4th Feb 2010
Di sela-sela kesibukan gue menjadi ‘buruh’ di suatu organisasi non profit di Jakarta, gue juga ‘membantu’ seorang sahabat, seorang fengshui consultant yang sering menjadi seorang narasumber di berbagai acara, baik di televisi maupun radio. Ga jarang juga sahabat saya ini diminta untuk mengisi kolom2 di majalah atau media cetak lainnya.
Nah, biasanya di akhir kolom tulisannya di media cetak, rekan ini akan mencantumkan alamat email bagi mereka yang ingin untuk melakukan konsultasi lebih lanjut mengenai feng shui, mian xiang (salah satu ilmu metafisika cina yaitu membaca karakter seseorang melalui wajahnya) ataupun membaca garis hidup melalui tanggal dan jam lahir (biasa disebut bazi- dibaca : pa’ce). Nah, kali ini karena ingin mengetahui respon pembaca lebih lanjut, maka kita mencantumkan nomor telpon yang bisa dihubungi. Dan dicantumkan lah nomor hp gue di media cetak tersebut.
Guess what? Well, emang banyak sih yg sms. Tapi ada beberapa pertanyaan yang buat gue ajaib banget sampe bikin gue ketawa gegulingan n ada juga yg bikin gue pengen banting telpon hehehe *lebay*
Anyway, ini dia beberapa sms yg masuk tersebut :
“Halo Om. Please ramalkan aku. Wajah saya mirip jay chou tapi giginya boneng” (gue berusaha ngebayangin tapi ga berhasil juga hehehe)
*****
“Saya seorang wanita single, 36 tahun, belum mendapat jodoh. Bagaimana kalau mau konsultasi”
dan gue jawab bahwa gue akan atur jadwal ketemu kalau memang tertarik untuk konsultasi blablabla.
Dan dijawab lagi:
“mahal ya? Saya pegawai negeri sipil gol IIIA. Bapak bisa menerima askes?
(Dan gue pun tiba-tiba berasa pengen banting telpon)
*****
Atau pernah juga pas bicara soal tahi lalat di salah satu radio swasta, dan seorang pendengar laki2 mengirimkan sms seperti ini
“Di anu saya ada tahi lalat. Berarti saya kuat begituan ya” (Ini niat tanya apa nyari pengakuan ya? hihihi)
*****
O iya belum lama ini juga ada yang telpon, nanya ini:
“Saya lahir tahun 1969, tapi ga tahu tanggal lahir saya. Bapak bisa tahu ga ya?” (Sumpah, gue langsung bingung mau jawab apa?
)
1 Comment
1st Feb 2010
Lagi iseng browsing ide buat dekor rumah, eh ‘kesasar’ ke http://rumahkayubekas.wordpress.com, dan ketemu satu postingan menarik ini.

Buat dudukan papan yang bisa/ ngga mesti, dilubangi sedikit lebih kecil dari lingkaran dispenser.
Pasang 4 roda disetiap ujung.
Ketinggian papan alas sama- dengan papan bawah pantry kita.Begitu juga dengan ukurannya. Agar saat terpasang dan tertutup, ruang tetap terhindar dari masuknya tikus dan teman2nya.
idenya adalah, air dalam dispenser dihisap dengan pompa aquarium kecil( 25 watt) melalui pipa kecil/ tombol diatas meja.
Keluar dari pipa lengkung…

Keren yah idenya? (ngarep banget ada yg bener2 bisa mewujudkan)
Selain keliatan lebih cantik dan rapi, ide ini pas banget buat rumah yg isinya pere semua, jadi ga perlu angkat2, ya toh? 
1 Comment
30th Dec 2009
Setelah hampir 30 tahun bersarang, hari ini gue (with my younger sis) memindahkan “sarang” kita ke sisi lain Jakarta (masih di sekitaran barat juga sih).
Doain ya, supaya tempat berlindung baru ini menjadi tempat yang berkah dan bikin betah 
5 Comments
29th Dec 2009
Salah satu alasan gue pergi ke Trenggalek, sebuah kota kecil di Jawa Timur belum lama ini sebenarnya karena mau menghadiri khitanan keponakan.
Ternyata acara sunatan di daerah cukup “meriah” dan “unik”, paling tidak menurut gue yang besar di ibu kota.
Ketika semua undangan sudah hadir, sambil duduk lesehan doa2 pun mulai dipanjatkan, mendoakan kesehatan dan segala hal yang baik untuk yang dikhitan. Seselesainya, pemimpin acara meminta yang dikhitan untuk meminum air kembang beberapa teguk (gambar: mangkok warna pink yang berisi daun, kembang dan tebu). Setelah itu, ibunda dari yang dikhitan juga diminta untuk meminum air tersebut sebelum akhirnya daun2 dan bunga2 tersebut dibuang di jalan depan rumah.

Kemudian, tampah dan wadah berisi beragam makanan dikeluarkan. Beberapa undangan yang mendapat ‘tugas’ membagi isi tampah itu pun mulai melakukan kerjanya.
Tampah pertama berisi beberapa ekor ayam panggang, yang kemudian dipotong-potong menggunakan tangan (menurut aturannya tidak diperkenankan menggunakan pisau). Wadah berikutnya berisi campuran nasi kuning dan nasi gurih (nasi uduk). Tampah2 lain isinya lauk2 nasi tersebut, kue2 dan cemilan. Dengan menggunakan kombinasi isi tampah dan wadah2 ini, dibuatlah nasi bungkus lengkap dengan cemilannya dan diberikan kepada setiap orang yang hadir untuk dibawa pulang. Dulu sih untuk membuat nasi bungkus ini pake daun pisang, sekarang sudah diganti dengan kertas.


Selain nasi bungkus, setiap undangan juga mendapat bingkisan berupa rantangan yang isinya juga makanan dan kue2.

Hal lain yang lucu (? hehe) menurut gue adalah bentuk kue apemnya, kenapa dibentuk seperti itu ya? hihihi
2 Comments
26th Dec 2009
Banyak orang mungkin belum pernah mendengar nama kota di Jawa Timur ini. Well, I my self, might never think of visiting this town if not because of my eldest sister who has been living here for years. (she runs a business here)
Anyway, seperti biasa setiap gue pergi ke suatu daerah, gue pasti menyempatkan (baca: bela2in) nyobain makanan khasnya.
Nasi pecel
Nasi pecel ga mungkin lepas dari makanan sehari-hari orang Jawa, khususnya Jawa Timur. Biasanya bumbu pecelnya relatif pedas dan yang jelas freshly made everyday. Masing-masing daerah di jawa punya kekhasannya sendiri soal campuran daun-daun yang digunakan dalam nasi pecel ini. Nah, kombinasi sayuran yang dipake di satu resto pecel paling ternama di kota ini adalah : rebusan daun kenikir, kecambah (toge kecil), irisan timun dan pucuk daun kemangi. Peyek kacang sudah pasti jadi gandengannya. Di resto pecel yang gue coba ini (mereka buka dari jam 6 pagi! sampe sekitar jam 2 siang), juga dijual ayam goreng kremesan buat padanannya. Wuih…ayam kremesnya nyeeesss. Setiap pagi gue udah pasti ribut minta dibeliin nasi pecel lengkap ini buat sarapan

Nasi pecel gunung
Di pagi kedua, gue minta dibelikan pecel yang dijual di daerah pegunungan trenggalek, kira2 berjarak 30 menit dari kota dengan mengendarai motor. Beberapa orang mungkin berkomentar lah pecel ya pecel lah, di mana2 sama. Wuih itu salah besar coy
. Pecel gunung yang gue nikmati di pagi hari ini bumbunya lebih medok, lebih pedas, lebih kental. Sayuran yang dipakai hanya bayam dan tauge. Padanannya lagi2 peyek kacang. Di sini ndak ada ayam gorengnya. Teman makan lainnya ada tempe goreng, tahu goreng dan telor asin.
Nagi geghok
Ini nasi khas masyarakat pegunungan sini. Nasi dengan taburan oseng teri pedas di atasnya kemudian dikukus. Mirip seperti arem2. Pedasnya mak jooosss, mantab. Pasangannya perkedel tahu.

Nasi pindang
Ini juga biasa tersedia di depot2 (resto kecil) di kota ini. Istilah pindang bisa jadi sangat berbeda pengertiannya di daerah yang berbeda di Indonesia. Pindang palembang berarti ikan patin atau iga dengan kuah bening asam2 pedas. Di jawa Timur, pindang berarti daging dengan kuah rawon (yang berarti menggunakan kluwak), tetapi ditambahkan banyak cabe rawit utuh. Kalau memesan nasi pindang maka biasanya penyajiannya ditambah dengan serundeng. Yum yum.

Besok gue masih mau hunting nasi lodho. Kabarnya nasi lodho yang juara rasanya letaknya di perbatasan trenggalek dan tulungagung. Hmmm mudah2an masih sempet mampir ah 
1 Comment