Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h14047/sites/erikahahaha.com/www/wp-includes/cache.php on line 99

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h14047/sites/erikahahaha.com/www/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h14047/sites/erikahahaha.com/www/wp-includes/theme.php on line 576
Keabisan gaya melulu …

Kuliner Padang - Tidak melulu rendang dan gulai

4th Feb 2011



Apa yang biasanya kamu pesan kalau ke restoran Padang? Rendang? Gulai ayam? Gulai Otak? Gulai kikil?

Yang jelas itu semua saya hindari pas wiskul-an ke Padang beberapa waktu lalu.

Nyoba yang lain dong ah ;)

Saya dan teman-teman tiba di Padang pagi hari. “Guide” kami pun mengajak sarapan dulu, membelokkan kendaraan ke Resto Rajawali yang terletak di jl. Juanda. Rekomendasi saya di sini adalah Lontong Medan nya. Gado-gadonya boleh juga. Gado-gado Padang berbeda dengan gado-gado Jakarta. Bumbunya sama2 saus kacang, tapi isinya: tahu, kentang, telor rebus, daun selada, tauge dan mie kuning. Kerupuk dan bawang goreng ditabur di atasnya sebagai pelengkap.

Saat makan siang kami makan di Pantai Padang. Di sepanjang pinggir jalan terdapat banyak resto seafood yang menghadap laut. Bumbu bakarnya mantab. Ikan dan udangnya pun segar. (Iya lah wong deket banget sama laut)

Besoknya dalam perjalanan ke Bukit Tinggi, kami diajak mampir menikmati lontong gule paku di resto kecil bernama “Puncak Kiambang Asli”, letaknya di sebelah kiri jalan (dari arah Padang). Ini asli juara! Saya mengambil sala lauak sebagai teman makan lontong gule tersebut. Sala luak adalah cemilan berbentuk bulat khas dari daerah Pariaman, terbuat dari tepung beras dengan potongan ikan peda atau teri di dalamnya. Rasanya gurih2 asin. Tepat sekali berpasangan dengan kuah gulai pakis yang bersantan.

Di jalan menuju Payakumbuh kami mampir ke kedai nasi yang terkenal dengan hidangan khasnya yaitu Talua Barendo, atau telor bebek yang didadar dan dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi seperti renda. Selain talua barendo ini ada juga makanan lain seperi rendang, dendeng balado, sayur pepaya dan lain-lain. Saya sempat melirik melihat dapurnya yang masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Saat menikmati santapan di resto ini, terasa sekali bahwa makanan yang disajikan tidak menggunakan micin, meskipun begitu rasa makanannya tetap terasa sedap.

Di Bukit Tinggi kami makan malam di resto Famili Benteng yang berlokasi di dekat Benteng Fort de Kock. Ini yang benar2 tidak boleh dilewatkan. Ayam popnya enak gilaa. Pasangannya tentu saja sambal tomat. Orang-orang yg datang ke resto ini memang sengaja datang untuk memesan ayam popnya. Beberapa kali saya melihat beberapa kelompok orang yang datang dan langsung pergi, tidak jadi makan di resto ini saat diberitahu bahwa ayam pop nya sudah habis. Padahal baru jam 8 malam.  Mungkin karena pas week end juga. Resto Benteng ini juga punya cabang lain di Jl. Sudirman.

O ya, di perjalanan menuju Bukit Tinggi juga ada sate padang Mak Syukur yang wajib dimampiri.

Selain itu, gulai itiak lado mudo di daerah Ngarai Sihanok yang pedasnya luar biasa itu juga jangan sampai dilewatkan.

Happy eating!

8 Comments

 

Pajoeh-pajoeh di Aceh

16th Jan 2011



Senang sekali akhirnya saya bisa menyambangi Aceh, provinsi paling barat Indonesia. Buat saya hukumnya wajib saat pergi ke suatu daerah untuk mencoba beberapa makanan lokal alias berwisata kuliner. Dengan dipandu oleh rekan yang tinggal di Aceh, saya pun menikmati beberapa makanan dan minuman Aceh yang ciamik betul rasanya.

Kopi Aceh

Saya yang sedang mengurangi konsumsi kopi pun harus melupakan sejenak program saya ini karena terlalu sayang untuk melewatkan kopi Aceh yang terkenal enak itu. Kami diajak mampir ke salah satu warung kopi terkenal di Banda Aceh yaitu warung kopi Beurawe di jl. T Iskandar yang sudah beroperasi sejak tahun 1945.

Jauh sebelum coffee house menyebar di mal dan perkantoran di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, warung kopi di Aceh sudah menjadi bagian hidup dari masyarakatnya, khususnya untuk para lelaki Aceh. Adalah suatu hal yang rutin bagi kaum laki-laki di Aceh untuk kongkow di warung kopi, berinteraksi sosial dengan para pengunjung lainnya yang sebagian besar merupakan pengunjung tetap warung tersebut. Berbagai topik termasuk politik pun bisa menjadi bahan obrolan yang asik saat menikmati kopi Aceh beserta cemilannya.

Jangan membayangkan setting-an cafe yang fancy. Bentuk warung kopi di Aceh seperti sebuah restoran dengan banyak bangku, terbuka tanpa pintu, sehingga dari jalan kita bisa langsung melihat suasana di dalam warung kopi tersebut.

Pelayan yang menghampiri kami menanyakan jenis kopi yang kami inginkan, kopi biasa atau luwak. Dengan yakin, saya menjawab Luwak! Kopi Aceh saja juga enak, apalagi kopi Luwaknya Aceh. Hmmmm ….

Kopi dihidangkan dengan gelas kecil. Beberapa penganan kecil pun hadir. Yang paling menarik buat saya adalah canai manis, canai hangat yang dimakan dengan gula pasir. Kombinasi ciamik untuk kopi luwak Aceh yang rasa kopinya begitu kuat, and yet it so smooth.

Mau tahu harganya?  1 gelas kopi Luwak hanya Rp. 20.000 saja. Di Jakarta, satu cangkir kopi luwak harganya mencapai Rp. 80.000,- Canai manis harganya per potong Rp. 1000,-

Mie Aceh

Mie Aceh adalah salah satu makanan yang termasuk dalam daftar wajib saat wiskul-an ke Aceh. Kami sempat pergi ke dua rumah makan, yang pertama adalah Dhapu Kupi yang berlokasi di simpang Surabaya. Kebetulan kami datang ke restoran ini pas malam minggu, maka tidak heran tempat makan ini dipenuhi oleh orang-orang muda Aceh yang asik ngobrol sambil ngopi.

Rumah makan kedua yang kami datangi adalah rumah makan mie Aceh yang menjadi rekomendasi banyak orang yaitu rumah makan Razali dengan mie kepitingnya. Dua capit kepiting menyembul di antara timbunan mie hokkian yang rasanya sarat bumbu dan pedas khas Aceh.

Harga satu porsinya? Rp. 25.000 saja. Mantap kan?! ;)

Sambal udang dan tumis tiram


Selain mie Aceh, kulineri Aceh yang lain juga tidak kalah enaknya. Pada umumnya, bentuk dan penyajian makanan restoran di Aceh mirip dengan restoran Padang di Jakarta, makanan disajikan dalam piring-piring kecil di hadapan kita.

Menurut saya, paling tidak ada dua hidangan yang harus dicoba saat mampir ke resto Aceh, tumis tiram dan sambal udangnya. Produk makanan laut di Aceh terhitung murah dan segar. Tumis tiram yang dimasak dengan bumbu kari ringan berpadu dengan tekstur tiram yang lembut pun menjadi rebutan di meja kami.


Sambal udang di Aceh berbeda dengan sambal udang Padang. Warna dan rasanya lebih segar karena menggunakan belimbing wuluh. Udangnya pun dipotong kecil-kecil. Di salah satu restoran makanan Melayu di daerah Krekot - Jakarta, sambal udang ini dikenal dengan istilah sambal ganja.

Bakpia yang mencengangkan

Pada saat mengunjungi rumah seorang pengrajin sulam di daerah Pidi, bagian belahan timur Aceh, kami disuguhi bakpia. Terus terang, mulanya saya under estimate rasa bakpia tersebut. Tampilannya pun biasa saja. Tapi berhubung jam sudah menunjukkan waktu makan siang dan saya mulai lapar, saya pun mengambil bakpia yang dibungkus satuan dalam kemasan plastik dari piring hidangan yang disajikan.

Bakpianya masih hangat! Saya gigit dan kresss, mata saya langsung melotot, tidak menyangka dengan rasa yang ada di mulut saya. Adonan kulitnya begitu renyah, berlapis-lapis tapi tidak terlalu tebal, sehingga dengan cepat berbaur dengan isinya berupa kacang merah yang ditumbuk tidak terlalu halus dengan kemanisan yang tepat.

Seriously, this bakpia is one of the best bakpia i’ve ever tasted!

Aduh, rasanya saya ingin sekali segera kembali ke Aceh untuk menikmati kopinya yang legit dan makanannya yang sarat bumbu.

catatan: pajoeh = makan

12 Comments

 

After 6 years (or ..7?)

11th Dec 2010



  • 23 Desember 2002 saya memulai hari pertama saya di Neso (dulu: netherlands education centre). Sebelum diterima kerja di sini, saya pengeeennn banget kerja di non profit organization, kesannya keren ajah :)  Ternyata? ya gitu dehhh :D
  • Awalnya cuma dikontrak buat 6 bulan, tapi terus diperpanjang sampai akhirnya mengajukan resign bulan Oktober kemarin
  • Pertama kali denger soal Neso dari seorang teman, awalnya malah sempat kepikiran buat apply beasiswanya, eh malah jadi ngurusin para penerima beasiswanya.
  • Sempat keluar dari Neso selama setahun. Pas masuk lagi,  kerja cuma 3 kali seminggu. Hal yang sering bikin bingung dan ’sirik’ teman2 di luar Neso (di Belanda merupakan hal yang biasa buat kerja ga fulltime seperti itu)
  • Pertama gabung dengan Neso kantornya di citra graha, jl gatot subroto. Terus pindah ke menara jamsostek di gatot subroto juga. Total berkantor di jl gatot subroto jadi 12 tahun! (sebelumnya ngantor 6 tahun di kantor lain yang berlokasi di gatot subroto juga.
  • Dibandingkan dengan kantor2 lain tempat saya pernah kerja, cuma di Neso yang bisa tiap saat pulang tenggo. Bukan apa2, karena setiap jam 6 lampu dan ac pasti mati.
  • Sejak kerja di Neso, contact lenses pun berganti jadi kacamata lagi. Soalnya hampir semua teman2 kerja pakai kacamata, lagipula kayanya pas banget gitu ngurusin pendidikan/beasiwa kacamataan hihihi *apa coba*
  • Berkat Neso, cuma tinggal 2 provinsi di Indonesia yaitu Aceh dan Jambi yang belum pernah saya kunjungi. Thanks to yearly scholarships roadshow ;)
  • Di Neso, ‘mengurusi’ sekian banyak penerima beasiswa dari seluruh Indonesia, membuat saya punya banyak teman yang bisa dimampirin, dari ujung Aceh sampai Jayapura. Banyak di antaranya yang akhirnya menjadi teman baik bahkan sahabat.
  • Karena kerja di Neso, saya pun berkenalan dengan stroopwafel, kue kering khas belanda, yang rasanya muaniiss banget. Dan beberapa teman dekat saya pun ikut ketularan suka (Saya pernah bawa 10kg stroopwafel dari Belanda buat oleh2 n buat stock sendiri!)
  • Karena kerja di Neso, saya juga berkenalan dengan gerookte kaas (smoked cheese), yang sumpah rasanya enakkkk bangetttt.
  • Tiap tahun, jumat terakhir sebelum bulan puasa, di Neso diadakan “potluck party”, overflowing food for the whole day! Makanan bawaan andalan saya (dan biasanya karena permintaan teman2 kantor adalah puding coklat)
  • Tiap tahun, pas valentine, semua staf diminta memakai baju dengan nuansa pink, terus ada acara tukeran kado.
  • Tiap ada yang ulang tahun di Neso, pasti dikasi birthday cake, terus dinyanyiin lagu selamat ulang tahun.
  • Saya memberi ‘nama2 kesayangan’ untuk teman2 saya di Neso: jendela, macil, bocah gemblung, inang, mumut, gogoy, si tebar pesona, sruntul …

Malam ini, kantor tempat saya bekerja sejak tujuh tahun yang lalu mengadakan farewell party untuk saya.

It sounds a nice place to work, right?

Well, 6 tahun dah cukup lah ya, time to move on! I had 6 wonderful years there!

6 Comments

 

Sawo susu

7th Dec 2010



Sewaktu ke Salatiga beberapa bulan yang lalu, di seberang jalan masuk hotel tempat kami menginap, saya melihat seorang penjual buah dengan beberapa keranjang di hadapannya.

Mulanya saya pikir buah berwarna hijau bulat yang dijajakannya itu adalah jenis mangga. Saat dijawab oleh pak penjual bahwa itu adalah sawo, saya pun penasaran. Mencoba satu buah dan kemudian memutuskan untuk beli 1 kg untuk oleh2.

Namanya sawo susu, tidak seperti sawo biasa, warna dagingnya putih dan yak, memang seperti ada rasa susunya. Saya sih baru pertama kali ini tau ada jenis sawo seperti ini. Tadi iseng2 googling ternyata ada juga jenis sawo lain, yaitu sawo mentega, warnanya agak kuning dan rasanya buttery gitu. Interesting, eh?

3 Comments

 

Polvoron!

5th Dec 2010



Pernah denger polvoron? Saya pertama tahu penganan .. atau permen ini kira2 10 tahun lalu, sewaktu kerja di daerah kebayoran dan bos saya, seorang filipino-amerika ngasi saya permen ini sewaktu dia baru pulang kampung. Kelihatannya sih kaya madu mongso (makanan jawa, ketan hitam dimasak dgn santan dan gula dijadikan semacam dodol, rasanya asam manis, dibungkus kertas transparan warna warni)

Eh taunya, begitu dibuka dan dicoba ..hmmmm kempyurrrr rasanya milky banget, mawur-mawur (hihihi jawa banget yak bahasanya? :P)

Anyway, memang polvoron ini dibuat dari campuran antara tepung, susu bubuk, gula dan butter (supaya bisa nyatu). Yah, berhubung saya emang suka banget dengan dairy products alhasil I fell in love with this filipino milk candy at first bite!

Masalahnya, begitu saya resign dari kantor itu saya bingung nyari di mana? (Kalo dulu si bos kan suka dapet kiriman langsung dari filipina).

Nah, saya baru ingat bahwa pemilik muffin house yg ada di beberapa mal itu adalah seorang filipina, iseng2 saya longak longok ke dalam tokonya, dan ..voila! saya liat polvoron dengan beberapa rasa (ada yg pake kacang mede, oreo, coco crunch dll) di toples2 bening! Hohoho! sekarang saya tahu kudu beli ke mana kalo lagi ngidam permen susu ala filipina ini.

Kayanya bikinnya gampang deh, ntar ah kapan2 bikin sendiri ;)

image source: http://sapi-moo.110mb.com/index.html

3 Comments

 

« Previous Entries