhatikan pasangan itu sampai menghilang dari pandangannya.

***

Sudah beberapa minggu ini Faika merasa pusing, berdenyut-denyut di bagian kepala sebelah kirinya. Pusing yang sangat membuatnya menderita. Tidak pernah Faika merasakan sakit kepala seperti ini. Sudah dicobanya minum obat untuk meredakan sakitnya, hanya bertahan sebentar lalu sakit itu datang lagi. Saat rasa sakit itu menyerang biasanya Faika akan berdiam di kamarnya mencoba tidur. Beberapa kali ia absen dari perkuliahan. Andre, kekasihnya sudah 2 minggu ini berada di Perancis, mengikuti pertemuan tahunan yang diadakan kantornya. Tak ingin membuat khawatir, Faika tak pernah bercerita soal sakitnya.

***

Hari ini Andre datang. Membawa satu kantong besar bingkisan untuk Faika kekasih tersayang. Mukanya langsung pucat dan panik begitu tahu Faika terbaring sakit di kamarnya.

“Fai, kamu kenapa?”, tidak bisa disembunyikan kekhawatirannya dari wajahnya.

“Tidak tau ‘ndre. Sudah beberapa minggu ini kepalaku sakit sekali. Sampai kadang tidak kuat berdiri. Kalau lagi kumat begini, aku cuma tidur.”

“Kita besok ke dokter yah Fai? Besok aku jemput kamu pagi-pagi ya?” Andre berkata dengan sedikit memaksa.

“Iya, iya”, jawab Faika.

“Ya sudah, kalau begitu, aku pulang dulu ya. Kamu istirahat dulu. Sampai besok pagi ya.” Andre berkata sambil mengecup lembut kening Fai.

***

“Saya sudah jadwalkan kamu untuk di-scan” kata Andre di mobil, dalam perjalanan pulang dari dokter umum.

Faika menatap Andre bingung, ” Di-scan? Ini kan cuma sakit kepala biasa ’ndre”.

”Fai, aku khawatir..aku ga mau terlambat…” Andre membiarkan kalimatnya menggantung.

”Kamu ngomong apa sih? Terlambat apa?” Faika masih bingung.

”Maaf, maaf. Bukan itu maksud aku” Andre mencoba menjelaskan. ”Aku cuma takut kamu kenapa-napa. Kamu mau kan di-scan, sayang?” nada suara Andre membujuk.

”Iya, tapi kenapa? Tadi dokternya juga tidak bilang apa-apa kan” desak Faika.

”Iya, Fai. Aku cuma mau memastikan kamu sehat. Itu saja kok. Mau kan Fai?. Dokternya aku kenal baik, temen baik Papa”. Andre menambahkan

Faika mengangguk.

***

Hari ini jadwal scan Faika. Andre tidak dapat menyembunyikan kecemasannya. Sambil memegang tangan Faika dalam genggamannya, sesekali dibelai lembut kepala kekasihnya yang duduk di sebelahnya itu. Sekali waktu Faika mencuri pandang wajah Andre di sebelahnya yang ternyata sedang berusaha keras menahan air mata. Ada apa sih ’ndre? Faika bertanya dalam hatinya. Kenapa kamu begitu melankolis beberapa hari ini?

Selesai melakukan scan, Andre terlihat tambah cemas lagi. Seakan-akan dia yang sedang sakit dan sedang menunggu vonis terburuk dari dokter. Faika memilih untuk tidak berkata apa-apa. Kecemasan Andre ikut mempengaruhinya. Padahal, sebelumnya dia tidak pernah berpikir macam-macam tentang sakit kepalanya.

***

Akhirnya, hasil scan itu keluar. Menurut dokter, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua normal. Andre terlihat bahagia luar biasa. Dikecupnya pipi Faika. ”Aku begitu takut, begitu takut” berbicara pelan pada dirinya sendiri. Faika hanya bisa menerka-nerka. Malam itu mereka berdua makan malam di restoran favorit Faika. Andre telah kembali seperti biasa. Bercerita tentang berbagai pengalaman-pengalaman lucunya mengunjungi berbagai kota di Indonesia dan berbagai belahan dunia. Andre terus tertawa. Faika di depannya tersenyum bahagia.

***

Meski tidak terlalu sering lagi sakit itu datang, tetapi sesekali Faika cukup kewalahan juga saat sakit kepala itu menyerang. Andre dengan kekhawatirannya yang berlebihan kadang membuatnya enggan untuk berterus terang. Malam itu, sakit itu datang lagi saat Faika hendak berangkat tidur. Diambilnya kantung kecil obat dokter dari laci di samping tempat tidurnya, diminumnya dengan segelas air putih. Faika memejamkan matanya, berusaha tidur.

***

Faika melihat seseorang yang wajahnya begitu mirip dengannya berbaring lemah di tempat tidur. Cantik, rambut hitam legam panjang seperti rambut miliknya sekarang, dengan sinar mata yang hangat meskipun terlihat sekali bagaimana perempuan itu berjuang menahan sakitnya. Perempuan itu tersenyum kepada Faika, memanggil Faika seakan-akan hendak menyampaikan sesuatu. Entah atas dorongan apa, meski dengan rasa enggan, bingung dan takut jadi satu, Faika mendekat. Perempuan di tempat tidur itu berbicara pelan, ”Sampaikan pada Andre, aku sudah bahagia. Kamu perempuan yang baik Faika, Andre harus bisa mencintaimu apa adanya”.

Faika limbung, kepalanya terasa berputar-putar. Faika berjalan pelan mundur ke arah pintu, sempat dilihatnya nama pasien perempuan itu di papan yang terpasang pada bagian kaki dipan. Saskia, 25 tahun. Pusing di kepalanya menjadi-jadi. Faika berusaha teriak. Ahhhhhh. Suaranya tertahan, nafasnya sesak, terengal-sengal. Faika terbangun. Mimpi buruk dia rupanya. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Diucapkannya serangkaian doa. Mimpi apa aku barusan? Semua detail mimpinya terekam sempurna. Kamar rumah sakit itu, wajah perempuan itu, perkataan perempuan itu. Nama perempuan itu. Saskia. Siapakah dia?

Belum pernah sekalipun Faika bermimpi dengan begitu jelas dan bisa mengingat semua bagian mimpinya dengan begitu rinci. Faika berusaha melupakan mimpinya dan kembali mencoba tidur setelah melakukan sembayang malam.

***

Hari ini Andre menjemputnya dari kampus. Andre berencana mengajak Faika bertandang ke rumahnya, hendak memperkenalkan Faika kepada keluarganya. Selama ini hanya orang tua Faika saja yang baru mengenal Andre, sedang Faika baru mengenal keluarga Andre dari cerita-ceritanya.

Orang tua Andre sekarang tinggal di Malang menghabiskan masa pensiun mereka. Ayah Andre seorang pengusaha beberapa hotel di Jakarta dan Jawa Barat yang melakukan kerja sama dengan hotel waralaba dari Perancis. Sudah 5 tahun sejak kepulangan Andre dari studi di Paris, kepemimpinan perusahaan pelan-pelan dialihkan kepada Andre, anak sulung dan laki satu-satunya dalam keluarga. Dua saudara perempuannya yang lain, mengelola beberapa hotel kecil nan asri milik keluarga besar Sudoyono yang berlokasi di Bali, Lombok dan Yogyakarta.

Hari ini adik-adik perempuannya juga akan datang ke Jakarta, jadi Faika akan bertemu dengan semua keluarga besar Sudoyono. Rasa cemas sedikit mengganggu Faika. Mudah-mudahan mereka benar-benar keluarga yang menyenangkan, seperti yang sering diceritakan Andre.

***

Andre memarkirkan kendaraannya dan mengajak Faika ke dalam sebuah rumah tua yang terawat baik dengan halaman yang ditutupi rumput hijau muda dan bunga anggrek segala rupa di beberapa sudutnya. Di ruang tengah dilihatnya seorang ibu dan bapak berumur kisaran 60-an sedang duduk ngobrol sambil menikmati secangkir kopi dan sepiring cemilan.

Andre memperkenalkan mereka kepada Faika. ”Selamat sore tante, om” sapa Faika kepada kedua orang tua Andre. ”Faika” tambahnya memperkenalkan diri sambil menyalami kedua orang tua itu. ”Sore. Silakan mbak, duduk sini. Kita ngobrol-ngobrol di sini saja sambil menunggu Dini dan Citra, sebentar lagi mereka tiba dari bandara”, sambut bapak Sudoyono dengan ramah. Terasa sekali adat Jawa yang kental di keluarga ini.

Percakapan beralih soal perkuliahan dan kesibukan Faika selama ini. Meski berusaha tidak terlihat, Faika merasa ibu Sudoyono kerap memperhatikan wajah Faika dengan seksama. Andre benar, mereka keluarga yang menyenangkan. Dini dan Citra yang tidak lama kemudian datang, langsung bergabung bersama mereka semua. Obrolan sore itu berlanjut hingga makan malam. Di mata Faika, keluarga besar Sudoyono yang disegani banyak pelaku bisnis, ternyata sangat bersahaja. Tapi seperti ibu Sudoyono, Faika merasakan kedua adik Andre pun kerap mencuri-curi pandang tengah memperhatikan dirinya.

***

Malam itu sebelum tidur, pusing itu menyerang lagi. Dan untuk ketiga kalinya mimpi yang sama mendatangi Faika, membuat Faika tak ingin memejamkan matanya. Setiap kali ia ingin menceritakan mimpinya kepada Andre, setiap kali pula ia mengurungkan niatnya. Itu hanya sekedar mimpi, Fai. Begitu ia meyakinkan dirinya.

Kali ini perempuan itu hadir lagi dalam mimpinya. Suasana kali ini jauh berbeda. Orang-orang berkumpul di sebuah rumah menghadiri sebuah pesta. Rumah itu, dengan pintu depannya yang kuno, koleksi keramiknya, jajaran foto keluarga di ruang tamu, Faika mengenali rumah itu. Rumah Andre! Dilihatnya perempuan dengan rambut panjang hitam legam itu tersenyum mesra menggandeng Andre dan menerima selamat dari tamu yang hadir. Terdapat banyak ucapan selamat berupa karangan bunga berbagai ukuran di ruang depan. ”Selamat atas pertunangan Andre Sudoyono dan Saskia Herdana”, kalimat-kalimat serupa tertulis di kartu-kartu rangkaian bunga. Faika terhenyak, terjaga dari mimpinya. Keringat dingin membasahi tubuhnya.

***

Faika mengobrol dengan beberapa teman kampusnya di kantin. Andre tidak menjemput Faika hari ini karena harus keliling Bandung, Cirebon dan Purwakarta melakukan kunjungan ke hotel-hotel yang berada di bawah pengawasannya. Faika merindukan juga ngobrol-ngobrol dengan sahabat-sahabat perempuannya di kampus. Sudah lama rasanya dia tidak bercanda dengan mereka. Di sela-sela pembicaraan mereka yang berpindah topik kesana kemari, tiba-tiba Sandra berkata, ”Fai, kamu tidak takut ya pakai hair extension?”

”Takut? Takut kenapa?” tanya Faika heran.

Karina dan Irma yang ikut mendengarkan juga ikut bertanya,” Iya nih Sandra, takut kenapa sih? Memangnya orang pakai hair extension bisa kena sakit menular, apa?”

”Eh, bukan, bukan itu maksudku. Aku dengar-dengar nih, kadang pembuat hair extension itu suka sembarangan. Kadang mereka menggunakan rambut orang yang sudah meninggal. Terus …” Sandra menggantung kalimatnya.

”Terus apa?” tanya Faika, Karina dan Irma hampir bersamaan.

”Dan kadang si orang meninggal tadi suka hadir ke dalam kehidupan pemakai rambutnya itu. Apalagi kalau orang yang meninggal tadi mau menyampaikan suatu pesan”.

”Hah? Yang benar? Hiii..seram sekali. Masa sih bisa begitu?” Karina berkomentar.

“Iya, malah katanya orang tersebut bisa mempengaruhi kebiasaan atau perangai tertentu dari orang yang memakai hair extension itu”. ”Hiiiii…, merinding nih gue,” ketiga perempuan tadi menjerit-jerit kecil sambil tertawa. Faika terdiam.

***

Sesampainya di rumah, Faika langsung menyalakan komputernya. Ini terlalu aneh, pikirnya. Tapi toh diketik juga nama-nama tersebut di mesin pencari data dunia maya tersebut. Saskia dan Andre Sudoyono. Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih kencang menunggu hasil pencarian di dunia maya itu. Selang beberapa detik, ternyata cukup banyak data yang tampil di layar komputernya. Satu persatu data dibuka oleh Faika. Satu persatu kepingan puzzle tersusun di kepalanya.

Jejak-jejak berita di koran-koran online lima tahun lalu memudahkan Faika mendapatkan cerita sebenarnya. Tidak aneh memang apabila banyak media yang mengangkat cerita tersebut dalam liputannya. Siapa yang tidak kenal keluarga pengusaha Sudoyono di Jakarta ini? Apalagi ternyata Saskia adalah juga putri dari seorang mantan pejabat negara dan juga seorang penulis novel muda berbakat yang mulai terangkat namanya pada waktu itu.

Lima tahun yang lalu Saskia dan Andre bertunangan dan siap melakukan pernikahan 6 bulan berikutnya ketika semua rencana tidak bisa berjalan seperti yang diharapkan. Saskia meninggal karena kanker otak yang tidak bisa disembuhkan karena deteksi yang sangat terlambat. Omongan Sandra kembali terngiang-ngiang di kepalanya.

Mungkinkah Saskia datang ke mimpi-mimpinya karena hair extension itu? Mungkinkah sakit kepalanya adalah sakit yang dirasakan Saskia karena kanker otaknya? Mungkinkah kegemarannya menulis yang menjadi begitu produktif beberapa minggu terakhir dan dinilai beberapa orang mempunyai warna yang berbeda dengan hasil-hasil tulisannya sebelumya juga karena Saskia? Tapi bagaimana mungkin? Berbagai kemungkinan berlarian melintas di pikirannya.

***

Faika datang ke salon itu, janji bertemu dengan mas Soni, penata rambut yang mengerjakan hair extension-nya waktu itu. Rasa penasaran mendorongnya bertemu dengan Soni. Dia harus menanyakan hal tersebut.

”Hai Fai. Apa kabar?” sambut Soni dengan ramah, kali ini dia mengenakan kacamata merah darah yang disangkutkan di kepalanya sesuai dengan warna baju yang dikenakannya.

”Baik mas”, jawab Faika.

”Mau diapakan Fai, rambutnya?. Kok tidak bersama Andre?”.

”Ngga mas, aku cuma mau ngobrol sama mas Soni sebentar, boleh kan?” tanya Faika.

”Oh, boleh boleh, kebetulan aku lagi tidak ada tamu. Yuk kita ngobrol di cafe”. Mereka berdua berjalan ke kafe yang terletak persis di sebelah salon.

Setelah berbasa-basi ringan Faika pun menanyakan hal yang menggangu pikirannya.

”Mas Soni, hair extension di salon ini diambilnya dari mana sih? Maksudku, biasanya yang dipakai untuk hair extension itu kan rambut orang yang panjang terus dipotong gitu ya? Yang dipakai itu rambut asli kan?”. Tanpa disangka Faika, muka Soni terlihat pucat kaget dan tidak bisa berkata-kata. Beberapa saat Soni tidak mau beradu pandang dengan Faika, hingga Faika sendiri bingung harus bersikap bagaimana.

”Fai…maaf..saya bingung ceritanya”, Soni akhirnya bersuara setelah membisu sekian lama. Dan diceritakannya lah soal kedatangan Andre beberapa hari sebelum Faika datang melakukan hair extension-nya. Andre membawa seikat kecil rambut hitam legam yang dia mohon untuk ikut disematkan ke rambut Fai pada saat proses hair extension itu. Andre mohon dengan sangat supaya Soni merahasiakan semua ini dari Fai. Faika tidak bisa menahan air matanya.

Andre yang begitu dicintainya. Andre yang begitu dikaguminya. Ternyata dia hanya menjadi bayangan Saskia selama ini. Andre tidak benar-benar mencintainya. Kekhawatiran yang berlebihan terhadap Faika ternyata semata karena Andre tidak mau kehilangan Saskia untuk kedua kalinya.

Setelah tergugu beberapa saat, Faika berkata pelan, ”mas Soni, bisa bantu saya melepaskan hair extension ini?”.

Di cermin di hadapannya, saat Soni mulai melepaskan sambungan-sambungan rambutnya, Faika melihat bayangan wajah lain di cermin. Saskia! Perempuan itu tersenyum mengucapkan dengan gerak bibirnya ”Terima kasih Faika”.

(inspired by 2 young girls, sitting next to my table, gossiping about hair extension)

Bandung, hotel sawunggaling, 2008

25 Comments

 

Di belakang kemudi

19th Jun 2008



Umurku beberapa bulan lagi genap empat puluh. Lima belas tahun kuukur jalan Jakarta dengan argo di mobilku. Tiga perusahaan aku mengabdi, semua dengan posisi yang seragam. Coba kau pikir, 15 tahun! Seorang petugas kebersihan mungkin paling tidak, bisa menjadi seorang pengawas setelah belasan tahun bekerja, seorang office boy mungkin bisa mengubah nasibnya menjadi seorang petugas administrasi atau seapes-apesnya bisa menjadi seorang kurir, seorang pelayan restoran mungkin bisa menjadi manajer atau bahkan pemilik usaha. Tapi aku? Mana ada jenjang karir di posisiku.

Supir taksi. Pernahkah kau mendengar ada supir taksi senior, yang pendapatannya atau bagian komisinya lebih besar dari mereka yang lebih muda? Atau mungkinkah ada posisi koordinator supir taksi, yang memberi komando sambil berkeliling di belakang kemudi?

Tentu, tentu saja ada orang-orang yang bekerja mengurusi kami dari balik kantor warna abu-abu itu. Tempat kami biasa menyetor pendapatan harian kami dan melakukan segala tetek bengek administrasi. Berbelas-belas tahun aku jadi supir taksi, tidak pernah ada tawaran bagiku atau puluhan temanku untuk bisa duduk di kantor abu-abu itu. Sebabnya? Tentu saja kau tahu. Minimum harus diploma, minimum harus sarjana, harus bisa menggunakan komputer, dan lain-lain, dan lain-lain.

Tunggu, baru kuingat, ada dua orang rekanku yang akhirnya bekerja di kantor abu-abu itu, setelah lebih dari 3 tahun di belakang kemudi mengitari Jakarta, Depok, Bekasi. Ihsan, seorang lulusan sarjana sebuah universitas swasta tak ternama yang mempunyai pangkalan yang sama denganku, di daerah pondok labu. Lalu ada Herman yang terkena PHK dari sebuah kantor periklanan dan bergabung dengan kami, para pekerja di belakang kemudi.

Hari ini berita di koran dan televisi gencar membeberkan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh supir taksi. Di televisi malah pakai peragaan segala, diperankan oleh laki-laki dengan kumis panjang berantakan dan mata merah seakan kurang tidur berhari-hari. Digambarkannya kami sebagai sekelompok orang yang kejam dan harus ditakuti. Kalau sudah begini, pendapatanku dan teman-temanku akan anjlok untuk beberapa lama, sampai berita-berita ini mereda.

Taksi perusahaanku bekerja memang perusahaan lama, kondisi kendaraan kami tak semulus taksi-taksi perusahaan bermodal besar suntikan para pejabat veteran yang kuku tajamnya masih saja mencengkeram para pengusaha dengan balas budi sebagai alasan.

Jok keras, mobil model lama, alat pendingin udara yang secukupnya, membuat orang sering memandang sebelah mata kepada armada kami. Padahal sepanjang perusahaan berdiri, tak pernah ada perkara kriminal yang terdengar dari perusahaan ini.

Aku hanya bisa menggerutu, atau kadang tertawa bagai orang gila bersama teman-temanku setiap pagi di pangkalan kami, sebelum mulai berkeliling lagi di belakang kemudi.

Tahukah kau bahwa kami pun sering menjadi korban? Tahukah kau bahwa resiko yang kami tanggung sama besarnya dengan para penumpang? Saat rekan kami yang dirampok atau diclurit oleh penumpang, maka media tak hendak berkoar. Saat kami ditipu ratusan ribu oleh penumpang, tak pernah ada yang bersimpati kepada kami. Mereka berkata, ah itu kan resiko bekerja di balik kemudi.

Tahukah kau bahwa kami kerap dianggap tak ada? Seringkali indra pendengaranku sengaja kubuat kebas saat sepasang muda mudi masuk ke taksiku, duduk di kursi belakang dan mulai bercumbu seakan aku robot yang tak punya jiwa. Cekikikan manja ataupun desah-desahan si wanita kubiarkan menguap melewati gendang-gendang telingaku. Kadang tanpa bisa kuelakkan dari balik kaca spion di depan, kulihat raut-raut muka mereka susah payah menahan birahi. ”Kenapa tak kalian cari saja hotel atau kamar untuk melepaskan nafsu binatang kalian?” begitu teriakanku yang tentu saja hanya bisa kulepaskan sebatas pikiran.

Tahukah kau bahwa kami dengan mudahnya menjadi sasaran kemarahan penumpang, meski tak melakukan kesalahan. Adu mulut atau pertengkaran mungkin hal yang biasa. Tapi kala seorang lelaki sudah mulai menggunakan tangannya untuk membungkam ocehan seorang perempuan, maka aku tak bisa tinggal diam. Kupaksa turun mereka dari taksiku, dan sialnya aku pun tak dibayar, malah mendapat dampratan sebagai tambahan ”jangan suka ikut campur urusan orang, pak!” begitu kata laki-laki sialan.

Tahukah kau bahwa kami sering dilecehkan? Berita pelecehan yang kau tahu, pasti hanya melulu mengenai bos dan sekretaris, atasan dan bawahan atau sesama rekan kerja. Mungkin juga antara penumpang kendaraan umum dengan penumpang lainnya. Tapi tahukah kau, tak sekali dua kali pahaku diraba oleh para lekaki yang tak bisa menahan diri? Yang mulanya beramah tamah dan mulai memijat-mijat lenganku yang sedang memegang kemudi. Bahkan tak jarang langsung menawarkan iming-iming hadiah sebagai gantinya. Ganti apa? Ganti atas kepuasan tangan mereka menjelajah selangkanganku?

Ah, tentu saja ada perempuan-perempuan sintal dengan rok cekak yang menjadi semakin cekak saat duduk di kursi, ditambah dengan kaos belahan rendah yang memperlihatkan kutang ketat warna hitam menutupi setengah bagian, sehingga sebagian lainnya menyembul keluar. Kerap kutemui perempuan-perempuan ini dini hari dari kawasan ibu kota yang tak pernah mati, keluar dari bangunan dimana suara berdentam-dentam, teriakan dan tawa terdengar setiap pintu depan terbuka.

Malam itu perempuan sintal dengan rok cekak masuk dan duduk di sampingku. ”Kampung bali”, katanya. Bau alkohol menyeruak dari bibirnya yang penuh gincu. Kujalankan taksiku. Tahu-tahu bibirnya sudah ada di telingaku, merambat pelan ke leherku, mendesah-desah dengan tangan yang terus bergerak ke seluruh tubuhku. Taksi kupinggirkan, aku diam tak bergerak, kaku. Bukan, bukan karena aku tak pernah kenal dengan tubuh perempuan. Usiaku sudah hampir 30 waktu itu. Tak pernah kualami seorang perempuan yang tak kukenal menjamahku seperti itu. Di pinggir jalan sunyi itu, aku berubah rupa, menjadi pemangsa yang tidak mau melewatkan makanan yang dihidangkan di depan mata.

Suatu malam, pernah pula kugadaikan tanganku memenuhi permintaan seorang penumpang lelaki, usia di awal 30 kurasa, dengan wajah bersih kelimis berpakaian hem rapi berwarna hijau muda bermotif garis-garis halus dengan pantalon katun berwarna coklat susu, tergesa-gesa masuk ke taksiku. Ketika kutanya mau kemana, dia hanya berkata terserah.

Aku memasukkan gigi satu, bukan pertama kali ini aku mendapat penumpang yang menjawab seperti itu. Penumpang seperti ini biasanya toh di tengah jalan akan memberitahukanku juga suatu tujuan. Penumpang seperti ini biasanya nantinya akan bercerita, berharap mengangkat beban yang menghimpit dada, berbagi derita dengan seorang supir taksi yang bahkan namanya kuyakin tak akan dia ingat lagi keesokan harinya.

Taksi baru berjalan ketika lelaki itu dengan pandangannya yang sangat aneh memandangku sambil berkata ”Saya minta tolong”. Dan dibukanya resleting celananya yang menampakkan isinya dalam keadaan siap penuh amunisi. ”Tolong saya pak, saya bayar”. Kubayangkan duapuluhlima ribu rupiah yang baru kukantongi setelah berkeliling tiga jam malam itu, kubayangkan istriku di rumah yang tadi sempat mengingatkanku untuk membayar uang masuk sekolah anakku, kubayangkan uang cepat yang bisa kuterima. ”Tiga ratus ribu”, kataku. Aku tak tahu dari angkasa mana kudapatkan deretan angka yang meluncur cepat keluar dari mulutku malam itu.”Ya”, jawabnya dengan napasnya yang mulai memburu. ”Saya minta duitnya sekarang” kataku. Dikeluarkannya cepat-cepat tiga ratus ribu dari kantongnya. Kuambil duit itu dan segera kumasukkan ke kantongku. Kupejamkan mataku sebelum kuikuti tangannya membimbingku. Jeritan-jeritan kecil terasa menusuk-nusuk kupingku. Tak sampai 5 menit yang terasa ratusan tahun bagiku, kuselesaikan tugasku. Lelaki itu terkulai lemas di kursi sebelahku. Kemudian dimintanya aku mengarahkan taksiku ke satu hotel bintang lima di daerah pusat Jakarta. Diberikannya aku tambahan seratus ribu rupiah di luar angka yang tertera di argoku. Aku merasa hina, nista.

Tahukah kau berbulan-bulan setelah itu, gambaran kejadian itu terus bermain-main di kepalaku. Istriku tak ku sentuh berhari-hari, berminggu-minggu. Sampai sekarang, aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Aku cinta istriku, itu pasti. Tapi bayangan kejadian malam itu dengan jeritan-jeritan yang menusuk kupingku datang dan datang lagi seperti film yang diputar terus menerus di kepalaku. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Yang kutahu, aku sering memarkirkan taksiku di depan hotel berbintang itu.


to all taxi drivers in Jakarta. Salute!

32 Comments

 

Selamat Datang Musim Panas

2nd Jun 2008



Tulisan inang bocor alus yang gue “utak atik”

Untuk kesekian kalinya kulihat lagi monitor pemberi informasi kedatangan-kedatangan pesawat yang berada persis di depanku, dan untuk kesekian kalinya pula hembusan asap rokok kulepaskan bersamaan dengan helaan napas panjangku. Ya, kurang lebih dalam 5 menit lagi dia akan mendarat. Kemudian mungkin bila semua proses pengambilan barang serta imigrasi berjalan lancar, dia akan berada di hadapanku kurang dari setengah jam. Dia yang cuma bisa kurindu dalam enam tahun ini, yang sering kudekap dan kubelai sebatas mimpiku.

Ingatan membawaku mundur ke tujuh tahun silam, di suatu musim panas yang indah di Heidelberg. Segerombolan orang bersepeda dengan penuh percaya diri memakai baju warna warni mempertontonkan tubuh mereka yang berlemak dengan perut yang bergelambir, dengan nafas yang tersengal-sengal tertawa-tawa menikmati musim panas yang hanya bisa dinikmati beberapa bulan saja di negeri empat musim ini. Bis bergantian datang dan pergi. Aku duduk di bangku taman memandang ke arah terminal menikmati pertunjukan kesibukan yang ada di depanku.

Daun-daun yang menghijau, teriknya matahari, hembusan angin yang sejuk, bangunan tua nan kokoh meski dimakan usia terlihat anggun di sekeliling terminal melengkapi renunganku di sudut itu. Sebagai seorang yang berasal dari negeri tropis, kugilai senyum matahari. Musim panas selalu kutunggu dengan penuh rindu. Matahari bagiku adalah sang berkah, membeberkan senyum terbaiknya setelah awan mendung yang panjang.

Siang itu aku kembali dari Frankfurt mengantarkan kekasihku ke bandara untuk bertolak ke Jakarta setelah dua minggu menghabiskan waktu menemaniku di kota kecil di bagian selatan Jerman ini. Rasa sunyi yang datang tergantikan dengan pemandangan musim panas yang indah di depanku.

“Hast du Feuer?” suara seorang perempuan berambut pirang menanyakan apakah aku punya korek, mengganggu lamunanku. Aku menyodorkan pemantik dari kantongku.

“Dari Indonesia ya?” lanjut perempuan itu kali ini dengan logat Indonesianya yang mengagetkanku. “Aku Dewi juga dari Indonesia, tepatnya dari Medan” sambungnya lagi.

Hah?, pikirku. Kuperhatikan perempuan ini dengan seksama, postur tubuh tinggi, rambut pirang, kulit putih, hidung tinggi, mata yang tajam dan aha, bentuk rahang yang kuat dan menonjol yang biasa aku lihat pada orang yang berasal dari Sumatra Utara.

Siang itu kami makan siang bersama. Entah dari mana datangnya aku yang sulit terbuka berbicara dengan orang yang baru kukenal, siang itu bisa bercerita dengan mudahnya.

Dewi datang ke negeri ini untuk menemui ibunya yang berkebangsaan Jerman dan telah bercerai dari ayahnya bertahun-tahun yang lalu. Ketidakcocokan Dewi dengan sang ayah membuatnya memutuskan untuk menetap dengan ibunya di negeri ini sejak tiga tahun lalu.

Kegemaran Dewi berganti-ganti warna rambut sebagai bagian dari pekerjaannya sebagai hairdresser di kota ini, juga karena darah Aria yang mengalir di tubuhnya menyebabkan orang susah mengenali darah Asia di wajahnya. Hari itu aku dan Dewi seperti dua orang yang telah saling mengenal bertahun-tahun dan dipertemukan kembali, saling berbagi rasa, duka dan angan kami.

Di suatu malam setelah pertemuan-pertemuan kami setelah siang itu, aku dikejutkan oleh dering telepon. Suara Dewi terdengar parau di seberang sana. Entah untuk keberapa kalinya Dewi bertengkar hebat dengan kekasihnya yang selalu diakhiri dengan pukulan keras yang awalnya hanya di pipi kemudian beralih ke dorongan, tendangan, kadang lemparan benda-benda yang ada di sekitar kekasihnya. Cinta yang hanya bisa menjelaskan kenapa Dewi bisa bertahan di sela-sela penderitaanya hidup bersama dengan kekasihnya yang kerap menyakitinya selama lebih dari 2 tahun ini. Aku mencoba menghiburnya dengan mengeluarkan semua cerita lucu yang ada di kepalaku saat itu, hingga akhirnya ia tertawa, meski hanya tergelak kecil. Ah Dewi, aku bersedia menjadi badutmu asal kamu bisa kembali tersenyum.

Siang itu selesai kuliah pagi, aku mengayuh sepedaku cepat-cepat menuju rumah Dewi yang berada agak jauh dari kota. Rasa rindu, rasa ingin melindungi dan keinginan untuk memeluknya bercampur satu di pikiranku. Di rumah ibunya yang asri, Dewi menyambutku dengan pelipis biru, mata sembab namun dengan senyumnya yang mengembang. Siang itu kami menikmati makan siang berdua, kembali berbagi kisah dan angan kami.

Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul delapan malam dan mengharuskan aku untuk kembali ke apartemenku untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang tertunda. Dewi melarangku, aku tertawa, dia menghalangiku di pintu, mata kami beradu, sekejap aku tidak tahu apa yang merasukiku ketika tahu-tahu bibirku sudah mendarat di bibirnya, dia membalas. Kami berdua terkejut, saling menatap, dan berjalan bergandengan tangan tanpa suara ke kamarnya yang terletak di lantai dua. Malam itu Dewi menjelma menjadi musim panasku, dari tubuhnya aku hirup wangi bunga, sejuknya dedaunan dan hangatnya matahari. Tawa pelannya bagai riak air yang menyiramiku. Malam itu kami ciptakan musim panas kami.

Dua tahun berlalu, Dewi dan aku menjalani hubungan ini tanpa sepengetahuan kekasih-kekasih kami. Berdua kami ciptakan musim panas kami, menelusuri hati dan raga di malam-malam yang tak pernah sepi lagi. Dewi selalu di sisiku menyemangati aku belajar, hadir mendampingiku saat wisuda dan akhirnya mengantarku ke bandara Frankfurt untuk kembali ke Jakarta.

Mata Dewi basah sembab seperti saat kali pertama musim panas kami tercipta. Ciuman perpisahan mengakhiri musim panas kami. Perjalanan pulang 16 jam dengan pesawat terasa memakan waktu berabad-abad lamanya untukku. Mataku basah tertutup, bibir kering terasa panas saat aku rasakan rindu yang menghantam dadaku. Selamat tinggal musim panasku.

Kiriman emailnya setahun berselang, memberitahukan tentang keputusannya untuk menikahi kekasihnya, membuatku mengambil keputusan yang sama setelah hampir setahun ini kubuat kekasihku menunggu.

Aku bahagia untuknya. Sesak tangis tertahan menyakiti dadaku di hari pernikahanku dan pernikahannya. Selamat datang musim dingin yang panjang.

Bertahun-tahun kutanamkan pada diriku bahwa ini adalah keputusan yang terbaik buat kami berdua. Namun tanpa bisa kupungkiri, bayangannya kerap melintas dalam lamunanku bahkan ketika aku sedang bercinta. Kelahiran putri pertamaku perlahan menghapus sebagian bayang-bayangnya dan akhirnya menghilang saat kelahiran putri keduaku.

Kedua putriku membuatku terjaga atas mimpi-mimpi semuku tentang Dewi. Hingga suatu hari, kubaca emailnya yang menyelinap masuk ke alamat emailku sebulan yang lalu. Dewi akan menjenguk ayahnya yang sakit di Medan dan akan mampir ke Jakarta untuk menemuiku. Kata-katanya di email hanya seperti layaknya seorang sahabat lama yang ingin berjumpa. Ah Dewi, tahu kah kamu betapa takutnya aku untuk bertemu? Betapa takutnya aku dikejar bayanganmu? Rindu itu datang lagi tanpa permisi, sejak kuterima emailmu.

“Rin, itu sepertinya, penumpang pesawat dari Frankfurt sudah keluar” suara mas Rio, suamiku mengejutkanku. Aku memandangnya, ah suamiku, andai kau tahu aku sedang menunggu musim panasku

PS : Inang, thanks for allowing me to finish the “cooking process” of your good quality raw ingredients.  ;)

17 Comments

 

Candu

12th May 2008



“Ayo lah kita naik bis. Kita kan sudah menunggu taksi hampir satu jam di sini. Badanku rasanya sudah sangat lengket, dan kakiku juga penat sekali. Nanti dari halte bis berikut, kita turun lalu kita cari taksi. Itu ada kopaja kosong.”

Dan Rara pun menarik tanganku. Kami berdua naik ke dalam kopaja yang melintas perlahan di depan kami. Memang kosong. Hanya tiga orang laki-laki muda dengan penampilan anak kuliahan, duduk bersebelahan di baris paling belakang, Dua dari mereka terlihat bercakap seru, sementara yang lainnya diam mendengarkan. Dekat jendela di barisan tengah, duduk seorang perempuan yang masih mengenakan baju seragam SMA yang sudah dimodifikasi menjadi kemeja sempit mencetak bentuk badan dan rok yang dipendekkan, padahal hari sudah hampir pukul 8 malam.

Beberapa saat kemudian serombongan perempuan yang keluar dari gedung tinggi berwarna abu-abu, dengan dandanan mengikuti tren terbaru di majalah-majalah wanita bergabung di kopaja kami, berjalan melewati bangkuku dengan suara mereka yang langsung memenuhi ruang-ruang kosong di kendaraan ini.

Rara tertawa kecil di sebelahku. “Akhirnya, kamu mau juga naik bis”. Aku hanya diam. Kopaja bergerak. Lampu berwarna kuning temaram di dalam kopaja membawa ingatanku ke 8 tahun yang silam.

***

“Permisi Mas” Aku berbicara pada laki-laki yang berdiri persis di sebelah tempat aku duduk. Bis yang kutumpangi pagi ini menuju kampus seperti juga pagi-pagi sebelumnya selalu penuh. Aku bergerak di antara orang-orang dengan bau segala rupa di sekelilingku menuju pintu depan.

“Eh aduh aduh…” Aku terhuyung ke belakang, kehilangan kendali atas diriku akibat rem mendadak pak supir. Hampir semua penumpang berteriak kecil, ada yang menggerutu, ada yang langsung melafalkan serentetan doa, ada juga yang tak terusik tetap menikmati alunan musik melalui earphone kecil di kupingnya. Dua orang ibu-ibu latah mengucapkan serentetan kata yang berlainan tanpa henti. Satu kejadian, beragam reaksi.

Sepasang tangan dari arah belakangku, dengan jari-jemari yang kuat menahan badanku yang hampir jatuh. Tangan itu berada persis di atas payudaraku, bergerak mengusap perlahan sambil membantuku kembali ke posisi berdiriku. Badanku meregang. Malu, marah, jadi satu.

“Maaf mbak” kata lelaki itu dengan sopan. Aku tak berani menatap, hanya menunduk. “Tidak apa-apa. Terima kasih”. Dadaku sesak merasa dilecehkan. Bersamaan, tanpa dapat kuelakkan, kurasakan desiran asing di sekujur tubuhku yang menggigit merambat sampai ujung kepala. Belum pernah kurasa. Kunikmati.

Kulewati orang-orang di depanku, melompat persis di halte depan kampusku. Bukannya bergegas berjalan menuju kampus, aku berusaha mencari wajah lelaki tadi. Laki-laki dengan raut wajah tegas, rambut ikal dengan panjang sedikit di bawah kerah dengan mata jenaka di usianya yang kutaksir 5-6 tahun di atas umurku. Kurasakan mukaku memerah seakan aliran air panas menjalari aliran darahku saat kusadari lelaki itu pun sedang menatap ke arahku dari dalam bis. Dia tersenyum. Aku berdiri kaku.

Umurku belum genap 20 waktu itu. Pertama kali seorang lelaki memegang payudaraku.

***

Wajah lelaki itu kembali berkelebat di pikiranku. Badanku kembali meregang. Kusentuh payudaraku . Pikiranku melayang. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak pernah lagi kutemui raut muka itu di bis yang kerap membawaku ke kampus. Aku seperti orang kecanduan, naik turun bis yang sama setiap hari meski tidak ada kuliah yang harus kuhadiri.

Keputusan pemindahan tugas ayahku ke negri jiran membuatku harus menghentikan pencarianku, meski tak bisa menghentikan pikiranku yang kerap dipenuhi raut tegas laki laki dengan matanya yang jenaka itu.

***

Kucari candu di setiap laki-laki yang mampir di hidupku. Kamu seperti candu, kata mereka. Aku tak mau, aku mau canduku. Aku tak mau hanya jadi sekedar candu. Aku rindu rasa candu yang pernah aku rasakan 8 tahun lalu.

Bulan lalu, di suatu malam musim dingin di acara konferensi yang kuhadiri di suatu hotel kecil di negara berjarak puluhan ribu kilometer dari negriku, aku bertemu kembali dengan lelaki itu. Aku yang sudah berusia hampir 30, membawahi ratusan karyawan di perusahaanku nyatanya hanya seperti patung bisu ketika kembali bertemu dengan wajah itu. Dia tidak melihatku.

Di kamar hotelku, kubayangkan wajah yang sekarang terlihat makin matang dengan rambut-rambut halus di dagunya. Kusentuh payudaraku. Aku melayang.

Keesokan malamnya, aku tak sempat berkelit saat mata laki-laki itu menangkapku dan berlari menghampiriku. Aku membiarkannya menggandeng tanganku, mengikuti langkahnya memasuki lift menuju kamar di sudut dengan pemandangan danau Lucerne yang tenang dengan permukaannya yang berkilau. Sensasi di bis bertahun lalu datang kembali seperti candu. Jari-jemari menjelajahiku. Badanku meregang bersandar di balik pintu. Badanku melayang, meregang, melayang.

Giliranku menjadi candu. Kubiarkan dia menghisap semua sariku. Sekali. Dua kali. Sampai sinar matahari memantul di permukaan danau menyilaukan penglihatan dari peraduan kami. Aku tersenyum kali ini, menikmati mata jenaka di depanku.

***

“Kamu tidak menyesal kan dengan dengan keputusanmu?” pertanyaan Rara menarikku dari lamunanku. Aku tahu ke arah mana pertanyaan itu. Aku hanya tersenyum

Tujuh hari yang lalu kuputuskan tali pertunanganku dengan anak kerabat ayahku. Delapan tahun kutunggu, aku tahu hanya satu lelaki yang bisa membuat ragaku menyerah, meregang dan terbang melayang. Telah kutemukan canduku.

buat kamu, selalu!

15 Comments

 

« Previous Entries