Tentang Ubud writer and reader festival

15th Oct 2009



Seperti gue tulis di postingan gue sebelumnya, weekend lalu untuk pertama kalinya gue ngikutin acara Ubud writer and reader festival.

Tahun2 sebelum2nya gue udah sering denger soal event ini, tapi ga pernah kepikiran untuk datang.

Gue sempat ngebahas hal ini dengan my travel mate, yg barengan gue ngikutin acara ini. Btw, gue ma temen gue ini ga ngikutin semua acara. Tapi dari situ gue sama dia sama2 bingung. Acara sebagus ini kok peminatnya ga terlalu heboh ya? Maksud gue orang Indonesianya, considering event ini kan diadakannya di negara sendiri?

Akhirnya kita iseng2 bikin analisa asal2an:

- Kalo menurut temen gue, karena event ini sepertinya ditujukan buat para expat atau bule. Gue sempat menyanggah pendapatnya soal hal ini. Tapi dia berpendapat demikian karena menurutnya iklan2 acara ini lebih banyak terdapat di media2 dengan komunitas pembaca expat, misalnya koran2 dan majalah berbahasa Inggris. Hmmm …..

- Kalo menurut gue, tadinya gue berpikir bahwa event ini hanya ditujukan untuk para penulis aja, karena namanya itu. Ubud writer festival. Padahal nama sebenarnya kan Ubud writer and reader festival. Well, intinya gue ga pernah ngeh bahwa acara ini sebenernya bisa buat siapa aja, yang tertarik dengan segala macam bentuk bacaan. Karena toh seorang penulis tidak akan bisa dikatakan menjadi seorang penulis yang sukses kan bila tidak punya pembaca? ;)

- Kalo menurut gue lagi, memang untuk event2 seperti ini peminatnya tidak akan sebanyak acara musik, misalnya. Yah mau gimana lagi, memang begitu kenyataannya kan? *sigh*

- Menurut gue dan teman gue, sebenarnya harganya juga ga mahal-mahal amat kok. Kalo memang ga punya budget besar, ikutin aja acara2 gratisannya, seru juga kok.

- Menurut gue lagi (kok banyakan guenya ya), gue rada malu juga kemarin pas mengikuti acara itu karena si bule2 itu tiap tahun menjadwalkan waktu untuk ke Ubud mengikuti acara ini. Mereka ga semuanya writer lho, kebanyakan adalah reader, pencinta buku. (Gue nyariin orang indonesia pas acara diskusi dengan Vikas Swarup yg gue ikuti, ga ketemu euy. Dari sekitar 70 orang yg hadir, sebagian besar perempuan bule di atas 40 tahun,  ada juga sih laki2nya. Dan ada juga beberapa orang India)

So, shall I meet you all there next year? ;)

2 Comments

 

3rd Underground Secret Dining (USD) - kreasi “gila” empat “chef” muda

12th Aug 2009



Hohoho. USD is really addictive, you know? :)

Minggu lalu, untuk ketiga kalinya gue ikutan acara ini.

Tebakan gue nyariiiis bener semua. Dari petunjuk yang dikirim ke imel para peserta sehari sebelum acara, gue udah nebak pasti lokasinya Grand Hyatt hotel. Gue juga nebak 4 cowo-cowo yg gue pernah ketemu di USD pertama yang akan menyiapkan hidangan acara USD kali ini (gue sempet nguping waktu mereka asik cerita seru soal masak-memasak, jadi gue tau kalo mereka tuh anak2 kitchen).

Tapi gue nebaknya acara ini bakal diadain di salah satu resto di grand hyatt. Meskipun gue jadi berpikir2 ….ya ga seru dong ya kalo gitu. Apa spesialnya makan di salah satu resto di situ? Gue asik sibuk tebakan2 sama sobat gue yang juga ikutan acara ini.

Well..akhirnya gue pun tersenyum senang waktu the organizer of the programme membawa kita ke ….lift di grand hyatt…..menuju ke …….. grand executive suite!

Begitu masuk, alunan musik jazz lembut ditambah lampu yang sedikit temaram menciptakan suasana yang hangat dan akrab. Gue dan peserta yang lain disambut dengan welcome drink berupa minuman dingin yang dinamakan batavian soda. Rasanya suegerrr, tapi sesudahnya terasa hangat. Kok bisa? Iya, soalnya batavian soda ini menggunakan resep bir pletok (yg mengandung jahe) tapi kemudian dicampur dengan soda dan es batu.

Setelah itu kita diajak menikmati canape yang sudah tersedia di meja. Dan mulailah Lisa, salah satu penggagas ide USD di Indonesia ini menjelaskan tema USD malam itu yaitu Indonesian contemporary cuisine.

Canape yang pertama gue coba diberi nama ballad of aubergine. Ini adalah potongan roti baguette yg di atasnya dikasi potongan terong cabe hijau. Paduan yang ciamik antara roti perancis yang renyah dan kelembutan terong. Just like bruschetta, but instead of using tomato, they use eggplant. Like it. Like it.

Yang kedua gue coba adalah summer sprout. Ini adalah tahu goreng yang disajikan dengan sambel petis. Tapi kali ini yang digunakan adalah tahu sutra untuk menghadirkan tekstur yang beda. Meskipun bukan rasa yang istimewa, tetap gue merasa ini ide yg asik buat canape.

Canape ketiga dinamakan chicken leak, yang sebenarnya adalah potongan dada ayam yg disajikan dengan sambal matah khas bali. Naahh, ini juara! Meskipun gue harus menyingkirkan bawang merah mentah (gue musuhan sama bawang merah mentah he3) yang ada di atasnya, gue menikmati betul rasanya. Bauran beragam bumbu berpadu menghasilkan rasa yang pas.

chicken leak

Setelah semua peserta datang (kali ini cuma 8 peserta dalam 1 shift), kita pun diajak duduk di meja makan yang sudah disediakan. Hmm.. this time is really a formal dining. A full table setting - cutlery sets, black folded napkin and water goblet! Sayang ga ada wine hahaha.

Yang pertama disuguhkan adalah sup consomme oxtail, dengan potongan kecil-kecil daging buntut panggang yang empuuukk disajikan di side plate.

Makanan utamanya dinamakan Spicy Pink from Kabau Sirah. Yang bikin gue takjub adalah ide untuk memadukan norwegian salmon dengan nasi jaha (nasi khas manado  yang terbuat dari beras ketan dan diberi bumbu, digulung dalam daun pisang muda, dimasukkan ke dalam bambu dan dipanggang. Di Sumatera Barat atau Utara dikenal dengan nama lemang). Belum lagi ternyata saus yang digunakan adalah saus asam padeh - saus khas dari Sumatera Barat. Edan kan? Gue langsung anti sosial, ga ikutan ngobrol dengan para peserta lain. Menikmati persinggungan western and indonesian flavour dalam satu hidangan.

Hidangan penutup? Ini dia yang gue tunggu2. Pie dengan isi bubur ketan putih dan hitam yang dicampur jadi satu. Pie crustnya sendiri juga terbuat dari ketan hitam. Disajikan dengan ice cream vanilla. Rasanya? Jangan tanya. Sobat gue sampai mau nambah (sayang ga ada lagi). Teman lain yang ikut dan duduk di sebelah gue sampai speechless, terlena dengan nikmatnya pie satu ini.

Kalau bicara soal Indonesian contemporary cuisine, gue selalu ingat komentar salah satu murid gue di kelas yang bilang begini ,” makanan Indonesia ga asik bu, ga bisa diapa2in, tampilannya jelek, ga kaya makanan eropa yang tampilannya bisa dibikin cantik”. Gue inget waktu itu gue langsung “meradang” dan memberi penjelasan panjang.

Di acara USD yang ke 3 ini empat  anak muda yang punya kecintaan luar biasa terhadap makanan (tak terkecuali makanan Indonesia) sudah membuktikannya! Siapa bilang makanan Indonesia ga bisa tampil cantik dan modern?

PS : I salute you guys. ;)

9 Comments

 

Komodo Bali?

11th Aug 2009



Bali Renon, Jumat (31/7). Dalam aksinya Forum Peduli Komodo menolak pemindahan Komodo dari habitatnya di Pulau Komodo ke Taman Safari Bali.

Para peserta aksi juga mendesak Menteri Kehutanan untuk mencabut SK No.384/Menhut-II/2009 tentang pemberian ijin penangkapan komodo dari habitat aslinya. Hal ini dinilai melemahkan posisi tawar komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Koordinator Aksi Roby Gamar menyatakan alasan pemindahan komodo dengan alasan pemurnian genetik dil uar habitat aslinya sangat mengaada-ada.

”Alasan pemindahan itu sangat tidak masuk akal, hanya karena alasan pemurnian genetik dia diambil dari habitat aslinya justru dengan diambil dari habitat aslinya mempercepat proses pemusnahan,” ujar Roby Gamar.

Roby menyebutkan pemindahan komodo dari habitat aslinya menunjukkan lemahnya tanggungjawab pemerintah dalam pelestarian komodo. Dimana pemerintah seharusnya melakukan rehabilitasi terhadap habitat komodo. (mlt)

sumber : http://www.beritabali.com

Pffff… ada apa sih dengan para pejabat negara ini? Semua hal cuma mau cari short cutnya aja, tanpa benar-benar diselesaikan dan cari jalan ke luar.

Gue sebener2nya pingiiinnnnn banget ke pulau Komodo untuk melihat langsung komodo2 itu. Apa daya, mahal banget euy. Gue udah cari2 info, biaya per orang sekitar 6-7 jutaan. Belon lagi susah banget buat nyari temen yang mau pergi bareng ke sana. Respon yang gue terima kira2 seperti ini : Gila! 6 juta cuma buat kadal raksasa, please deh Ri. Atau …Ga ah gue takut. Atau … mendingan ke luar negeri kali kalo kudu bayar segitu.

Well…memang akhirnya gue ga jadi ke Pulau itu liburan kemarin dan memilih liburan di negara tetangga.

Tapi ..sepingin2nya gue ngeliat spesies unik yang cuma hidup di salah satu pulau di timur Indonesia itu, gue ga rela kalo mereka harus dipindahkan ke Bali.

Bukankah sebaiknya akses ke Pulau Komodo dipermudah, bapak2 pejabat? Jadi kami2 yang ingin pergi ke sana tidak harus repot dan membayar mahal untuk menyaksikan salah satu keunikan dari tanah air ini *tssahhhh sok nasionalis ah gue* hehehe

Iya kan? Iya kan? *ayo tolak komodo dipindahkan ke Bali!!*

3 Comments

 

The hiatus is over :)

11th Aug 2009



Hmmmm.. giling ..udah berapa lama blog ini gue anggurin. Bukannya ga gue tengok sih. Gue tengok tapi begitu mau nulis kok ya maleeess banget.

Kenapa? Kata temen gue sih karena gue kebanyakan kerjaan, sana sini, semua dikerjain. Masa sih?

Well, mungkin ..mungkin juga …

Apalagi dua minggu kemarin kerjaan gue bikin capek banget euy, I mean physically.

Tapi, don’t worry. I’m back. Thanks buat tipis dan bocah gemblung yang selalu tiba2 nongol di YM gue nagih kok gue ga pernah ngeblog lagi he3.

So.. gue udah balik dari masa hiatus gue and siap blogging lagiiiii :D

4 Comments

 

2nd Underground Secret Dining (USD) - Bukan rendang biasa ;)

9th Jul 2009



USD aka Underground Secret Dining yang kedua diadakan hari Minggu, 5 juli kemarin. Sudah bisa ketebak, gue mendaftar lagi.

Sesuai permintaan beberapa teman yang sempat ngomel2 pas gue posting soal USD yang pertama,”kok ga ngajak sih? kok ga dikasitau sih? kok ga inget2 gue sih kalo ada acara seperti ini? dan kok ini dan kok itu lain” - gue forward lah info USD yang kedua tersebut.

Tapi yah..seperti yang gue bilang ke inang bocor halus yg barengan ma gue ikutan acara ini “Cuman penikmat makanan sejati yg emang beneran mau ikutan acara ini”. Akhirnya gue, inang n partner in crimenya aja yg jadi ikutan.

Yang sempet ribut2 ga gue ajak, akhirnya ga jadi ikutan juga *pisssss ah*

Sesuai dengan tema dari USD, para peserta yg udah konfirm baru diberitahu satu/dua hari sebelum hari H-nya akan kemana kita dibawa. Berdasarkan clue yang dikasi, salah satu clue menyebutkan dekat danau, gue dan sobat gue sibuk tebak2an, cibubur lah, depok lah, tapi ternyata … lokasinya di deket kawasan kampung betawi yang dilestarikan alias situ babakan. Aha!

Memang sebelumnya dikasitau kalo kali ini kita ga akan keluyuran hunting makanan. USD kali ini akan berkumpul di rumah seorang ibu yang akan menyajikan makanan khas suatu daerah. On the way ke TKP gue nebak2, jangan-jangan yg akan disajikan adalah makanan khas betawi *secara lokasinya di deket situ babakan*

Tapi ternyataa…. yg disajikan kali ini adalah makanan khas dari Sumatera Barat, lebih tepatnya dari Payakumbuh.

Nyonya rumahnya yang bernama Ibu Nani sudah menyiapkan ikan bilis balado, rendang daun kayu, pangek cubadak, sambal sayak dan rendang talua.

Yang langsung merebut perhatian gue tentu saja yg bernama rada aneh. Bener, rendang daun kayu! Ternyata ini adalah 21 macam daun pepohonan dan diolah menjadi rendang. Istilah kerennya vegetarian rendang hehehe. Karena memang tidak menggunakan daging sama sekali. Tapi rasanya? Jangan ditanya. Loe pasti ga ngeh kalo itu semua hanya hanya sayatan dedaunan yg dibumbu rendang. Sssttt ibu Nani bercerita bahwa dedaunan ini dikirim langsung dari payakumbuh.

Makanan kedua yg menarik perhatian gue adalah rendang talua. Bentuknya seperti lempengan kentang goreng yang diiris tipis. Rasanya renyah. Tapi ternyata itu adalah putih telor yg dikukus kemudian digoreng dan dimasak sambal. Gue yakin kalo loe ikutan, loe juga ga akan nebak kalo itu adalah putih telur.  Putih telur itu jadi terasa crispy.

Berdasarkan cerita sang nyonya rumah, masakan payakumbuh agak berbeda dengan daerah lain di Sumatera Barat. Mereka tidak terlalu banyak menggunakan daging,  yang banyak mereka gunakan adalah ikan atau sayuran. Setelah gue nyicipin makan masakan yg tersedia, menurut gue masakan payakumbuh juga terasa lebih mild, bumbunya tidak terlalu kuat.

Pangek cubadak sendiri kira-kira sejenis gulai nangka. Tapi nangkanya tidak dipotong kecil2, tapi dibiarkan besar2 seperti potongan semangka. Gue ga ngefans sama nangka, tapi gue nguping komentar peserta USD yg lain, banyak yg jatuh hati dengan pangek cubadak ini.

Balado ikan bilis, sayur singkong, cabe hijau dan sambal sayak melengkapi makan gue siang itu. Yang paling bikin gue kepincut yah dua makanan tadi, rendang daun kayu dan rendang talua.

Oh ya satu lagi. My sweet tooth langsung berloncat2 kegirangan begitu ngeliat cendol ampiang dadih yang disiapkan di sudut ruangan. Tidak beda jauh dengan cendol biasa, hanya saja isi di dalamnya ditambah ketan, dan durian. Mmmm. Rasa cendol, gula jawa, santan, ketan, durian berpadu sempurna (dapat salam dari diet carboooo)

Gue dulu pernah nyoba ampiang dadih di Bukit Tinggi. Setahu gue ampiang dadiah ini menggunakan susu kerbau yg didiamkan dan disimpan satu atau dua hari sampai berbentuk gumpalan krim. Baunya cukup menyengat. Tapi ampiang dadih yg gue nikmati kemarin ini sepertinya sudah dimodifikasi, jadi cuma menggunakan santan, gula jawa dan pakai cendol pula :)

Hmmm. Gue pribadi lebih menyenangi USD yg sebelumnya. Lebih seru, rasanya lebih berpetualang. Meskipun gue sih hepi2 aja dengan USD yg ini. Karena gue ngerasa, makin banyak kita kenal dan tau soal kuliner bangsa sendiri, lebih mudah buat kita buat mencintainya *uhuyyyyy*

Gue jadi teringat dulu waktu on the job training di Lucerne, Switzerland, restoran tempat gue training itu menyajikan suatu menu pas summer. Namanya Mumbai chicken salad. Mumbai = Bombay. Chicken salad dengan rasa light curry di dressingnya. Enak bangettt. Temen kuliah gue orang India yg kebetulan barengan sama gue training di resto itu langsung tersenyum bangga, wuih ada masakan india di resto ini. Gue cuma senyum aja. Ga terlalu pusing mikirin.

Tapi itu dulu. Sekarang kalo inget itu gue “keganggu” juga. Gue pengen banget menu2 Indonesia nyelip di antara menu2 di resto negara2 lain (Kecuali di Belanda ya). Sama casualnya seperti loe nyebut spaghetti bolognese yg berasal dari kota bologna italia, atau greek salad atau szechuan chicken atau phad thai atau banyak lagi menu2 lain dari seantero dunia. (Keinginan gue ga berlebihan kan?)

Ada banyak cara buat lebih tahu dan cinta kuliner bangsa sendiri, salah satunya ya ngikutin acara rutin yg diadain azanaya ini :) *gue ga lagi ngiklan lhoooo :)*

7 Comments

 

« Previous Entries