Bagian tak bernama

10th Mar 2010



Saat sedang mengerjakan sebuah terjemahan mengenai “Chinese Face Reading”, saya terbentur dengan sebuah kata dalam bahasa Inggris untuk dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Saya cari di kamus, ndak ada. (Apa kamus saya yg kadaluarsa? ;) )

Anyway, kata yang saya maksud adalah Philtrum. Pernah dengar?

Philtrum adalah bagian dari wajah, tepatnya  di atas bibir, di bawah hidung, bentuknya seperti ceruk kecil.

Saya penasaran, sempat menanyakan ke beberapa teman, tapi tidak ada yang berhasil memberikan saya jawaban yang memuaskan.

Saya : Ini namanya apa dalam bahasa Indonesia? *sambil memegang philtrum saya*

Teman 1 : Hmmm.. apa ya? Ga tau ah. Ga ada kayanya dalam bahasa Indonesia

Teman 2 (seorang Jawa) : KALEN

Saya: serius? Ini namanya kalen?! *sambil lagi2 menunjuk philtrum saya*

Teman 2: ga tau deng. hehehe. tapi kan bentuknya kaya kali (sungai), bahasa jawanya kali ya kalen.

Teman 3 : ceruk hidung

Teman 4: lekukan di atas bibir

Teman 5: hmmm iya ya? apa ya namanya? kayanya ga ada ya padanannya dalam bahasa Indonesia.

Yang paling konyol, waktu saya tanya hal yang sama ke adik saya

Saya : Ini namanya apa? *sambil menunjuk philtrum saya*

Adik : (dengan capet dan yakin menjawab). JEMIWIR

Saya : hah???? (sambil tertawa ngakak) Dapat dari mana istilah itu?

Adik: ga tau, kayanya pas aja namanya, JE MI WIR (dan dia pun ikut tertawa karena jawaban ngaconya)

image source : http://en.wikipedia.org/wiki/File:Philtrum.jpg

Nah, ada yg bisa bantu saya? ;)

1 Comment

 

Dua perayaan, satu tanggal

15th Feb 2010



Jam 14:00, Krispy creme, Senayan City

Sepasang anak muda bercengkerama di bangku-bangku empuk bersalur warna hijau teh di sebelah kiriku. Sang perempuan menyuapi potongan donat dengan lumeran coklat di atasnya ke lelaki muda di sebelahnya. Sepasang anak muda tertawa riang. Tak ada beban.

Seorang perempuan dan laki2 muda  lain datang, duduk di bangku-bangku empuk bersalur di depanku. Bertukar minuman. “Cobain deh”, begitu kata perempuan. Lelaki muda menyeruput minuman di atas meja. “Enakan punyaku”. Percakapan-percakapan kosong tanpa makna, menggangguku yang nyaris bersenggama dengan novel di hadapanku.

Jam 15:00

Kuputuskan untuk pergi ke lantai 5. Memilih film yang paling dekat jam tayangnya. From Paris with Love, sebuah film dari John Travolta. Tidak terlalu istimewa, tapi berhasil membuatku sedikit tertawa.

Jam 18:00

Teringat untuk membelikan kado untuk seorang sahabat. Satu jam kuhabiskan sebelum akhirnya berjalan ke arah kasir dan menyelesaikan pembayaran. Aku yakin dia pasti suka kadoku, senyum besar akan terpasang di wajahnya.

Jam 19:00

Berusaha mengingat isi kulkas di rumahku: gado2 sisa siang, semangka serta beberapa potong puding strawberry yoghurt yang kubuat Jumat kemarin. Kuputuskan untuk mencari tempat untuk bersantap malam. Not in the mood of  fancy food. Mie goreng Jawa di Food Hall, yang ternyata cukup pedas dan berhasil membuat mulas perutku pagi ini.

Jam 19:45

Pertahananku bobol di taksi.  Air mengambang hangat di mataku. Hari ini aku cuma pengen sendiri. Teringat seorang sahabat yang selama beberapa tahun terakhir acap kali menghabiskan waktu2 perayaan bersama. Valentine, Natal, Imlek, Lebaran, Idul Adha, 17 Agutusan dan masih banyak lagi. Hampir semua tanggal merah kita rayakan.

Kadang dengan meneguk bercangkir2 teh dan kopi beserta kue2 berselimut gula, bertabur keju, berlapis krim, di sudut sebuah coffee shop ternama, kadang makan malam lengkap di sebuah resto yang kondang dengan kepiawaian chefnya meramu beragam bumbu, kadang buffet dinner di sebuah hotel berbintang. Dan tak jarang pula kami rayakan tanggal-tanggal merah tersebut dengan buffet breakfast, sengaja bangun lebih pagi agar bisa menikmati sosis2 yang selalu kugilai dari dulu, bau harum omelette baru matang yang meruap, roti tawar di mesin pemanggang. Hmmm…..

Tapi kebiasaan kami merayakan tanggal2 merah ini tampaknya harus terhenti. Dan mudah2an hanya sementara. Stroke yang menyerangnya akhir tahun lalu mengharuskannya kembali ke kota kelahirannya, dirawat di sana.

Jam 20:00

Aku memencet nomor yang kuhapal dengan baik di memoriku.

“Happy Chinese New Year n Happy Valentine”. Suaraku kubuat seriang mungkin

“Aku sudah mulai bisa jalan tanpa tongkat sekarang”, begitu dia memulai cerita kondisinya.

………………..

PS : Get well soon, buddy! So we can celebrate the holidays again together, all year around.

4 Comments

 

My other side of life ;)

4th Feb 2010



Di sela-sela kesibukan gue menjadi ‘buruh’ di suatu organisasi non profit di Jakarta, gue juga ‘membantu’ seorang sahabat, seorang fengshui consultant yang sering menjadi seorang narasumber di  berbagai acara, baik di televisi maupun radio. Ga jarang juga sahabat saya ini diminta untuk mengisi kolom2 di majalah atau media cetak lainnya.

Nah, biasanya di akhir kolom tulisannya di media cetak, rekan ini akan mencantumkan alamat email bagi mereka yang ingin untuk melakukan konsultasi lebih lanjut mengenai feng shui, mian xiang (salah satu ilmu metafisika cina yaitu membaca karakter seseorang melalui wajahnya) ataupun membaca garis hidup melalui tanggal dan jam lahir (biasa disebut bazi- dibaca : pa’ce). Nah, kali ini karena ingin mengetahui respon pembaca lebih lanjut, maka kita mencantumkan nomor telpon yang bisa dihubungi. Dan dicantumkan lah nomor hp gue di media cetak tersebut.

Guess what? Well, emang banyak sih yg sms. Tapi ada beberapa pertanyaan yang buat gue ajaib banget sampe bikin gue ketawa gegulingan n ada juga yg bikin gue pengen banting telpon hehehe *lebay*

Anyway, ini dia beberapa sms yg masuk tersebut :

“Halo Om. Please ramalkan aku. Wajah saya mirip jay chou tapi giginya boneng” (gue berusaha ngebayangin tapi ga berhasil juga hehehe)

*****

“Saya seorang wanita single, 36 tahun, belum mendapat jodoh. Bagaimana kalau mau konsultasi”

dan gue jawab bahwa gue akan atur jadwal ketemu kalau memang tertarik untuk konsultasi blablabla.

Dan dijawab lagi:

“mahal ya? Saya pegawai negeri sipil gol IIIA. Bapak bisa menerima askes?

(Dan gue pun tiba-tiba berasa pengen banting telpon)

*****

Atau pernah juga pas bicara soal tahi lalat di salah satu radio swasta, dan seorang pendengar laki2 mengirimkan sms seperti ini

“Di anu saya ada tahi lalat. Berarti saya kuat begituan ya” (Ini niat tanya apa nyari pengakuan ya? hihihi)

*****

O iya belum lama ini juga ada yang telpon, nanya ini:

“Saya lahir tahun 1969, tapi ga tahu tanggal lahir saya. Bapak bisa tahu ga ya?” (Sumpah, gue langsung bingung mau jawab apa? ;) )

3 Comments

 

Dispenser pinter :)

1st Feb 2010



Lagi iseng browsing ide buat dekor rumah, eh ‘kesasar’ ke http://rumahkayubekas.wordpress.com, dan ketemu satu postingan menarik ini.

Buat dudukan papan yang bisa/ ngga mesti, dilubangi sedikit lebih kecil dari lingkaran dispenser.

Pasang 4 roda disetiap ujung.

Ketinggian papan alas  sama- dengan papan bawah pantry kita.Begitu juga dengan ukurannya. Agar saat terpasang dan tertutup, ruang tetap terhindar dari masuknya tikus dan teman2nya.

idenya adalah, air dalam dispenser dihisap dengan pompa aquarium kecil( 25 watt) melalui pipa kecil/ tombol diatas meja.

Keluar dari pipa lengkung…

Keren yah idenya? (ngarep banget ada yg bener2 bisa mewujudkan)

Selain keliatan lebih cantik dan rapi, ide ini pas banget buat rumah yg isinya pere semua, jadi ga perlu angkat2, ya toh?  ;)

1 Comment

 

My new nest

30th Dec 2009



Setelah hampir 30 tahun bersarang, hari ini gue (with my younger sis) memindahkan “sarang” kita ke sisi lain Jakarta (masih di sekitaran barat juga sih).

Doain ya, supaya tempat berlindung baru ini menjadi tempat yang berkah dan bikin betah ;)

5 Comments

 

« Previous Entries